ZONAUTARA.com – Negara-negara Teluk saat ini sedang mempertimbangkan strategi keamanan baru setelah perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mengganggu stabilitas kawasan dan merusak ekonomi mereka. Meski situasi mulai pulih, ancaman dari Iran masih dirasakan kuat, terutama dengan keberadaan pangkalan militer AS yang menjadi sasaran potensial balasan Iran.
Keberadaan Iran di Selat Hormuz, jalur perdagangan vital, menjadi perhatian utama negara-negara ini. Iran, dalam kesepakatan gencatan senjata pekan ini, bersikeras untuk tetap menjaga posisinya di jalur tersebut. Selat ini menjadi salah satu topik utama dalam negosiasi yang dijadwalkan antara AS dan Iran di Islamabad, yang akan dimulai secepatnya Jumat ini.
Selama konflik lima minggu, negara-negara Teluk berhasil mencegat sebagian besar serangan rudal dan drone Iran, yang mereka klaim sebagai bukti kemampuan pertahanan mandiri. Namun demikian, ada perpecahan di antara mereka terkait bagaimana seharusnya hubungan dengan Iran dibangun ke depannya. Uni Emirat Arab dan Bahrain cenderung mengadopsi pendekatan yang lebih keras, sementara lainnya berharap meredakan ketegangan melalui hubungan diplomatik.
Sementara itu, Arab Saudi dan Iran telah melakukan kontak resmi pertama kali sejak konflik dimulai, melalui percakapan telepon antara menteri luar negeri kedua negara. Pembahasan difokuskan pada pengurangan ketegangan demi memulihkan stabilitas.
Menurut Profesor Bader Mousa Al-Saif dari Kuwait University, negara-negara Teluk perlu menjajaki kemitraan baru dengan negara seperti Turki dan Pakistan, yang memiliki militer besar, untuk mendiversifikasi keamanan kawasan. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah mulai menandatangani perjanjian pertahanan dengan beberapa negara seperti Pakistan, India, dan Ukraina, sementara gagasan ‘NATO Muslim’ dinilai kecil untuk terealisasi sepenuhnya karena persaingan internal dan fokus yang belum jelas.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

