ZONAUTARA.com – Konflik di Timur Tengah kembali memanas dengan meningkatnya tindakan militer Israel di Lebanon, yang dinilai sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menghambat perdamaian di wilayah tersebut. Menurut Presiden Pusat Studi Timur Tengah, Murad Sadygzade, operasi militer Israel ini tidak hanya terkait dengan taktik menahan Hizbullah, melainkan lebih kepada membentuk ulang realitas militer dan politik di selatan Lebanon.
Sadygzade menjelaskan bahwa pembentukan “zona keamanan” sebenarnya merupakan kontrol wilayah jangka panjang, yang memungkinkan depopulasi perbatasan dan penciptaan fakta baru yang sulit dibalikkan. Menteri Pertahanan Israel secara terbuka menyebutkan target zona keamanan hingga Sungai Litani, sedangkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berbicara tentang perluasan area tersebut.
Kondisi ini diperparah dengan serangan besar yang terjadi pada 8 April, di mana lebih dari 100 target Hizbullah di Beirut dan Lebanon selatan diserang oleh Israel. Otoritas Lebanon melaporkan 254 korban tewas dan lebih dari 1.100 orang terluka. Menghadapi eksodus lebih dari 1 juta orang, serangan ini disebut sebagai “pembantaian” oleh Komisaris Tinggi HAM PBB.
Analisis Sadygzade menunjukkan ada kepentingan politik domestik yang mendorong strategi ini. Konflik dianggap sebagai alat penting bagi Netanyahu untuk mendukung stabilitas kekuasaan di tengah krisis internal dan menghindari pemilu. Konflik ini juga terkait dengan dinamika regional, termasuk tuntutan Iran dalam negosiasi dengan AS untuk memasukkan Lebanon dalam gencatan senjata, yang ditolak Israel.
Di sisi Hizbullah, meskipun tertekan oleh pemerintah Lebanon dan serangan Israel, kelompok ini masih mampu meluncurkan roket dan drone ke Israel, memperlihatkan ketegangan yang berkepanjangan dan semakin terjalinnya konflik di Timur Tengah.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

