ZONAUTARA.com – Penggunaan microwave di dapur sudah menjadi hal umum, namun keberadaan radiasi dari alat ini kerap menimbulkan kekhawatiran di masyarakat terkait dampaknya terhadap kesehatan, termasuk risiko kanker. Microwave bekerja dengan memancarkan gelombang elektromagnetik yang berasal dari alat magnetron di dalamnya, memanaskan makanan secara efisien.
Microwave menghasilkan gelombang mikro yang menyebabkan molekul air dalam makanan bergetar. Proses ini menimbulkan panas melalui gesekan, mengakibatkan makanan menjadi matang. Namun, pemahaman bahwa radiasi microwave berbahaya telah memunculkan sejumlah mitos seputar kesehatan.
Radiasi merupakan energi yang terdapat di sekitar kita, termasuk dari matahari dan perangkat elektronik. Penting untuk memahami jenis dan tingkat paparan radiasi. Berkaitan dengan microwave, ia memancarkan radiasi non-ionisasi, berbeda dengan radiasi ionisasi yang dapat merusak DNA dan dalam kadar tinggi bisa menyebabkan kerusakan serius.
Radiasi non-ionisasi yang dipancarkan microwave tidak cukup kuat untuk mengubah struktur kimia molekul makanan. Beberapa studi ilmiah, seperti “Microwave Usage and Cancer: Do Microwaves Cause Cancer?” menunjukkan bahwa tidak ada bukti kuat mengenai hubungan antara radiasi microwave dengan kanker.
Studi lain, seperti “Effects of Low Level Microwave Radiation on Carcinogenesis in Swiss Albino Mice,” juga mendukung kesimpulan bahwa paparan radiasi microwave tidak meningkatkan risiko timbulnya tumor baru maupun mempercepat pertumbuhan tumor pada tikus. Oleh karena itu, hingga kini radiasi dari microwave belum terbukti membahayakan kesehatan.
Diolah dari laporan Tirto.id.

