ZONAUTARA.com – Hampir dua juta tahun yang lalu, manusia purba mengalami kemajuan besar dalam kemampuan berpikir. Di Afrika, hominin mulai menciptakan alat batu yang lebih canggih, menandai awal dari budaya Acheulean, sebuah fase teknologi penting dalam evolusi manusia. Acheulean dikenal sebagai ‘technocomplex’ atau kompleks teknologi yang tidak hanya mencerminkan alat, tetapi juga cara berpikir dan perilaku pembuatnya. Budaya ini kemudian menyebar ke Eropa dan Asia, bertahan selama sekitar 1,75 juta tahun, menjadikannya fase budaya terpanjang dalam sejarah evolusi manusia.
Salah satu ciri utama Acheulean adalah kapak genggam atau ‘handaxe’, alat batu yang dibentuk pada kedua sisi sehingga menghasilkan bentuk yang simetris dan tajam. Teknologi ini jauh lebih maju dibandingkan Oldowan yang lebih sederhana. Namun, para peneliti menegaskan bahwa Acheulean tidak hanya didefinisikan oleh keberadaan kapak genggam. Lebih dari itu, budaya ini mencerminkan kemampuan manusia purba untuk merancang alat secara terencana, menghasilkan serpihan batu besar, serta menyusun proses pembuatan alat secara sistematis dan terorganisasi.
Kemajuan dalam budaya Acheulean menunjukkan adanya perkembangan kognitif yang signifikan. Para peneliti percaya bahwa pembuat alat Acheulean telah memiliki kemampuan berpikir yang lebih kompleks, termasuk dalam perencanaan dan standar bentuk alat. Selain itu, kemampuan ini mungkin berkaitan dengan praktik berburu yang lebih terarah serta pemanfaatan api, menunjukkan perubahan besar dalam cara hidup manusia purba.
Penyebaran Acheulean tidak berlangsung serentak di seluruh dunia. Meski diyakini berasal dari Afrika Timur, teknologi ini muncul di Timur Tengah dan India sekitar 1,7 juta tahun lalu, tetapi baru mencapai Eropa hampir satu juta tahun kemudian. Di Spanyol, misalnya, kapak genggam Acheulean tertua diperkirakan berusia sekitar 900.000 tahun. Proses penyebarannya ke Eropa Barat berlangsung lambat, butuh sekitar 400.000 tahun hingga alat tersebut menjadi umum di wilayah tersebut.
Pertanyaan besar yang masih ada adalah siapa pencipta budaya Acheulean sebenarnya. Para peneliti mengakui bahwa jawaban pastinya belum bisa dipastikan mengingat keberadaan alat-alat ini di wilayah yang dihuni berbagai spesies manusia purba seperti Homo erectus dan Homo sapiens. Diskusi terbaru di Musée de l’Homme, Prancis bahkan menegaskan bahwa definisi budaya Acheulean masih belum sepenuhnya disepakati. Sejak pertama kali diidentifikasi di Saint-Acheul oleh Gabriel de Mortillet pada tahun 1872, Acheulean terus menjadi subjek kajian intensif oleh para ilmuwan.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

