ZONAUTARA.com – Harga LPG 3 kilogram yang bersubsidi di Indonesia tidak mengalami perubahan sejak tahun 2007 saat pertama kali diperkenalkan pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa meskipun beban anggaran negara semakin berat, harga LPG bersubsidi ini tetap dipertahankan.
“Itu di zamannya Pak SBY (Presiden) dan Pak JK (Wapres) di periode pertama tuh. Tahu nggak? Itu harga LPG subsidinya sejak pertama kali sampai sekarang nggak pernah kita ubah-ubah,” ujar Bahlil dalam acara Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa.
Kebutuhan nasional akan LPG per tahun mencapai sekitar 8,6 juta ton, namun produksi dalam negeri hanya berkisar antara 1,6 hingga 1,7 juta ton dari kapasitas terpasang sebesar 1,9 juta ton. Hal ini mengakibatkan Indonesia harus mengimpor sekitar 7 juta ton LPG setiap tahun.
“Sekarang kita belanja LPG per tahun devisa kita keluar 137 triliun rupiah. Dari 137 triliun rupiah itu yang disubsidi oleh negara Rp 80 sampai Rp 87 triliun rupiah per tahun bos. Jangan tepuk tangan ini sedih bagi saya,” tambah Bahlil.
Bahlil menegaskan bahwa tingginya impor LPG bukan disebabkan oleh kekurangan gas, melainkan jenis kandungan gasnya yang berbeda. LPG terdiri dari propana dan butana, sementara gas alam di Indonesia lebih kaya kandungan metana dan etana. Sebagai solusi, Bahlil sedang mempertimbangkan untuk merubah pola konsumsi ini melalui DME meski menghadapi berbagai tantangan.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

