ZONAUTARA.com – Perang di Timur Tengah telah memberikan dampak signifikan pada perekonomian global, termasuk India. Untuk menghadapi krisis ini, pemerintah India resmi mengesahkan program jaminan kredit besar senilai US$27,3 miliar atau sekitar Rp474 triliun. Kebijakan tersebut bertujuan guna membantu sektor bisnis mengatasi krisis likuiditas jangka pendek akibat kenaikan harga energi, terutama sektor yang terkena dampak langsung seperti maskapai penerbangan.
Pemerintah India menyatakan skema itu akan memberikan akses pinjaman bagi pelaku usaha hingga Maret tahun depan. Langkah ini diharapkan memungkinkan operasional bisnis tetap berjalan, mencegah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), dan menahan perlambatan ekonomi. “Skema jaminan kredit yang diusulkan merupakan langkah besar untuk membantu bisnis, termasuk sektor penerbangan, guna memastikan kebutuhan tambahan modal kerja mereka terpenuhi,” tulis pernyataan resmi pemerintah, dikutip AFP, Rabu (6/5/2026).
Pemerintah menjelaskan bahwa kebijakan tersebut esensial untuk menjaga stabilitas produksi dalam negeri. “Ini akan mendorong produksi domestik tetap berjalan tanpa gangguan serta menjaga ketahanan ekosistem ekonomi,” lanjut pernyataan tersebut. Program ini disetujui dalam rapat kabinet yang dipimpin oleh Perdana Menteri Narendra Modi. Skema kredit akan berlaku selama lima tahun untuk mayoritas sektor usaha, dan hingga tujuh tahun khusus untuk industri penerbangan.
Dari total anggaran, sekitar US$26,79 miliar atau Rp466,56 triliun dialokasikan untuk berbagai sektor bisnis, sementara industri penerbangan memperoleh porsi khusus sebesar US$525 juta atau sekitar Rp9,1 triliun. Sektor maskapai menjadi yang paling terpukul akibat konflik di Timur Tengah, dengan lonjakan harga bahan bakar avtur yang memaksa beberapa maskapai untuk mengurangi frekuensi penerbangan, baik domestik maupun internasional, dalam beberapa pekan terakhir.
Ketergantungan besar India terhadap impor minyak dan gas dari Timur Tengah semakin membebani ekonomi nasional. Ketidakpastian ini turut menekan prospek pertumbuhan ekonomi India ke depan, di mana Bank Dunia bahkan telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi India menjadi 6,6% untuk tahun fiskal berjalan, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan sebelum konflik terjadi.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

