ZONAUTARA.com – Vietnam telah memulai langkah tegas untuk memberantas industri barang palsu yang telah berkembang selama puluhan tahun di negara tersebut. Langkah ini dilakukan setelah menerima tekanan kuat dari Amerika Serikat (AS) yang menilai Vietnam gagal melindungi hak kekayaan intelektual, sehingga menjadi salah satu pusat peredaran produk tiruan terbesar di dunia.
Seorang pedagang pakaian di Saigon Square, yang menggunakan nama samaran Thanh Truc, menjelaskan bahwa penegakan hukum kini menjadi lebih ketat. “Penegakan hukum menjadi lebih ketat,” ujarnya, seraya menjelaskan bahwa razia kali ini jauh lebih serius dibandingkan dengan operasi-operasi sebelumnya.
Awal tahun ini, pihak kepolisian Vietnam melakukan penggerebekan terhadap dua gudang di pinggiran Kota Ho Chi Minh. Dalam penggerebekan ini, ditemukan lebih dari 23.000 pasang sandal palsu dengan logo merek terkenal seperti Nike, Adidas, dan Gucci. Barang-barang tersebut memiliki nilai sekitar 2 miliar dong Vietnam, atau sekitar US$76.053.
Pada bulan April lalu, Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) menetapkan Vietnam sebagai “priority foreign country”, status yang menunjukkan bahwa negara tersebut mengalami kegagalan dalam menangani pelanggaran hak kekayaan intelektual. Sebagai tanggapan, pemerintah Vietnam berkomitmen untuk meningkatkan penindakan pelanggaran hak kekayaan intelektual setidaknya sebesar 20% dibandingkan periode sebelumnya.
Namun, meskipun ada upaya dari pemerintah, beberapa pedagang mengaku tetap bisa menjalankan bisnis seperti biasa setelah razia selesai. Di sisi lain, pengusaha lokal di bidang fesyen, seperti Thi Nguyen, menyambut baik upaya pemerintah untuk menciptakan lingkungan bisnis yang lebih adil dan bersih.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

