ZONAUTARA.com — Menjadi Kapolres Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) bukanlah titik awal bagi AKBP Ronald Andry Mauboy, melainkan bagian dari perjalanan panjangnya sebagai anggota Polri.
Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 2010 ini telah melewati berbagai penugasan, mulai dari Brimob, reserse, lalu lintas, hingga bidang profesi dan pengamanan. Pengalaman tersebut membentuk perjalanan kariernya sebelum akhirnya dipercaya memimpin Polres Sitaro pada 2026.

Namun, bagi Ronald, jabatan sebagai Kapolres bukan semata soal posisi. Sejak tiba di Sitaro pada Juli 2026, ia mulai membangun komunikasi dengan berbagai pihak dan melihat langsung persoalan yang dihadapi masyarakat di wilayah kepulauan.
Pada hari-hari awal bertugas, Ronald menekankan pentingnya kolaborasi, termasuk dengan TNI AL dan pemerintah daerah. Baginya, karakter Sitaro sebagai daerah kepulauan membutuhkan kerja bersama agar keamanan dan pelayanan masyarakat dapat berjalan lebih efektif.
Langkah tersebut kemudian terlihat dalam sejumlah kegiatan. Ronald tidak hanya berkutat pada persoalan keamanan dan penegakan hukum. Pada 27 Agustus 2026, misalnya, ia bersama Plt Bupati Sitaro ikut memantau sumber mata air Danau Kapeta dan fasilitas Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) sebagai bagian dari antisipasi dampak kekeringan dan El Nino.
Bagi Ronald, kehadiran polisi di tengah masyarakat tidak berhenti pada penanganan perkara. Kepolisian juga harus mampu membangun sinergi ketika masyarakat menghadapi persoalan yang menyangkut kebutuhan dasar.
“Yang paling penting bagi saya adalah bagaimana Polri hadir dan bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Keamanan harus berjalan bersama dengan pelayanan dan kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat,” kata Ronald.

Di sisi lain, pengalaman Ronald di bidang Propam menjadi salah satu bagian menarik dari perjalanan kariernya. Sebelum menjadi Kapolres Sitaro, ia pernah bertugas di bidang pengawasan profesi dan bahkan mendapat penghargaan sebagai Peserta Teraktif II dalam Pelatihan Komisi Kode Etik Polri Tahun Anggaran 2026.
Pengalaman tersebut menjadi bekal dalam membangun internal kepolisian. Ia ingin jajaran Polres Sitaro tidak hanya tegas dalam penegakan hukum, tetapi juga menjaga profesionalisme dan kedekatan dengan masyarakat.
“Kita ingin membangun kepercayaan. Itu tidak cukup hanya dengan penegakan hukum, tetapi juga bagaimana anggota memberikan pelayanan yang baik, bekerja profesional dan hadir ketika masyarakat membutuhkan,” ujarnya.
Di Sitaro, tantangan yang dihadapi pun beragam. Selain menjaga keamanan dan ketertiban, kepolisian harus beradaptasi dengan kondisi geografis wilayah kepulauan serta membangun koordinasi dengan pemerintah, TNI, tokoh masyarakat dan berbagai lembaga lainnya.
Ronald juga mulai menunjukkan sikap tegas terhadap aktivitas yang dinilai mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Salah satunya melalui penertiban arena sabung ayam di Kampung Lai, Kecamatan Siau Tengah, pada Agustus 2026. Ia menegaskan tidak akan memberikan ruang bagi praktik tersebut di wilayah hukum Polres Sitaro.
Kini, perjalanan panjang Ronald Mauboy memasuki babak baru di Sitaro. Dari pengalaman di lapangan, bidang lalu lintas, Propam hingga penugasan di tingkat pusat, semua menjadi bagian dari proses yang membawanya ke posisi sebagai Kapolres.
Yang akan dinilai masyarakat bukan lagi panjangnya daftar jabatan yang pernah diemban, tetapi bagaimana pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi kerja nyata.
Bagi Ronald, tantangan itu menjadi bagian dari pengabdian barunya di tanah kepulauan.
“Kami datang bukan hanya untuk menjalankan tugas, tetapi untuk bersama-sama membangun keamanan dan pelayanan yang semakin dekat dengan masyarakat Sitaro,” katanya. Dari Perjalanan Panjang hingga Memimpin Sitaro, Ini Fokus Kapolres Ronald Mauboy
SITARO — Menjadi Kapolres Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) bukanlah titik awal bagi AKBP Ronald Andry Mauboy, melainkan bagian dari perjalanan panjangnya sebagai anggota Polri.
Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 2010 ini telah melewati berbagai penugasan, mulai dari Brimob, reserse, lalu lintas, hingga bidang profesi dan pengamanan. Pengalaman tersebut membentuk perjalanan kariernya sebelum akhirnya dipercaya memimpin Polres Sitaro pada 2026.
Namun, bagi Ronald, jabatan sebagai Kapolres bukan semata soal posisi. Sejak tiba di Sitaro pada Juli 2026, ia mulai membangun komunikasi dengan berbagai pihak dan melihat langsung persoalan yang dihadapi masyarakat di wilayah kepulauan.
Pada hari-hari awal bertugas, Ronald menekankan pentingnya kolaborasi, termasuk dengan TNI AL dan pemerintah daerah. Baginya, karakter Sitaro sebagai daerah kepulauan membutuhkan kerja bersama agar keamanan dan pelayanan masyarakat dapat berjalan lebih efektif.
Langkah tersebut kemudian terlihat dalam sejumlah kegiatan. Ronald tidak hanya berkutat pada persoalan keamanan dan penegakan hukum. Pada 27 Agustus 2026, misalnya, ia bersama Plt Bupati Sitaro ikut memantau sumber mata air Danau Kapeta dan fasilitas Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) sebagai bagian dari antisipasi dampak kekeringan dan El Nino.
Bagi Ronald, kehadiran polisi di tengah masyarakat tidak berhenti pada penanganan perkara. Kepolisian juga harus mampu membangun sinergi ketika masyarakat menghadapi persoalan yang menyangkut kebutuhan dasar.
“Yang paling penting bagi saya adalah bagaimana Polri hadir dan bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Keamanan harus berjalan bersama dengan pelayanan dan kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat,” kata Ronald.
Di sisi lain, pengalaman Ronald di bidang Propam menjadi salah satu bagian menarik dari perjalanan kariernya. Sebelum menjadi Kapolres Sitaro, ia pernah bertugas di bidang pengawasan profesi dan bahkan mendapat penghargaan sebagai Peserta Teraktif II dalam Pelatihan Komisi Kode Etik Polri Tahun Anggaran 2026.
Pengalaman tersebut menjadi bekal dalam membangun internal kepolisian. Ia ingin jajaran Polres Sitaro tidak hanya tegas dalam penegakan hukum, tetapi juga menjaga profesionalisme dan kedekatan dengan masyarakat.
“Kita ingin membangun kepercayaan. Itu tidak cukup hanya dengan penegakan hukum, tetapi juga bagaimana anggota memberikan pelayanan yang baik, bekerja profesional dan hadir ketika masyarakat membutuhkan,” ujarnya.
Di Sitaro, tantangan yang dihadapi pun beragam. Selain menjaga keamanan dan ketertiban, kepolisian harus beradaptasi dengan kondisi geografis wilayah kepulauan serta membangun koordinasi dengan pemerintah, TNI, tokoh masyarakat dan berbagai lembaga lainnya.
Ronald juga mulai menunjukkan sikap tegas terhadap aktivitas yang dinilai mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Salah satunya melalui penertiban arena sabung ayam di Kampung Lai, Kecamatan Siau Tengah, pada Agustus 2026. Ia menegaskan tidak akan memberikan ruang bagi praktik tersebut di wilayah hukum Polres Sitaro.
Kini, perjalanan panjang Ronald Mauboy memasuki babak baru di Sitaro. Dari pengalaman di lapangan, bidang lalu lintas, Propam hingga penugasan di tingkat pusat, semua menjadi bagian dari proses yang membawanya ke posisi sebagai Kapolres.
Yang akan dinilai masyarakat bukan lagi panjangnya daftar jabatan yang pernah diemban, tetapi bagaimana pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi kerja nyata.
Bagi Ronald, tantangan itu menjadi bagian dari pengabdian barunya di tanah kepulauan.
“Kami datang bukan hanya untuk menjalankan tugas, tetapi untuk bersama-sama membangun keamanan dan pelayanan yang semakin dekat dengan masyarakat Sitaro,” katanya.

