ZONAUTARA.COM – Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio menyampaikan bahwa kini telah ditemukan tiga kasus Covid-19 varian AY.1 atau lebih populer disebut varian Delta Plus.
Ketiga kasus tersebut ditemukan di dua wilayah berbeda yakni Mamuju (Sulawesi Barat) dan Jambi.
“Sudah ada di Mamuju (Sulawesi Barat) dan Jambi,” jelas Prof Amin, Senin (28/7).
Perbedaan mutasi Varian Delta Plus berbeda dengan varian Delta atau B1617.2, yakni pada protein K417N. Mutasi yang sama juga ditemukan dalam varian Beta (B1351) dan varian Gamma (P1).
Apakah varian ini lebih berbahaya? Professor imunologi dan virologi dari Institute of Medical Sciences, Banaras Hindu University, Sunit K Singh menyebut ada kemungkinan mutasi pada varian Delta Plus tersebut, yang juga ditemukan pada beberapa varian lain, membuat vaksin kurang memberikan perlindungan.
“Varian Beta dengan mutasi ini telah menunjukkan kemampuan untuk lolos dari antibodi yang diberikan oleh vaksinasi Covid-19, setidaknya sampai batas tertentu,” jelasnya.
Gejala yang dihasilkan varian ini juga cenderung sama dengan varian sebelum-sebelumnya, yakni mencakup batuk. diare, demam, sakit kepala, ruam kulit, perubahan warna pada jari tangan dan kaki, yyeri dada dan sesak napas.

