Connect with us

Profil

AMATO ASSAGAF: Hidupnya Untuk Puisi, Teater, dan Filsafat

Ia termasuk penyair yang tak banyak melahirkan puisi, namun setiap puisinya memiliki estetika yang tinggi dan nilai puitika yang dalam.

Published

on

Amato Assagaf, penyair fenomenal dari Manado. Puisinya dikenal mampu menyihir pembaca, dan dibicarakan pada berbagai diskusi kalangan sastrawan dan intelektual di Sulawesi Utara. Ia termasuk penyair yang tak banyak melahirkan puisi, namun setiap puisinya memiliki estetika yang tinggi dan nilai puitika yang dalam.

Ini sebabnya, setiap kali puisinya muncul di media massa, langsung menjadi bahan diskusi di mana-mana. Media online zonautara.com setiap kali mempublikasikan puisinya langsung dirubung visitor. Puisinya benar-benar ditunggu para penggemarnya. Kendati puisinya sangat layak dibukukan, ia mengaku tak memikirkan hal itu.

“Urusan menerbitkan buku bukan urusan saya. Tugas saya adalah menulis,” ungkapnya.

Nyaris setiap akhir pekan, ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain di beberapa kota di Sulawesi Utara untuk membaca puisi atau mementaskan teater bersama kelompoknya, lalu menggelar diskusi.  Ia mengabdikan hidupnya untuk puisi, teater dan filsafat.

Ia lahir di Manado, 14 Januari 1970. Tamat dari SDN 34 Manado melanjutkan ke SMP Kristen YPKM Manado, Pesantren YAPI, Bangil, Jawa Timur, kemudian ke SMA Garuda Manado, lalu ke IKJ jurusan teater.

Pernah bekerja sebagai Creative writer di Irjago Sinema dan Tim Kreatif “Regu Kerja Didi Petet,” sebuah kelompok kerja film dan teater yang didirikan oleh Alm. Didi Petet dan Yayu Unru yang berkedudukan di Jakarta. Juga sebagai Penulis filsafat publik pada media online Zona Utara yang berkedudukan di Manado.

Ia pendiri “Amagi Indonesia” bersama Juan Mahaganti, seorang ekonom libertarian asal Siau. “Amagi” adalah sebuah organisasi nir-laba yang dimaksudkan untuk melakukan pendidikan gagasan-gagasan Libertarian. “Amagi” berkedudukan di Manado. Pembentuk “Mises Club Indonesia,” sebuah kelompok studi Ekonomi Mazhab Austria yang berkedudukan di Manado, dan Pendiri “Padepokan Puisi Amato Assagaf,” sebuah kelompok kesenian yang berkedudukan di Manado.

Menulis sejumlah buku, di antaranya “Merenungkan Libertarianisme” terbitan Friedrich Naumann Stiftung fur die Freiheit, Jakarta, Desember 2012. Kini pengajar pada “Pengajian Filsafat,” sebuah kelompok belajar filsafat yang berkedudukan di Manado.

Berikut sebuah puisi pendeknya yang sangat populer di Manado:

 

Siul

di dunia ini hanya ada dua orang yang bisa bersiul
siddharta gautama dan kekasihku ariana

ketika matahari terbit
gautama menjadi buddha
udara berubah tipis
di bawah pohon boddhi
burung-burung enggan berkicau
gautama bersiul
dunia memasuki abad dua satu

ariana hanya dongeng
yang aku ciptakan
di hari pemakamanmu
ketika matahari tenggelam
dan hari enggan jadi malam
ariana bersiul
aku tak pernah pulang

di dunia ini hanya ada dua orang yang bisa bersiul
siddharta gautama dan kekasihku ariana

—————–

 

Profil

Ubah tempurung jadi cenderamata, cara suami istri ini berinvestasi terhadap lingkungan

Kerajinan mereka diminati wisatawan asing.

Published

on

Foto: Henry Johanis

MANADO, ZONAUTARA.com – “Modal kami adalah kecintaan terhadap lingkungan”. Begitu ungkap suami istri Henry Johanis dan Elis Purude.

Mereka tinggal di Tongkaina yang sekaligus menjadi bengkel kerja. Henry dan Elis tak sekedar jadi penggiat lingkungan. Henry juga aktifis konservasi.

Keduanya kini mengelola usaha kecil yang memproduksi cenderamata. Dari mulai ide, menemukan bentuk, memproduksi, dan memasarkannya semua dilakukan mereka berdua.

Bahannya sederhana, tempurung kelapa dan pelepah pisang. “Di kampung sini banyak sekali tempurung kelapa dan pisang,” jelas Henry, saat ditemui Zonautara.com beberapa waktu lalu.

Mereka berdua ingin memanfaatkan tempurung kelapa yang melimpah itu untuk sesuatu yang tak sekadar menjadi arang tempurung. Lalu Henry mengeksplorasi ide.

Bermodal satu gergaji, dia lalu mencoba mengubah tempurung kelapa menjadi bahan pajangan. Unik, tentu menjadi syarat agar olahan itu bisa diminati orang.

Lewat serangkaian ujicoba, akhirnya Henry bisa menciptakan beragam kerajinan tangan perpaduan antara tempurung kelapa dan pelepah pisang.

“Bisa laku, lalu kami beli peralatan kerja lain seperti glender, bor listrik. Kerja sudah bisa lebih baik, walau masih banyak peralatan yang harus dibeli,” ungkap Henry.

Usaha mereka ini baru berjalan setahun, namun pasar mualai tercipta. Awalnya mereka menitipkan hasil kerajinan tangan di salah satu hotel di dekat rumah mereka.

“Peminatnya banyak turis asing. Mereka suka tempat lilin, miniatur perahu tradisional dan press flower. Bangga dan sekaligus termotivasi, biar cuma tempurung kelapa, tapi sudah banyak dibawa keluar negeri,” kata Elis.

Sekarang pasar lokal juga sudah mulai tertarik. Kalau orang lokal lebih suka pot bunga unik dengan kaktus/sukulen. Lalu ada pula pot bunga dengan variasi ukiran dan tulisan.

“Kami belajar kaktus dan sukulen dari internet saja. Beli bibit secara online, tapi kini sudah bisa biakan sendiri,” kata Henry.

Kecintaan terhadap lingkungan adalah nomor satu. Oleh karena itu motif dalam ukiran tempurung kelapa itu tak lari jauh soal alam. Ada hutan mangrove, gunung, laut, ikan dan motif alam lainnya.

Karena mengusung semangat memelihara alam, usaha mereka dilabeli dengan nama “Manado Ecocrafts“.

Baik Henry dan Elis berharap, orang lain bisa termotivasi berkreasi menciptakan sesutu dari yang sudah disediakan alam. Kelapa misalnya, saat harga kopra jatuh, mencari alternatif produk kelapa adalah upaya lain.

Henry berharap produk kreasi asli Manado bisa bersaing dengan handycrafts luar daerah semisal produk dari Bali dan Jawa. Banyaknya peminat dari wisatawan asing menjadi ukuran bagi mereka.

“Kami bermimpi satu saat bisa memberdayakan warga sektar untuk terlibat dalam produk ekowisata ini. Tapi modal kami kecil, mungkin bisa lebih berkembang jika ada bantuan dari stakeholder terkait,” harap Henry.

Editor: Ronny Adolof Buol

Continue Reading
Advertisement

DATA KITA

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2FB Auto Publish Powered By : XYZScripts.com