Connect with us

ZONAPEDIA

Ini 8 Alasan Terjadinya Perceraian

Published

on

Ilustrasi patah hati akibat perceraian. (Foto: zonautara.com/Ronny Buol)

MANADO, ZONAUTARA.com – Perkawinan tidak selalu berjalan mulus, akan ada kenyataan menyedihkan yang harus dihadapi. Bahkan banyak perkawinan yang harus berakhir dengan perceraian.

Perceraian adalah berakhirnya suatu hubungan pernikahan, saat salah satu atau bahkan keduanya sudah tidak ingin hidup bersama lagi sebagai suami istri.

Bagaimana perceraian bisa terjadi? Mari kita lihat beberapa alasan umum terjadinya perceraian.

1. Perselingkuhan
Perselingkuhan atau adanya orang ketiga menjadi alasan yang sering ditemui pada kasus retaknya rumah tangga. Kemarahan dan kebencian adalah alasan umum yang mendasari adanya kecurangan dalam pernikahan. Perselingkuhan juga sering dimulai dengan adanya hubungan persahabatan, yang lama-kelamaan menjadi hubungan gelap.

Menurut seorang ahli perceraian Ruth Houston “Dimulai dengan urusan emosional yang kemudian menjadi urusan fisik”.

2. Uang
Masalah keuangan adalah masalah umum terjadinya perceraian. Seorang ahli Perencana Keuangan Lauren Lyons Cole, merekomendasikan bahwa pasangan harus tahu segalanya tentang uang masing-masing sebelum memutuskan untuk menikah. Harus tahu berapa penghasilan pasangan Anda sampai bagaimana pasangan Anda mengelola uang.

3. Kurang komunikasi
Komunikasi sangat penting dalam suatu hubungan perkawinan. Ketika tidak mampu berkomunikasi secara efektif, itu akan mengarah pada tingkat kekesalan dan frustrasi sehingga berdampak buruk pada pernikahan.

Komunikasi adalah fondasi dari perkawinan yang kuat. Mulailah berkomunikasi baik dengan pasangan Anda agar hubungan Anda bisa terhindar dari perceraian.

4. Berdebat terus menerus
Berdebat tanpa henti selain mengabiskan waktu dengan sia-sia, akan berdampak juga pada hilangnya hubungan yang harmonis. Dalam suatu hubungan suami istri banyak hal yang sering menjadi perdebatan. Dengan keegoisan masing-masing yang merasa tidak didengar atau dihargai dan bahkan sulit untuk melihat sudut pandang orang lain akan mengarahkan pada argumen yang tidak pernah habis, dan berujung pada perceraian.

5. Kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan
Semua orang pasti ingin memiliki hubungan pernikahan yang sesuai dengan harapan. Memang sangat mudah untuk menaruh harapan yang tinggi pada pasangan Anda. Namun kenyataan yang terjadi kadang tidak sesuai dengan harapan, kenyataan yang dijalani saat berumah tangga jauh di luar ekspetasi Anda.

Seringkali juga harapan-harapan ini mengakibatkan tekanan terhadap pasangan Anda. Dengan tidak tercapainya harapan ini, menyebabkan kekecewaan sehingga Anda berpikir bahwa hubungan ini tidak sukses, dan kemudian memutuskan untuk bercerai.

6. Kurangnya Kemesraan
Kurangnya perhatian atau kemesraan dapat dengan cepat merusak pernikahan, karena membuat pasangan Anda merasa seolah-olah mereka hidup dengan orang asing daripada pasangan. Ini bisa jadi karena kurangnya keintiman baik fisik maupun emosional. Kemesraan tidak selalu tentang seks. Menjadikan hubungan Anda terasa intim dan istimewa adalah tanggung jawab bersama sebagai suami istri. Lakukan sedikit tindakan perhatian, kebaikan, penghargaan, dan nikmati kedekatan fisik sebanyak mungkin untuk mempermanis hubungan.

7. Pernikahan dini
Pernikahan dini sering terjadi karena adanya suatu kejadian, seperti married by accident atau hamil di luar nikah. Karena tidak matangnya pasangan muda yang menikah akan berujung pada perceraian. Pernikahan dini adalah pasangan yang menikah pada usia 20-an dan bahkan ada yang masi berusia belasan tahun.

8. Kekerasan
Kekerasan fisik atau emosional adalah kenyataan menyedihkan yang banyak terjadi dalam keluarga. Kekerasan baik dari suami, istri, atau anak pasti akan berdampak buruk pada keutuhan rumah tangga. Memang tidak ada tolerir bagi pelaku kekerasan dalam rumah tangga karena itu membahayakan, sehingga jalan yang di tempuh adalah peceraian.

Tidak ada pernikahan yang mudah. Bahkan pasangan dengan niat baik terkadang tidak dapat mengatasi adanya tantangan, dan berakhir di ruang sidang. Itulah mengapa penting untuk bijaksana dalam mengatasi masalah dalam hubungan Anda sejak dini. Jangan menunggu sampai tidak bisa diperbaiki. Bersikap baik terhadap pasangan agar keharmonisan tetap terjaga. Cobalah jalan yang terbaik sebelum Anda menyerah dan memutuskan untuk bercerai. Dengan begitu Anda dapat merasa tenang dan yakin kalau mengetahui Anda telah mencoba semua alternatif sebelum mengambil langkah besar.

 

Editor: Eva Aruperes

ZONAPEDIA

Menelisik kepercayaan Mana Di Nusa Utara

Published

on

zonautara.com

MANADO, ZONAUTARA.com – Bila melihat di masa pertengahan abad ke-16, masyarakat yang tinggal di wilayah Nusa Utara telah mengenal kepercayaan. Menurut D. Brilman dalam tulisannya berjudul Onze zendingsvelden, De zending op de Sangi – en Talaud – eilanden door, meski telah mengenal Kristen dan Islam namun pandangan hidup masyarakat lebih bersifat animisme. Lebih tepat lagi bila dinyatakan sebagai suatu campuran yang khas antara kepercayaan ‘mana’, penyembahan orang mati dan kepercayaan pada roh-roh dan dewa-dewa.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘mana’ memiliki pengertian tenaga hidup yang tidak berpribadi dan ada pada manusia, binatang, tumbuhan, dan segala macam benda, biasanya untuk jimat atau fetis, serta membawa keberuntungan bagi pemiliknya, tetapi akan menimbulkan kerugian bagi orang yang tidak menghiraukannya (menurut padangan orang Melanesia).

Istilah ‘mana’ pertama kali digunakan oleh zendeling Inggris Codrington untuk menyatakan suatu tenaga sakti penuh rahasia. Tenaga ini menurut pengertian suku primitif berada dalam seluruh alam, dalam manusia dan binatang, dalam pepohonan dan tumbuhan, dalam segala sesuatu dan bisa mengerjakan baik kebahgiaan maupun pemusnahan.

Menurut Brilman dalam karyanya yang diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan (2000) dengan judul Kabar Baik di bibir Pasifik: zending di Kepulauan Sangihe dan Talaud, segala sesuatu dan istimewa yang luar biasa dan tak dapat diterangkan dianggap bersumber pada kuasa ini. Jika di dalam alam dan masyarakat tidak terjadi sesuatu yang kuar biasa, kuasa itu tetap ada tapi tak menampak.

Ia memberikan gambaran bahwa ‘mana’ bagaikan arus listrik pada suatu saat tidak mengalirkan arus listrik dan tidak berbahaya, tapi oleh suatu sebab kecil – umpanya ditekan suatu tombol – dapat mengakibatkan maut dan kemusnahan pada setiap orang yang terkena sentuhannya, demikian pula hanya menanti suatu hal kecil terjadi untuk menggerakkan kuasa terpendam ini, sehingga udara dan awan-awan pun mengalami pengaruhnya dengan akibat: kekeringan dan kerusakan tanaman, bahkan manusia pun dapat kehilangan nyawanya.

“Jadi adalah sangat penting diusahaka mencegah agar kuasa ini menimbulkan kesempatan untuk mereda dan menyebar melalui waktu penuh larangan-larangan (periode tabu), yang singkat atau berkepanjangan dalam waktu mana orang-orang harus tinggal secara tenang di rumah dan hanya melaksanakan pekerjaan yang penting-penting saja,” tulis Brilman.

Tapi, syukurlah, jelas Brilman, ada juga orang-orang, justru karena memiki fetis-fetis atau amulet-amulet (jimat-jimat) yang mempunyai kuasa sama yang begitu besar dalam diri mereka sehingga dapa menimbulkan suatu kuasa lawan. Dengan demikian dapat mengarahkan kuasa gelap itu, baik untuk kepentingan sesamanya (magi putih, dukun) maupun pribadinya, kerapkali dengan merugikan orang senasibnya (magi hitam, perempuan sihir/songko).

Editor: Rahadih Gedoan

Continue Reading

DATA KITA

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2FB Auto Publish Powered By : XYZScripts.com