Anoa Ketiga Lahir, Beri Harapan Pelestarian Satwa Endemik Terancam Punah

Anoa Ketiga Lahir, Beri Harapan Pelestarian Satwa Endemik Terancam Punah

MANADO, ZONASULUT.com – Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan kehutanan (BP2LHK) Manado mengundang sejumlah wartawan pada Selasa (31/7/2018).

Para wartawan yang dikumpulkan di Ruang Rapat Kantor dibawah kendali Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) itu datang dari berbagai platform media. Undangan disebar sejak Sabtu (21/7), menyambut kegembiraan pihak BP2LHK karena ketambahan satu bayi Anoa.

Ini merupakan anoa yang ketiga yang dilahirkan di Anoa Breeding Centre (ABC), fasilitas konservasi exsitu yang berada di kawasan Kantor BP2LHK di Kima Atas, Manado itu.

Pantas jika seluruh staff BP2LHK bergembira, termasuk jajaran Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara. Sebabnya adalah satwa liar dilindungi ini berada dalam status terancam punah. Anoa satu dari termasuk empat satwa kunci Sulawesi Utara. Satwa lainnya adalah Yaki (Macaca nigra), Maleo (Macrocephalon maleo) dan Babirusa (Babyrousa).

Anoa yang diexpose pada press release itu lahir pada Rabu (25/7) sekitar pukul 21.04 WITA. Anakan anoa ini berasal dari induk anoa betina bernama Denok dan anoa jantan Rambo. Saat lahir, berat badan anoa berjenis kelamin betina itu tercatat 6,7 kg dan panjang badan 55 cm.

“Kondisi induk dan bayi anoa dari pengamatan kami sejauh ini dalam keadaan sehat, sudah mulai berinteraksi, menyusui dan berjalan untuk bayinya,” jelas Dokter Adven TAJ Simamora, yang memimpin proses kelahiran anoa.

Fasilitas ABC sendiri diresmikan oleh Menteri LHK Siti Nurabaya Bakar pada 5 Februari 2015 lalu. Sebelumnya BP2LHK memang memiliki kandang anoa dengan faslitas seadanya.

Lewat program pengembangbiakan, anak anoa pertama lahir pada 7 Februari 2017 yang diberi nama Maesa oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Ini adalah anak anoa pertama yang bisa dilahirkan di area konservasi exsitu.

Bayi anoa yang kedua lahir pada 8 November 2017 dan diberi nama Anara oleh Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Jan Darmadi yang waktu itu didampingi oleh Menteri LHK di ABC BP2LHK Manado.

zonasulut.com

Expose media kelahiran anoa ketiag di Kantor BP2LHK Manado. (Foto: zonasulut.com/Ronny Adolof Buol)

Dengan ketambahan satu anggota baru anoa, kini di BP2LHK total ada 10 ekor anoa dengan komposisi 3 ekor jantan dan 7 ekor betina.

Kepala BP2LHK Manado, Dodi Garmadi berharap anoa yang ketiga ini juga diberi nama oleh tokoh penting Indonesia.

“Harapannya Presiden Joko Widodo bisa memberi nama bagi anoa ini,” harap Dodi.

Satwa Endemik Wallacea

Anoa (Bubalus sp.) adalah mamalia terbesar dan endemik yang hidup di daratan Pulau Sulawesi dan Pulau Buton. Anoa merupakan hewan yang tergolong fauna peralihan yang tergolong dalam famili bovidae yang tersebar hampir di seluruh pulau Sulawesi.

Kawasan Wallacea adalah kawasan yang terdiri atas pulau Sulawesi, Maluku, Halmahera, Kepulauan Flores, dan pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara. Wilayah ini unik karena banyak memiliki flora dan fauna yang endemik dan merupakan kawasan peralihan antara benua Asia dan Australia.

Sejak tahun 1986 International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan anoa sebagai satwa terancam punah (Endangered species). Ini dikarenakan jumlah populasi anoa di alam liar diperkirakan kurang dari 2.500 individu dewasa, dengan perkiraan laju penurunan populasinya selama kurang lebih 14-18 tahun terakhir hanya mencapai 20%.

Di bagian utara Sulawesi, beberapa kawasan yang dulunya menjadi habitat anoa, kini hewan unik itu sudah tidak bisa dijumpai dan dinyatakan punah secara lokal. Di Cagar Alam (CA) Tangkoko Batuangus, CA. Gunung Ambang dan CA. Manembo-nembo, anoa telah dinyatakan punah secara lokal.

Ada dua spesies anoa, yakni Anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) dan Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis). Kedua jenis ini tinggal dalam hutan yang tidak dijamah manusia. Keduanya juga termasuk jenis yang agresif dan sulit dijinakkan untuk dijadikan hewan ternak.

Perbedaan mencolok keduanya berdasarkan bentuk tanduk dan ukuran tubuh. Anoa dataran rendah relatif lebih kecil, ekor lebih pendek dan lembut, serta memiliki tanduk melingkar. Sementara anoa pegunungan lebih besar, ekor panjang, berkaki putih, dan memiliki tanduk kasar dengan penampang segitiga.

Secara fisik anoa mirip dengan kerbau, dengan berat berat tubuh 150-300 kilogram dan tinggi 75 centimeter.

Kepala BKSDA Sulut, Agustinus Rante Lembang menyambut gembira keberhasilan konservasi exsitu anoa di BP2LHK. Menurutnya ini merupakan peristiwa penting.

“Tekanan terhadap habitat, menjadikan populasi anoa menurun. Keberhasilan ini memberikan harapan terhadap peningkatan populasi anoa,” kata Lembang.

Upaya konservasi anoa di BP2LHK telah mendapat dukungan dari berbagai pihak, diantaranya PT Cargill Indonesia-Amurang, PT J Resources Bolaang Mongondow dan PT MSM-TTN.

Editor: Ronny Adolof Buol

Facebook Comments