Gita Waloni dan Kisahnya Menempuh Ribuan Kilometer Saat Bencana Palu (1)

Gita sedang berada di ruang kelas saat saya mengirimkan pesan lewat nomor Whatsappnya. Hanya centang satu. Saya menyusulnya dengan pesan pendek lewat SMS. Sama, tak terkirim. Nomor teleponnya tak aktif.

29 September 2018. Sehari setelah kabar dari Palu menyesakkan dada. Gempa berkekuatan 7,4 SR yang disusul tsunami menghajar kota itu. Nyaris semua stasiun televisi melakukan breaking news, mengabarkan berita dari Palu dengan informasi yang sangat minim.

Saat kejadian, Jumat (28/9), saya sedang mewawancarai narasumber di cafe di ruas jalan Bethesda, Manado. Karena handphone digunakan untuk merekam, saya mematikan signal seluler.

Saya kembali ke rumah sekitar pukul 20.00 WITA dengan maag yang mulai kambuh. Saat mengaktifkan kembali signal seluler, beberapa pesan Whatsapp masuk menanyakan apakah gempa tidak terasa di Manado.

Saat menghidupkan komputer untuk menyalin hasil rekaman, mata saya malah tertuju di notifikasi berita soal Palu. Semenit kemudian, insting jurnalis saya memperkirakan bahwa ini bukan bencana biasa.

Berita-berita mulai mengabarkan besarnya dampak gempa. Video soal tsunami mulai bertebaran di berbagai lini masa. Belum ada yang bisa memastikan apakah itu benar terjadi di Palu. Semua kontak di Palu tiba-tiba tak bisa dihubungi.

Saya gelisah dan terus mengikuti perkembangan berita hingga dini hari. Jumlah korban terus bertambah, dari hanya belasan terus bertambah mendekati ratusan korban.

Pagi harinya saya mengupdate berita di Zonautara.com, setelah memastikan bahwa Palu benar-benar diguncang gempa dan dihajar tsunami. Korban sudah mencapai ratusan. Basarnas sebagai narasumber yang kredibel sudah memastikan soal kejadian itu.

Dada saya sesak, anak saya ada di Palu. Begitu juga dengan om dan tante. Pagi itu saya memutuskan untuk berangkat ke Palu. Saya terpanggil untuk hadir di sana dan mengabarkan kondisi secara langsung, sembari mencari tahu keberadaan anak dan keluarga lainnya. Semua komunikasi terputus.

Sekitar pukul 10 pagi, saya memasang status di timeline Facebook, “Ada yang mau ke Palu?”. Status itu mendapat banyak respon yang juga ingin ke Palu. Tim SPORC (Satuan Polisi kehutanan Reaksi Cepat) dari BKSDA Sulut menelepon, mereka akan berangkat ke Palu untuk memberi sokongan bantuan.

Saya berharap bisa mendapat tempat dalam mobil yang akan mereka gunakan. Willam Tengker dari SPORC beberapa menit kemudian memastikan bahwa saya bisa bersama dengan mereka yang akan berangkat siang nanti. Saya pun berbenah menyiapkan perlengkapan.

Sambil menanti keberangkatan, saya terus mengamati berita yang menit demi menit semakin menggerikan. Jumlah korban terus bertambah. Ini bencana besar.

Sejam kemudian, Willian memberi kabar bahwa mereka menunda keberangkatan karena mendapat informasi jalan masuk Palu belum bisa dilalui mobil. Longsor dimana-mana.

Saya harus berangkat. Tidak ada pilihan, saya memutuskan menggunakan sepeda motor matic saya yang belum setahun usianya, seiring dengan kemampuan saya mengendarai sepeda motor yang juga belum genap setahun.

Teman-teman yang merespon status saya memilih mundur saat saya bilang akan menggunakan sepeda motor. Saya tidak bisa pergi sendiri, terlalu beresiko untuk perjalanan sejauh 1100 kilometer.

Saya mencoba mengontak Gita, dan mematok tenggat waktu pukul 15.00. Jika Gita pun tidak bisa ikut, saya akan nekat berangkat sendiri.

Sekitar pukul 13.00 Gita membalas pesan Whatsapp. Pendek saja jawabannya, “Maaf kak baru selesai kuliah. Ada apa di Palu?” Saya lantas meneleponnya. Jawabannya singkat, “Iya kak, saya akan ikut”. Nadanya penuh keyakinan.

Tiba di rumah, saya menjelaskan ke Gita, kondisi seperti apa yang akan kami temui di Palu. Makanan dan minuman minim, bahan bakar susah, penjarahan terjadi, dampak bencana yang sangat besar, tidak ada tempat tinggal, tidak tahu berapa hari baru bisa mandi, dan terutama mayat akan ada di mana-mana.

Saya tertegun, remaja ini menjawab dengan tegas. “Ayo berangkat!”. Tepat pukul 15.00 WITA, dengan sepeda motor matic masing-masing, kami berangkat dari rumah saya di Tateli, Kecamatan Mandolang, Minahasa.

Bersambung ke tulisan berikut:

(Bersambung ….)

Response (1)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com