Connect with us

PRESS REVIEW

Kunjungan wisman diperkirakan meleset

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan bahwa kemungkinan target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tahun 2018 meleset.

Hal itu disampaikan Arief pada acara Indonesia Tourism Outlook 2019: Deregulation In Cyber Tourism Era di Jakarta, pada Selasa (27/11/2018) kemarin.

Kementerian Pariwisata menargetkan angka kunjungan wisman pada tahun 2018 sebesar 17 juta orang. 

“Untuk tahun ini, kemungkinan terbesar hanya bisa mencapai 16 juta,” ujar Arief sebagaimana dikutip dari Kompas.com.

Arief menyebutkan bahwa salah satu penyebab melesetnya target tersebut adalah bencana alam, terutama gempa di Lombok, Nusa tenggara Barat.

Gempa Lombok pada Agustus 2018, telah menyebabkan sebanyak 100.000 wisman membatalkan kunjungan ke Indonesia dalam satu bulan.

“Dan 80.000 orang yang cancel adalah cancel ke Bali,” ujar Arief.

Gempa pada 5 Agustus yang berkekuatan 7 SR itu telah menyebabkan pembatalan kedatangan wisman secara besar-besaran, lebih dari 70 persen.

Arief memperkirakan pembatalan kunjungan wisman akan mencapai angka 1 juta orang. Sebelumnya dia optimis target 17 juta akan tercapai.

“Juni dan Juli itu sudah capai 1,5 juta wisman per bulan. Agustus mulai turun. Kalau 1,5 juta per bulan, dikali 12 itu sudah 18 juta wisman,” terang Arief.

Meski target kunjungan wisman tidak tercapai, namun menurut Arief, target devisa tahun 2018 bisa tercapai. Itu didasarkan atas taksiran pengeluaran wisman rara-rata per hari.

Jika 16 juta wisman, ASPA (Average Spending Per Arrival) 1100 US Dollar, maka akan dicapai 17,6 milyar US Dollar.

“Secara devisa tercapai,” kata Arief.

Data dari Badan Pusat Statistik mencatat hingga September 2018, sudah ada 11.929.542 wisman yang datang ke Indonesia melalui berbagai pintu masuk.

Jumlah ini naik 18,81 persen dibanding dengan jumlah kunjungan wisman di periode yang sama tahun lalu.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia

PRESS REVIEW

Facebook sebut buzzer akan terus ada

Buzzer sering dijadikan sebagai alat pembentuk opini publik.

Bagikan !

Published

on

llustrasi (Foto: Pixabay)

ZONAUTARA.com – Keberadaan akun pendengung di media sosial atau yang dikenal luas dengan istilah buzzer kini menjadi sorotan. Pasalnya, aktivitas buzzer di tanah air yang mengiring opini publik kerap hadir saat sebuah peristiwa terjadi.

Banyak yang kesal dengan apa yang dilakukan oleh para pendengung ini. Namun layanan sosial terbesar, Facebook menyatakan bahwa keberadaan buzzer tidak pernah akan hilang.

“Motif orang menggunakan Facebook kan beda-beda, ada yang ingin bertemu keluarga atau teman hingga berdagang. Jadi buzzer akan terus ada,” ujar Kepala Kemitraan Konten Hiburan Facebook, Revie Sylvana di Jakarta, Jumat (11/10).

Alasan lainnya adalah, saat ini buzzer sudah dianggap menjadi profesi yang memberi keuntungan. Ditambah lagi, penggunaan media sosial tidak bisa dibatasi.

Facebook sendiri sebenarnya sudah memberi panduan bagi pengguna yang terganggu dengan aktivitas buzzer, melalui Community Guideline.

“Semua perilaku digital pengguna media sosial terekam, jika ada yang melanggar ketentuan dapat dengan mudah dilaporkan,” kata Revie.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) sendiri mengakui bahwa buzzer adalah salah satu mata pencaharian untuk mendapatkan uang di era digital saat ini.

Buzzer dianggap sebagai salah satu alat dan sarana pemasaran. Buzzer banyak digunakan oleh korporat dan pelaku usaha untuk memasarkan produknya.

Dirjen Aplikasi dan Informatika Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan justru profesi buzzer mengurangi beban negara dan angka pengangguran di Indonesia.

Buzzer itu, bayar orang-orang (buzzer) untuk kerja. Memang kamu tidak boleh jadi endorser? Memang pemerintah mau memberikan duit ke orang-orang. Tapi tetap tidak boleh melanggar konten,” kata Semuel di Jakarta, Rabu (9/10).

Menurut Samuel yang negatif itu adalah konten buzzer yang memberi dampak negatif atau sengaja diproduksi untuk memperkeruh suasana. Menurutnya, pemerintah saat ini terus melakukan pengawasan terhadap konten media sosial.

Buzzer itu boleh. Tidak melanggar, yang melanggar kontennya. Yang kita awasi kontennya,” kata Semuel.

Sengaja membentuk opini

Penelitian yang dilakukan oleh Oxford Internet Institute dengan judul The Global Disinformation Order 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation, buzzer juga sengaja dipakai membentuk pasukan siber dalam membentuk opini publik.

Ada akun-akun media sosial yang sengaja dibuat membentuk opini publik, menyampaikan agenda politik, melakukan propaganda gagasan melalui kerja-kerja digital.

Para buzzer yang bekerja demi kepentingan tertentu ini ada yang dibawah kendali pemerintahan, kementerian tertentu bahkan badan militer. Masih dari penelitian tersebut, setidaknya ada 44 negara yang pemerintahannya terindikasi menggunakan pasukan siber untuk membentuk opini publik.

Namun dalam bekerja, menurut penelitian ini, para pasukan siber itu tidak bekerja sendiri, tetapi bekerjasama dengan pihak swasta, organisasi sipil, kelompok pemuda, influencer, atau orang-orang dengan ideologi yang dapat mendukung misi mereka.

Buzzer yang disewa dengan tujuan tertentu itu mendapat bayaran dengan sejumlah uang.

“Biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 1 juta sampai Rp 50 juta,” demikian dikutip dari laporan yang dirilis September lalu ini.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia
Continue Reading

LAPORAN KHUSUS

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com