Pemilu sisa menghitung hari, hoax menyebar tak terkendali

MANADO, ZONAUTARA.com – Intensitas penyebaran berita palsu atau hoax semakin meningkat, menjelang pelaksanaan Hari-H pencoblosan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 yang tinggal menghitung hari.

Masyarakat Anti Fitnah dan Hoax (Mafindo) mencatat total sudah ada 320 konten hoax yang beredar di internet dan media sosial sejak Januari 2019.

Inisiator Mafindo, Septiaji Eko Nugroho menyampaikan, hoax terkait politik masih menjadi yang paling banyak di 2019 ini. Persentasenya di Januari 2019 mencapai 58%, Februari 2019 71%, lalu di Maret 2019 sebanyak 73%.

“Hoax bertema politik semakin marak beredar jelang Pemilu 2019. Penyebarannya mayoritas di Facebook, Twitter, dan WhatsApp. Bentuknya paling banyak berupa narasi dan foto,” kata Septiaji, di acara diskusi publik “Lawan Hoax Demi Keutuhan Bangsa & Negara”, di Jakarta, Senin (8/4/2019).

Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 menjadi target paling banyak hoax. Disamping itu penyebaran konten sebagai upaya mendelegitimasi pelaksanaan Pemilu juga semakin gencar.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebut sepanjang Maret 2019 ada 453 hoax yang terdeteksi yang sengaja disebarkan.

PDIP menyebut penyebaran hoax merusak tatanan demokrasi.

“Ini sangat menyedihkan. Hoax adalah racun bagi demokrasi,” ujar Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto di Jakarta, Selasa (2/4), dikutip dari detik.com.

Staf Menteri Kominfo Henri Subiakto di Jakarta menyebut menjelang Pemilu, penyebaran hoax naik signifikan. Menurut Henri, Kominfo telah melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk menangkal hoax, terutama dengan Bawaslu dan KPU.

“Ketika KPU dan Bawaslu bilang ini berbahaya, langsung kami take down. Kami bersama terus dengan mereka, ada timnya. Dan itu bagian dari upaya untuk menghilangkan konten yang membahayakan keberlangsungan demokrasi kita,” kata Henri, dikutip dari pantau.com.

Di Tangerang, Menteri Sosial Agus Gumiwang mengajak ibu-ibu ikut melawan penyebaran berita bohong.

“Mari ibu-ibu, kita lawan penyebaran fitnah, kita lawan informasi bohong, jangan takut, karena ketika ibu melawan kebohongan dan fitnah, maka ibu-ibu sedang menegakkan kebenaran,” ujar Agus, saat hadir di Pondok Pesantren Al-Falahiyah, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Senin (8/4).

Sebelumnya, Trainer bersertifikasi Google dari AJI Indonesia, Ratna Ariyanti mengatakan, berita bohong atau hoax terbagi menjadi dua. Ada misinformasi dan disinformasi.

Hal itu disampaikan Ratna di hadapan ratusan mahasiswa yang menghadiri acara ‘Millennials Tangkis Hoax Bersama Pertamina’ bersama Pertamina dan VIVA, serta Program Studi Komunikasi Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor, di Gedung PSP 3 IPB Baranangsiang, Bogor, Jawa Barat, Kamis (4/4).

Misinformasi adalah informasi yang salah, namun orang yang membagikannya percaya itu benar. Sementara itu, disinformasi yaitu informasi yang salah dan orang yang membagikannya tahu itu salah.

“Ini (disinformasi) disengaja,” kata Ratna.

Lebih lanjut, dia mengatakan, AJI membuka layanan pengaduan terkait berita bohong atau hoax yang akan ditindak secepatnya. AJI juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin ikut pelatihan menangkal hoax.

“Selain buat jurnalis ada juga untuk publik tapi goals-nya sama,” ujar Ratna.

Mafindo sendiri telah membuka saluran telepon sebagai media pelaporan atau bertanya soal hoax. Saluran telepon yang bekerjasama dengan WhatsApp itu bisa diakses melalui nomor WhatsApp 085574676701.

“Untuk pengguna Android, kami juga menyediakan aplikasi Hoax Buster Tools sebagai bantuan untuk memeriksa kebenaran suatu informasi,” tambah Eko.

Editor: Ronny Adolof Buol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.