ZONAUTARA.COM – Ledakan kedelapan kali terjadi di Kolombo, Sri Lanka, menyusul tujuh ledakan bom sebelumnya, di hari Paskah, Minggu (21/4/2019).
Menurut laporan terbaru polisi Sri Lanka, setidaknya sudah ada 207 orang tewas dari rentetan seragan teror terhadap negara ini.
Update from Police: 66 dead at National Hosp, around 260 injured; Negombo Hosp 104 dead, injured around 100; Kalubowila Hosp 2 dead, injured 6; Batti Hosp 28 dead, injured 51; Ragama Hosp 7 dead, 32 injured. Total 207 dead, injured roughly 450 #lka
— Marianne David (@MarianneDavid24) 21 April 2019
Rangkaian teror bom yang merenggut nyawa ratusan orang itu terjadi di beberapa gereja dan hotel.
Ledakan terbaru ini terjadi di sebuah hotel dekat kebun binatang nasional di ibu kota Kolombo.
“Ada ledakan di sebuah hotel di Dehiwala dekat kebun binatang,” kata seorang pejabat kepolisian kepada Reuters.
Hanya saja sampai saat ini mereka belum memberikan rincian lebih lanjut tentang hal itu.
Seorang saksi mata dari televisi lokal mengatakan bahwa dia melihat ada bagian-bagian tubuh manusia di tanah dekat hotel yang meledak tersebut.
Indonesia mengutuk
Pemerintah Indonesia mengutuk serangan teror terhadap Sri Lanka ini. Melalui Kementerian Luar Negeri Pemerintah Indonesia mengecam keras aksi pengebomam tersebut.
“Pemerintah dan rakyat Indonesia menyampaikan duka cita mendalam kepada korban dan keluarga korban,” tulis keterangan resmi Kementerian Luar Negeri.
Saat ini, Kedutaan Besar RI di Kolombo, mengaku terus memantau perkembangan situasi dan telah berkoordinasi dengan otoritas keamanan, rumah sakit, dan perhimpunan WNI setempat.
Berdasarkan catatan Kementerian Luar Negeri, terdapat 374 WNI di Sri Lanka, termasuk 140 orang di Kolombo, ibu kota Sri Lanka.
Sumber dari rumah sakit setempat mengatakan warga asing yang menjadi korban berkewarganegaraan, antara lain Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda.
Sementara itu, ratusan orang lainnya menjadi korban luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit.
“Rapat darurat dalam beberapa menit. Operasi penyelamatan sedang berlangsung,” jelas Menteri Reformasi Ekonomi dan Distribusi Publik Sri Lanka Harsha de Silva melalui akun Twitter resminya.
Facebook dan Whats App ditutup
Mencegah penyebaran informasi yang tak jelas, rumor serta hoax, Pemerintah Sri Lanka mengambil langkah menutup akses ke aplikasi Facebook dan Whats App.
“Jaringan media sosial utama dan aplikasi pengiriman pesan, Facebook dan Whats App, telah diblokir di dalam negeri untuk mencegah kesalahan informasi dan rumor,” ujar Menteri Pertahanan Ruwan Wijewardene, seperti dilansir Reuters.
Tak cuma media sosial, Pemerintah Sri Lanka juga memberlakukan jam malam.
“Jam malam akan diberlakukan sampai semuanya menjadi tenang,” imbuh dia kepada wartawan setempat.
Dari berbagai sumber
Editor: Ronny Adolof Buol


