Connect with us

ZONAPEDIA

Mau tahu 100 pulau terbesar di dunia? Jawa adalah pulau terpadat di dunia

Dalam daftar itu, Indonesia menyumbang beberapa pulau.

Published

on

ZONAUTARA.com – Tahukah anda bahwa 11 persen dari populasi dunia menjadikan pulau sebagai rumah mereka? Mungkin saat menyebut pulau, yang terpikirkan adalah sebuah pantai kecil yang dikelilingi dengan laut.

Namun David Garcia membuat sebuah visualisasi yang akan membantu anda memahami bahwa ada pulau yang berukuran sangat besar. Dia menyortir seluruh pulau di dunia dan membuat 100 daftar pulau terbesar.

Visualisasi itu memberikan skala perbandingan dari pulau terbesar Greenland hingga ke pulau yang berada pada nomor 100, Guadalcanal di Kepulauan Solomon.

Dan di daftar 10 pulau terbesar, Indonesia menyumbang dua pulau yakni pulau Kalimatan di urutan ketiga, dan pulau Sumatera di urutan keenam.

David mewarnai setiap pulau untuk membedakannya dari pengaruh iklim. Pulau-pulau berwarna biru berasal dari daerah kutub, sementara pulau-pulau pirus (turquoise) memiliki iklim sedang. Pulau berwarna hijau mewakili daerah tropis yang subur.

Amerika Utara menyumbang 32 pulau dalam daftar itu, namun 12 diantaranya tidak berpenghuni karena berada di wilayah Arktik yang sangat dingin.

  • 28 pulau berada di Asia
    Total populasi: 510.4 juta orang
  • 14 pulau berada di Eropa
    Total populasi: 83.8 juta orang
  • 32 pulau berada di Amerika Utara
    Total populasi: 40.7 juta orang
  • 12 pulau berada di Oceania
    Total populasi: 18.3 juta orang

Dan, jika ditilik dari jumlah populasi yang menghuninya, pulau Jawa berada diranking pertama. Jawa dihuni hingga 141 juta orang atau seribu per kilometer persegi, yang membuatnya menjadi pulau terpadat di dunia.

Clik untuk memperbesar.

Daftar 20 pulau terbesar dan terpadat

Sumber: Visual Capitalist

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

ZONAPEDIA

Festival Budaya Lembah Baliem bersolek gagah

Published

on

zonautara.com

JAYAWIJAYA, ZONAUTARA.com – Didatangi wisatawan domestik dan mancanegara, Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) 2019 bersolek dengan gagah. Pada pembukaan FBLB yang dipusatkan di lapangan terbuka di Distrik Welesi, Rabu (07/08/2019), terlihat spektakuler dengan berbagai atraksi budaya serta produk-produk budaya dan kerajinan tangan yang dipamerkan warga lokal.

Acara pembukaan kegiatan yang mengangkat tema Warisan Budaya sebagai Jejak Peradaban dan subtema Peradaban Seni dan Budaya Suku Hula sebagai Aset dan Warisan Nusantara ini diwarnai dengan tarian kolosal pelajar tingkat SMA yang mengekspresikan tradisi dan budaya suku Ubula yang mendiami Lembah Baliem.

Pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia noken terpanjang yakni sepanjang 30 meter turut memberi kesan yang hampir tidak bisa dibahasakan dengan kata-kata. Noken merupakan tas tradisional khas orang Papua yang terbuat dari anyaman jerami yang rumit dan bernilai seni tinggi.

Baca: Festival tertua, jejak perang suku di tanah Papua

Peserta yang meramaikan kegiatan FBLB ini tercatat berasal dari 40 distrik yang ada di Kabupaten Jayawijaya. Mereka semua mengisi berbagai kegiatan, termasuk jenis-jenis lomba yang di antaranya Lomba Perang-perangan, Lomba Tarian, Lomba Tiup Musik Tradisional, Karapan Babi, Anyaman Noken, Membuat Baju Noken, serta Lomba Lempar Sege dan Panahan.

Ada 23 peserta yang terlibat dalam Lomba Perang-perangan, 17 peserta yang mengikuti Lomba Tarian, dan 26 peserta yang memeriahkan Lomba Tiup Musik Tradisional. Pada Karapan Babi diikuti sebanyak 20 peserta, Anyaman Noken diikuti 20 peserta, dan Membuat Baju Noken dimeriahkan 7 peserta.

Sementara pada Lomba Lempar Sege dan Panahan yang dihebohkan para peserta yang berasal dari perwakilan berbagai Organisasi Perangkat Daerah di Kabupaten Jayawijaya.

zonautara.com
Perempuan-perempuan Papua dengan baju dan tas noken pada momentum pembukaan, Rabu (07/08/2019).(Foto: zonautara.com/Ronny Buol)

Bupati Jayawijaya John Richard Banua mengatakan, konsep FBLB di tahun 2019 ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya karena adanya penambahan tiga arena, kampung festival, kampus festival, dan pasar festival. Tujuannya agar pengunjung dapat melihat dan mempelajari miniatur jejak peradaban suku Hula.

“FBLB telah memberi dampak positif dan membentuk pola pikir masyarakat lokal di Jayawijaya. Masyarakat kota Wamena dan sekitarnya semakin mengerti bahwa perang suku sangat merugikan kehidupan sosial masyarakat lokal,” kata Bupati John.

Menurutnya, menjadi sarana melindungi nilai-nilai seni dan budaya masyakat Baliem yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari warisan budaya nusantara.

“Pemerintah Kabupaten Jayawijaya akan terus memberikan perhatian yang serius terhadap kemajuan wisata dan perlindungan terhadap kebudayaan lokal karena secara langsung akan meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujar Bupati John.

Baca juga: Yohana jadi menteri pertama hadiri Festival Budaya Lembah Baliem

Laporan: Ronny Buol

Editor: Rahadih Gedoan

Continue Reading

Trending

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com