Connect with us

Sosial Kemasyarakatan

Temuan arkeologi dan budaya megalitikum akan dipamerkan di Gorontalo

Balai Arkeologi Manado menggelarnya di rumah adat Poboide, Limboto

Bagikan !

Published

on

Pertemuan Kepala Balai Arkeologi Manado, Wuri Handoko dan Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Gorontalo, Ranto Naki yang membahas rencana pameran dan sosialisasi. (Foto: ROA)

GORONTALO, ZONAUTARA.com – Balai Arkeologi Manado akan menyajikan sejumlah artefak dan dokumen penelitian arkeologi di Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah dalam sebuah pameran dan penyuluhan di Kabupaten Gorontalo.

Temuan arkeologi menarik di Gorontalo akan disajikan lebih detail sebagai menu utama pameran ini. Artefak ini antara lain gerabah, manusia Oluhuta, kapak batu dan temuan pada masa kolonial.

Budaya megalitikum yang telah berusia ribuan tahun juga akan menjadi sajian yang menarik, arca-arca batu dari Sulawesi Tengah akan berbicara dalam narasi dan dokumentasi yang apik, demikian juga waruga atau kubur batu masyarakat Minahasa masa lalu.

Pameran arkeologi ini akan digelar pada Kamis-Jumat (27-28/6/2019) di rumah adat Bantayo Poboide Kota Limboto.

Selain pameran, dalam kegiatan ini juga akan disajikan film dokumenter yang akan diputar oleh bioskop keliling milik Balai Pelestarian Cagar Budaya.

“Kami sudah melakukan survey lokasi dan berkomunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Gorontalo,” kata Wuri Handoko, Kepala Balai Arkeologi Manado, Senin (24/6/2019).

Dalam pameran ini juga akan digelar sosialisasi potensi arkeologi di Kabupaten Gorontalo dan manfaatnya bagi masyarakat.

Balai Arkeologi Manado merupakan lembaga penelitian arkeologi yang memiliki wilayah kerja di tiga provinsi, Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Dari tiga daerah inilah artefak dan informasi akan dipamerkan.

Dipilihnya rumah adat Bantayo Poboide sebagai lokasi pameran arkeologi ini tidak lepas dari peran Pemerintah Kabupaten Gorontalo yang memberi perhatian lebih kepada kebudayaan. Bahkan di lokasi ini juga telah dibangun Taman Budaya sebagai wahana pemajuan kebudayaan dan pusat kegiatan masyarakat Gorontalo.

“Pameran dan sosialisasi arkeologi ini sebagai sarana penyebarluasan informasi, pengembangan arkeologi dan pembangunan karakter bangsa,” ujar Wuri Handoko.

Pameran ini terbuka untuk masyarakat umum, terutama pelajar yang ingin mengetahui lebih dalam tentang dunia arkeologi dan perannya di masyarakat. Warga juga dapat menyaksikan temuan-temuan para peneliti di Gorontalo.

“Kegiatan ini juga untuk memperingati Hari Purbakala ke-106, kami mengundang masyarakat untuk menyaksikan pameran ini,” kata Lodewyk Mamahani, ketua panitia pameran yang didampingi Nasrullah Azis, Ketua panitia penyuluhan. (roa)

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sosial Kemasyarakatan

Petugas temukan uang Rp 194,5 juta dari hasil mengemis seorang kakek

Ini untuk kedua kalinya dia terjaring petugas.

Bagikan !

Published

on

Ilustrasi pengemis (Pixabay.com)

ZONAUTARA.com – Petugas Suku Dinas sosial Kota Administrasi Jakarta Selatan menemukan uang sejumlah Rp 194,5 juta dari seorang pengemis yang terjaring razia Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).

“Kami melakukan razia PMKS di sejumlah titik, kami menjangkau sembilan orang PMKS salah satunya kakek Mukhlis ini,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Suku Dinas Sosial Kota Administrasi Jakarta Selatan, Mursidin.

Mukhlis yang berusia 65 tahun ini telah dua kali diciduk petugas. Pada 2017, petugas juga menemukan uang hasil mengemis sebesar Rp 90 juta dari tangan Mukhlis.

Saat hendak ditangkap petugas, Muklis berusaha kabur hingga masuk ke dalam sebuah bank.

“Saat akan diamankan, kakek ini berusaha menghindari petugas,” katanya.

Setelah dilakukan koordinasi dengan pihak bank, kakek tersebut diamankan petugas untuk dibawa ke panti sosial.

Mukhlis ke mana-mana selalu membawa tas ransel setiap mengemis di wilayah Gandari. Uang senilai Rp 194,5 juta tersebut disimpan dalam tas ranselnya.

“Kali ini kita tetap akan kirim kakek Mukhlis ke panti sosial untuk dilakukan pembinaan sesuai peraturan yang ada,” kata Mursidin

Bagikan !
Continue Reading
Advertisement

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com