Connect with us

POJOK RONNY

Mari kita hormati putusan MK

Cukuplah energi yang tersita untuk pesta demoktasi. Sekarang waktunya bekerja membangun bangsa dan negara.

Bagikan !

Published

on

Hari ini, Rabu (27/6/2019), Mahkamah Konstitusi (MK) akan menggelar sidang dengan agenda utama pembacaan putusan sengketa perselisihan hasil Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2019-2024.

Sidang ini dimajukan sehari lebih awal sebagaimana jadwal yang seharusnya pada Jumat (28/6) besok. Persidangan direncanakan akan digelar pada pukul 12.30 WIB.

Hari ini akan menjadi penting bagi Pemohon, pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi). Hasil rembuk para hakim MK yang menyidangkan gugatan mereka, akan menentukan hasil akhir Pilpres, apakah MK akan mengabulkan gugatan pemohon atau mempertegas hasil rekapitulasi perhitungan suara yang sudah disahkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Pemohon menjadikan KPU sebagai pihak termohon, dan meminta MK untuk memerintahkan kepada KPU agar menetapkan Prabowo-Sandi sebagai presiden dan wakil presiden terpilih periode 2019-2024.

Alasan mereka adalah telah terjadi kecurangan yang bersifat terstruktur, sistematis dan masif (TSM) pada pelaksanaan Pilres, sehingga Prabowo-Sandi dirugikan.

Kita semua mengikuti sidang MK yang digelar secara terbuka. Baik kubu pemohon, termohon maupun para pihak telah didengar dan diberi kesempatan untuk mengajukan bukti serta saksi-saksinya. Begitu juga, majelis hakim telah mendengar keterangan dari para ahli.

Kini waktunya majelis hakim membacakan keputusannya. Hanya ada dua kemungkinan, Joko Widodo dan Ma’ruf Amin tetap menjadi presiden dan wakil presiden terpilih atau memerintahkan kepada KPU agar Pilpres digelar ulang.

Kita menaruh harapan, majelis hakim akan menegakkan kebenaran dan keadilan secara utuh sesuai dengan fakta persidangan. Sikap mejelis hakim bukan saja akan menentukan arah demokrasi yang sudah ditempuh lewat pemilihan umum, tetapi juga akan menentukan bagaimana bangsa ini menghadapi hari-hari selanjutnya.

Pesta demokrasi itu telah terlalu banyak menyita energi bangsa ini. Sudah waktunya, kita sebagai bangsa yang besar kembali fokus bekerja, membangun bersama negeri yang kita cintai ini. Negeri tempat kita berpijak. Negeri yang tanah dan airnya telah memberikan kita kehidupan.

Oleh karena itu, apapun keputusan majelis hakim nanti, tentu sebagai bangsa yang besar, rakyat yang mencintai negerinya, harus menerima. Baik itu bagi kubu pemohon, termohon dan para pihak.

Terlebih bagi kedua pasangan, Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi. Sebab mereka adalah tokoh bangsa yang sepatutnya memberikan teladan.

Bagikan !
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

POJOK RONNY

Natal, pikirkanlah harmonisasi dengan alam

Kasih Natal yang damai itu bukan hanya bagi sesama, tetapi juga mengirim pesan harmonisasi kedamaian dengan alam.

Bagikan !

Published

on

Hidup dalam kesederhanaan adalah pijakan Yesus Kristus ketika menyebarkan ajarannya semasa hidup. Teladan kesederhanaan semacam itu semestinya juga menjadi pijakan kita umat Nasrani dalam merayakan Natal.

Kasih yang Yesus bawa bukanlah barang mewah yang harus ditebus dengan harta yang paling mahal. Dia menginginkan kita menyebarkan Kasih dengan kerendahan dan dari hati yang paling tulus. Kasih sejatinya bukan perbuatan transaksional melainkan keterpanggilan. Mengasihi sesama manusia tidaklah mungkin dilakukan jika kita tidak mengasihi Tuhan. Itulah inti ajaran Yesus.

Praktik kesederhanaan hidup yang didemonstrasikan Yesus selama hidupnya, semestinya itu juga yang kita ejawantahkan sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Kesederhanaan akan menuntun kita pada kebahagiaan nurani yang tidak mengambil berlebihan dan menghormati hak orang lain.

Kesederhanaan adalah energi kehidupan yang memberi arti dan manfaat yang luar biasa. Dengannya kita menghormati orang lain sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan. Pun demikian kita menghormati alam dengan sikap yang sama. Kita membutuhkan alam, sebab dari sana juga kita menopang kehidupan. Dari alamlah kita memperoleh pangan, papan dan sandang.

Tetapi mengeksploitasi alam secara berlebihan merupakan tindakan yang jauh dari rasa hormat terhadap Pencipta. Alam punya batas toleransi, dan jika kita melewatinya alam akan murka.

Sepanjang 2019, setidaknya hingga 23 Desember, Badan Penanggulangan Bencana Nasional mencatat telah terjadi 3.721 bencana alam di Indonesia. Angka itu hanyalah bencana yang menimbulkan korban jiwa, tidak termasuk bencana alam yang tidak memakan korban jiwa.

Bencana yang dicatat itu meliputi kebakaran hutan dan lahan, tanah longsor, kekeringan, gempa bumi, gelombang pasang, erupsi gunung berapi, puting beliung dan sebagainya.

Di luar bencana yang disebabkan aktivitas geologi, ribuan bencana disebabkan oleh eksploitasi berlebihan manusia terhadap alam, yang justru menopang kehidupannya di dunia.

Saat ini kontinen-kontinen bumi telah disesaki hampir 8 milar manusia. Jika semua orang itu ditempatkan dalam satu timbangan, beratnya akan melebihi 300 juta ton. Jika semua binatang domestikasi (sapi, babi, domba, ayam, dll) dijejalkan di satu tempat, beratnya mencapai 700 juta ton. Sebaliknya berat seluruh binatang liar (maleo, anoa, penguin, harimau, yaki, dsb) tak sampai 100 juta ton.

Layar-layar televisi dan buku-buku anak kita masih dipenuhi dengan jepara, ikan paus, macan tutul, gajah, monyet, dan hewan liar lainnya. Tetapi di alam riil sisanya tinggal sedikit, bahkan beberapa di antaranya telah benar-benar punah.

Jika kita terus-terusan mengeksploitasi alam tanpa memikirkan degradasi ekologis, percayalah satu saat semuanya tinggal sejarah belaka. Bayangkanlah jika kita sebagai manusia hidup di bumi tanpa ditemani makhluk lain.

Ajaran Kasih yang dibawa Yesus ribuan tahun lalu, dan momentum kelahiranNya kita rayakan dengan Natal, semestinya mampu mengingatkan kita tentang kesederhanaan, sebagaimana Dia lahir di tempat yang paling sederhana.

Sudah saatnya kita merenungkan ini dengan sungguh-sungguh, lalu mempraktikkan itu dalam kehidupan kita. Kasih Natal yang damai itu bukan hanya bagi sesama, tetapi juga mengirim pesan harmonisasi kedamaian dengan alam. Pikirkan itu!.

Selamat merayakan Natal.

Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com