Connect with us

Lingkungan dan Konservasi

Enam Balita kena ISPA, warga Tateli suarakan tutup perusahaan pembuat aspal

Published

on

Udara di Desa Tateli yang tercemar akibat aktivitas perusahaan pembuat aspal. (Foto: zonautara.com)

MANDOLANG, ZONAUTARA.com – Sudah tiga pekan perusahaan pembuat aspal beroperasi di lokasi Galian C, Desa Tateli Tiga, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut).

Aktivitas perusahaan itu pun dianggap merusak lingkungan dan menyebabkan polusi udara akibat dari proses pembuatan aspal. Di mana, pembuatan aspal tersebut menghasilkan debu yang berterbangan sampai ke pemukiman warga.

Kondisi ini pun dikeluhkan warga. Pasalnya, udara di wilayah tersebut dinilai sudah mulai tercemar. Bukan hanya itu, enam balita dilaporkan terserang penyakit infeksi saluran pernapasan atau ISPA sejak perusahaan tersebut beroperasi.

Kondisi ini pun dikeluhkan masyarakat kepada pemerintah desa setempat. Hukum Tua Desa Tateli Tiga pun membuat pertemuan dengan perwakilan masyarakat desa di sekitar tambang Galian C, pada Kamis (4/7/2019).

Pada pertemuan tersebut, dibahas soal bagaimana solusi untuk tambang-tambang perusahaan di Galian C agar tidak merusak lingkungan.

Ketua BPD Desa Tateli Tiga Jack Andalangi yang turut hadir dalam pertemuan tersebut mengungkapkan, mereka akan terus berjuang demi masyarakat karena sudah menyangkut kesehatan.

“Pertemuan ini akan berlanjut, kami juga akan lakukan pertemuan dengan Camat Mandolang untuk membahas lebih lanjut mengenai pencemaran udara di desa kami,” ungkap Jack kepada wartawan Zona Utara.

Menurut Jack, langkah awal untuk memenuhi keluhan warga ini, mereka akan membuat petisi yang akan ditanda tangani masyarakat.

Kemudian, petisi tersebut akan diserahkan kepada pemerintah terkait yang ada di Kabupaten Minahasa. Di dalamnya akan ada deadline untuk Pemerintah Kabupaten menanggapi masalah lingkungan di desa ini.

“Kami harap ada solusi dari pemerintah Kabupaten terhadap masalah lingkungan di sini,” kata Jack yang juga merupakan Ketua Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) Sulut.

Hukum Tua Desa Tateli Tiga Stenly Gumalang sempat menegur perusahaan tersebut melalui telepon.

“Saya kaget melihat Desa sudah penuh debu berterbangan, saat itu juga saya langsung menghubungi via telepon kepada perusahaan tersebut,” ungkap Stenly.

Saat ditelepon, pihak perusahaan mengaku kalau mesin filter debu mereka sedang rusak.

“Hari itu juga mereka berhenti beroperasi, namun besoknya mereka kembali bekerja dan mengeluarkan debu hasil pembuatan aspal,” kata Stenly.

Menurut Stenly, mereka sebenarnya tidak ingin menutup perusahaan tambang di Galian C jika mereka menggunakan alat-alat yang ramah lingkungan.

Sangat disayangkan, pengaruh buruk polusi udara ini ditanggung oleh balita yang sampai terkena penyakit ISPA.

Pemerintah Desa Tateli Tiga mengharapkan adanya tindakan dari Puskemas Tateli, untuk mengidentifikasi penyakit pada masyarakat yang tinggal di sekitaran area Galian C.

“Karena dampak polusi udara saat ini bukan hanya berpengaruh buruk di pemukiman Desa Tateli Tiga, namun sudah sampai ke desa-desa sekitar, seperti Desa Tateli, Tateli Dua, dan Koha,” pungkas Stenly.

Editor : Christo Senduk

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lingkungan dan Konservasi

Mencari resolusi Gunung Tumpa, beri pendapat anda

Gunung Tumpa merupakan kawasan dalam Taman Hutan Raya H.V. Worang.

Bagikan !

Published

on

ZONAUTARA.com – BIOCOP Universitas Sam Ratulangi Manado dan Perkumpulan Warna Sulut, akan mengadakan Semiloka semi-virtual di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) H.V. Worang atau yang lebih dikenal dengan nama Gunung Tumpa.

Semiloka dengan tagline “Masih bisakah hutan kita diselamatkan” itu akan digelar pada Selasa (17/9/2019) pukul 15.00 – 19.00 WITA. Tujuannya adalah mencari resolusi penanganan kawasan hutan Gunung Tumpa.

Gunung Tumpa berada di perbukitan Tongkaina memiliki luas sekitar 215 hektar dengan ketinggian 700 meter diatas permukaan laut.

Kawasan hutan ini terdiri dari hutan lindung dengan wilayah yang berbukit dan wilayah yang datar serta landai. Didalamnya banyak tumbuh hamparan semak, pohon perdu, pohon kelapa, dan sebagainya.

Berbagai satwa juga dilaporkan masih banyak terdapat di wilayah yang mudah dijangkau dari pusat Kota Manado ini, antara lain ular, biawak, monyet, tarsius, dan berbagai jenis burung.

Tahura ini punya pemandangan hutan lindung yang masih alami. Dari Tumpa bisa menikmati matahari terbit, bulan purnama, matahari tenggelam, melihat dan mengamati flora dan fauna, hiking dan tracking, serta paragliding.

Jika anda punya pendapat dan saran tentang resolusi atau permasalahan lingkungan untuk bahan semiloka ini, bisa menginputnya lewat link ini. Dan jika ingin hadir bisa mendaftar pada link ini.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia
Continue Reading

LAPORAN KHUSUS

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com