Connect with us

SUARA.com

Massa mahasiswa mulai bubar tertib

Demonstran sampaikan mosi tidak percaya kepada Sandra Rondonuwu

Bagikan !

Published

on

ZONAUTARA.com – Mahasiswa yang demonstrasi gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut), Rabu (25/09/2019), mulai membubarkan diri dengan tertib.

Tuntutan mereka ditandatangani enam angota DPRD Sulut, di antaranya Victor Mailangkay, Amir Liputo, Yusra Alhabsyi, Fransiscus Silangen, Melky Pengemanan, dan Fabian Kaloh.

zonautara
Tuntutan para mahasiswa ditandatangani Legislator Sulut.(Image: zonautara.com/Ronny Buol)

Orator sempat mengatakan bahwa jika tuntutan mereka tidak diserahkan ke DPR RI, maka mahasiswa akan turun demonstrasi lagi. Massa juga sempat mengecam Sandra Rondonuwu dan menyampaikan mosi tidak percaya

“Dia mengebiri, menciderai hasil amanat rakyat,” kata orator.

Setelah sejumlah organisasi membubarkan diri, ada yang memanfaatkan momentum untuk berfoto ria.

Demonstran berfoto ria seusai demonstrasi.(Image: zonautara.com/Ronny Buol)

Di luar dugaan, mahasiswa dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado kembali berkumpul dan mulai menyanyikan yel-yel penyemangat.

Akhirnya, beberapa anggota DPRD Sulut kembali keluar menemui mahasiswa IAIN Manado. Para anggota Legislatif itu memilih duduk di tangga sambil mendengarkan tuntutan demonstran yang meminta untuk berjanji akan mengantar tuntutan ke DPR RI.

Mahasiswa IAIN Manado bertahan untuk meminta janji anggota DPRD Sulut mengantar tuntutan ke DPR RI.(Image: zonautara.com/Ronny Buol)

Legislator yang menerima demonstran pun menandatangani janji untuk mengantar tuntutan ke DPR RI.

Editor: Rahadih Gedoan

Bagikan !

Lingkungan dan Konservasi

Diduga kesetrum listrik, 5 gajah Sumatera ditemukan mati

BKSDA Aceh dan kepolisian masih menyelidiki temuan ini.

Bagikan !

Published

on

Sumber: istimewa

ZONAUTARA.com – Kepolisian dari Polres Aceh Jaya masih menelusuri dan mencari tahu soal kematian lima ekor gajah Sumatera yang ditemukan sudah dalam kondisi tinggal tulang belulang.

Pada Rabu (1/1/2020), petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menemukan tulang belulang dua ekor gajah di Desa Tuwi Pria, Aceh, setelah mendapat laporan dari warga.

Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto menjelaskan bahwa ada lima ekor gajah yang ditemukan tinggal tulang belulang. Dua ekor gajah yang ditemukan pertama saling berdekatan hanya terpaut jarak sekitar 50 meter.

Pada Kamis (2/1), petugas BKSDA Aceh kembali melakukan pencarian di desa yang sama dan mendatangi enam titik lokasi lain. Ada tiga ekor gajah lagi yang ditemukan sudah dalam kondisi tinggal tulang belulang.

Kematian gajah-gajah tersebut diduga terkena arus listrik. Di sekitar lokasi penemuan tulang belulang gajah ada pagar listrik yang dipasang untuk melindungi perkebunan sawit masyarakat.

“Ada lima ekor gajah dari fisik tengkorak dan rahang. Empat tengkorak dan rahang ditemukan di lapangan serta tulang belulang lainnya. Tapi yang meyakini kami lima ekor itu tadi tengkorak kepala ada empat dan satu rahang. Dugaan sementara karena listrik dari pagar-pagar listrik yang ada di lokasi dimaba gajah tersebut ditemukan mati,” kata Agus sebagaimana dilansir VOA, Kamis (2/1) malam.

Lanjut Agus, saat ini kepolisian masih menelusuri dan mencari tahu pasti serta mengumpulkan barang bukti.

“Itu (indikasi dibunuh) masih diproses oleh pihak Polres Aceh Jaya. Itu perkebunan masyarakat tapi lebih jauh pihak kepolisian yang akan menelusurinya,” ucapnya.

BKSDA Aceh mengimbau kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian alam khususnya gajah Sumatra dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat berbagai jenis satwa liar.

BKSDA Aceh juga berharap agar masyarakat tidak lagi menggunakan pagar listrik yang bertegangan tinggi untuk melindungi kebunnya. Bukan efek kejut yang ditimbulkan namun bisa membahayakan satwa liar dan juga manusia.

Tak ada gading

Sementara itu, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Indonesia (WALHI) Aceh, Muhammad Nur mengatakan saat ini masyarakat di wilayah yang kerap dilintasi gajah Sumatera telah menganggap satwa tersebut sebagai hama. Terbukti banyaknya ditemukan pagar listrik untuk melindungi kebun milik masyarakat.

“Pagar listrik itu dipasang pada jalur perlintasan gajah. Itu tempat hidupnya gajah yang memang jalurnya satwa liar tersebut. Artinya warga sudah melihat gajah itu sebagai hama, tidak lagi satwa dilindungi. Ini kondisi yang cukup berbahaya,” katanya kepada VOA.

WALHI Aceh menilai kematian lima ekor gajah Sumatera di Kabupaten Aceh Jaya merupakan kejadian luar biasa, karena daerah tersebut tidak termasuk wilayah dimana kerap terjadi konflik antara gajah dengan manusia.

WALHI Aceh menduga ada yang dengan sengaja membunuh gajah-gajah tersebut. Kata Nur, bukti lain menurut kepolisian tidak ditemukan gading pada saat penemuan tulang belulang lima gajah tersebut.

“Artinya gading itu bisa saja bukan target utama tapi karena satwa itu mengganggu perkebunan sehingga dibunuh dengan listrik. Kami duga ada bisnis gading gajah yang tersembunyi dan terselubung. Pada akhirnya tahu juga publik bahwa di sana ada banyak gajah. Sehari-hari gajah ke Kabupaten Bener Meriah mencari makan tapi hidup populasinya itu di Aceh Jaya,” jelas Nur.

Berdasarkan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List of Threatened Species, gajah yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera ini berstatus Critically Endangered atau spesies yang terancam kritis, berisiko tinggi untuk punah di alam liar.

Editor: Ronny A. Buol

Bagikan !
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com