Connect with us

CARI TAHU

Waspadai jarak anda bila sedang berkomunikasi

Anda bisa dianggap sedang menerobos hingga ke batas wilayah tubuh

Bagikan !

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.comJarak ternyata memiliki makna penting dalam berkomunikasi dengan orang lain. Bila salah mengatur jarak akan juga salah dipahami oleh lawan bicara. Bila anda seorang karyawan dan sedang bicara dengan atasan dengan jarak sejengkal, anda bisa dianggap sedang menerobos hingga ke batas wilayah tubuh (body territory).

Di kalangan akademisi, dikenal istilah proksemik (kedekatan). Istilah tersebut dikenal sebagai cara seseorang menggunakan ruang dalam berkomunikasi. Proksemik (proxemics) pertama kali dikemukakan oleh seorang antropolog, Edward T. Hall, pada tahun 1963.

Edward mendefinisikan proksemik sebagai “the interrelated observations and theories of humans use of space as a specialized elaboration of culture”. Edward mengemukakan ada empat zona spasial dalam interaksi sosial di Amerika Serikat, yaitu zona intim, zona pribadi, zona sosial, dan zona publik.

zonautara.com
Keintiman.(Image: Leah Kelley/pexels.com)

Zona intim merupakan jarak dengan orang yang paling dekat dengan kita, yang kurang-lebih 0 sampai 45 sentimeter (cm). Jarak ini biasanya hanya untuk hubungan seperti orang tua dengan anak atau suami-istri.

Zona pribadi merupakan jarak untuk kawan-kawan akrab, yang berjarak 45 cm sampai  1 meter. Terkadang orang yang tidak akrab diizinkan memasuki zona pribadi, misalnya waktu sedang berkenalan.

Sedangkan zona sosial merupakan ruang yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari, misalnya antara pembeli dengan penjual, antara manajer dan pegawainya. Zona ini berjarak sekitar 1 meter hingga 3 meter.

Terakhir, zona publik. Zona ini berjarak mulai sekitar 3 meter sampai tidak terbatas. Dalam zona ini dapat mencerminkan jarak antara orang-orang yang tidak saling mengenal. Misalnya, antara penceramah dengan khalayak pendengarnya.

Kajian Edward tersebut tentu bisa berbeda perilaku masyarakat sesuai latar belakang budaya masing-masing.

Editor: Rahadih Gedoan

Bagikan !
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CARI TAHU

Sudah rindu nge-mal dan nongkrong di kafe? Ini aturannya saat New Normal

Semuanya harus dijalankan dengan mematuhi protokol kesehatan.

Bagikan !

Published

on

Ilustrasi dari Pexels.com

ZONAUTARA.com – Masa karantina berbulan-bulan membuat kita lupa bagaimana rasanya jalan-jalan di mal dan nongkrong di kafe bersama teman-teman.

Nah, kini pemerintah tengah menyiapkan New Normal agar warga bisa beraktifitas kembali tapi dengan mematuhi aturan atau protokol penanganan covid-19.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengeluarkan aturan tentang pedoman tatanan normal baru (New Normal) produktif dan aman Coronavirus Disease 2019.

Di dalamnya mengatur protokol kegiatan untuk toko dan pusat komersial seperti pusat perbelanjaan, butik, supermarket, dan bank yang harus menetapkan jumlah maksimum orang yang bisa memasuki tempat tersebut.

Pusat perbelanjaan juga harus gencar-gencarnya mensosialisasikan transaksi online dan metode pembayaran tanpa uang tunai (cashless).

Pengelola mal harus membatasi jumlah orang yang masuk lift dan harus mulai memperbanyak mesin penjual makanan/minuman otomatis daripada mengoperasikan kafetaria. Hal tersebut bertujuan untuk untuk mengurangi kontak langsung.

Menerapkan aturan jarak fisik, dan semua fasilitas berjarak satu meter dan lebih disarankan dua meter. Dan juga tetap dilakukan pemeriksaan suhu tubuh.

Selain pusat perbelanjaan, salon dan spa juga sudah diijinkan beroperasi. Tetapi para pegawai harus menggunakan masker dan sarung tangan. Harus sering-sering mencuci tangan dan membersihkan alat-alat mereka dengan cairan disinfektan.

Penerapan aturan juga berlaku untuk restorant dan kafe, dimana sesuai surat yang ditandatangani oleh Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, pengunjung maksimal 40% dari jumlah kunjungan saat kondisi normal, dan jumlah para pengunjung harus dibatasi.

Pemeriksaan kontrol ketat di setiap pintu masuk dan keluar untuk mencegah terjadinya kerumunan sesuai dengan protokol kesehatan.

Pengelola dan pegawai atau petugas juga harus negatif COVID-19 berdasarkan bukti hasil tes PCR/Rapid yang dilakukan pemilik atau dinas kesehatan setempat. Selain itu menggunakan masker, face shield dan sarung tangan selama beraktivitas.

Editor: Christo Senduk

Bagikan !
Continue Reading
Klik untuk melihat visualisasinya

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com