Connect with us

Sorotan

Penanganan virus Corona di Indonesia dinilai terburuk

Mungkin banyak kasus pada anak-anak yang tidak terdeteksi karena penyakit pada anak-anak cenderung ringan.

Bagikan !

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Para ilmuwan menilai cara penanganan virus Corona (Covid-19) di Indonesia terburuk. Lee Morgenbesser, seorang dosen Griffith University, ahli dalam politik Asia Tenggara, mengatakan bahwa dari semua negara di Asia Tenggara, Indonesia yang paling mengkhawatirkan.

“Indonesia memiliki populasi yang sangat besar namun birokrasi yang tidak rapi. Penanganan krisis yang buruk di Indonesia akan membuat negara terpapar semakin buruk,” kata Lee yang dilansir laman smh.com, Selasa (24/03/2020).

Lee juga menyampaikan ketidakpercayannya terhadap angka yang dilaporkan oleh Laos dan Kamboja, yang mengklaim hingga hari ini tidak ada yang terindikasi virus corona. Setiap pemerintah di wilayah ini, menurutnya, krisis Corona merupakan tes kompetensi yang setara dengan krisis keuangan, serangan teroris besar, atau perang.

“Ini adalah ujian terhadap sesuatu yang tidak bisa anda lihat dan anda hanya punya sedikit kontrol, paling tidak pada awalnya. Yang diuji adalah seberapa transparan diri anda, akuntabel diri anda, dan seberapa efisien sistem yang telah anda tempatkan,” ujarnya.

Ian Mackay, profesor virologi di Universitas Queensland, menyoroti adanya beberapa tanda peringatan yang datang dari Indonesia. Menurutnya, peringatan itu memberi sinyal bahwa situasi di Indonesia bisa jauh lebih buruk daripada jumlah kasus yang diekspos ke publik.

“Ketika anda melihat banyak kematian dalam waktu singkat, seperti yang terjadi, itu menunjukkan ada beberapa kasus selama beberapa waktu. Kami juga telah melihat banyak pelancong yang terinfeksi keluar dari Indonesia dan itu masalah lain karena mereka hanya belum cukup diuji,” ujar Ian.

Sementara itu, tingkat kematian di Indonesia kini tercatat sekitar delapan persen dari kasus, jauh lebih tinggi daripada rata-rata internasional. Prosentase itu mungkin hanya mencerminkan sejumlah kecil tes yang dilakukan secara proporsional.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia telah menyangkal adanya penyebaran virus selama berminggu-minggu. Indonesia telah menguji sekitar 1.500 orang dari 270 juta populasi, angka yang tidak sebanding jika dibandingkan dengan lebih dari 80 ribu orang yang diuji di Australia dan 250 ribu orang di Korea Selatan.

Beberapa negara di Asia telah mencatat kenaikan terbesar dalam satu hari untuk jumlah kasus Covid-19. Melalui situs resmi Johns Hopkins Coronavirus Resource Center pada Selasa (24/03/2020), Indonesia tercatat telah ada 579 kasus, Malaysia 1.518 kasus, dan Thailand sebanyak 721 kasus. Vietnam (123 kasus), Kamboja (87 kasus), dan Philipina (462 kasus) mencatat peningkatan infeksi harian yang stabil. Sedangkan Laos dan Myanmar masih mengklaim tidak ada kasus.

Singapura sendiri, yang mencatat kasus pertama kali pada 23 Januari lalu, telah mencapai 509 infeksi. Negara ini melaporkan, telah terjadi dua kematian pertamanya dari kasus Covid-19 pada Sabtu (21/03/2020). Salah satu korban adalah seorang WNI dari Indonesia.

Clarence Tam, asisten profesor penyakit menular di Universitas Nasional Singapura, mengatakan Hong Kong dan Singapura telah menangani pandemi virus Corona dengan relatif baik. Kedua negara ini memiliki keuntungan tersendiri, seperti wilayah yang lebih kecil sehingga memiliki batas terkontrol dengan baik dan membuat pelacakan kontak dan penyaringan kontak intensif lebih mudah.

Clarence mengatakan, kedua negara itu telah memiliki bekal pengalaman dalam menghadapi epidemi SARS pada tahun 2003. Artinya, selama 15 tahun terakhir kedua negara itu juga telah berinvestasi dalam kapasitas dan infrastruktur untuk menangani jenis wabah seperti Covid-19.

“Untuk Covid-19, saat ini kami tidak tahu berapa banyak anak yang tertular. Mungkin banyak kasus pada anak-anak yang tidak terdeteksi karena penyakit pada anak-anak cenderung ringan, tetapi kami juga tidak melihat banyak wabah di sekolah,” kata Clarence, seperti dikutip dari Sarasota Memorial Health Care System.

Dikatakannya, hal penting yang dapat dipelajari dari negara seperti Singapura, Hong Kong, Taiwan, dan Korea Selatan dalam menangani virus Corona adalah pengujian yang dilakukan sejak awal dan secara luas, isolasi yang efektif, penulusuran kontak, dan karantina. Itu menjadi kunci untuk mengendalikan virus di bawah kendali.

“Setiap negara yang belum dapat menerapkan langkah-langkah ini dengan cepat, untuk alasan apa pun, berisiko tinggi terjadi penularan pada masyarakat yang tidak terkendali, seperti yang kita lihat sekarang di sejumlah negara Eropa dan Amerika Serikat,” ujar Clarence.

Kasus lain, seperti di Malaysia juga menjadi perhatian khusus karena dilaporkan mengalami kenaikan lebih dari 100 kasus per hari selama lima hari berturut-turut, dan lebih dari dua pertiga dari kasus tersebut terkait dengan tiga hari acara Tabligh Akbar yang diselenggarakan pada akhir Februari lalu.

Tetapi dengan sistem kesehatan Malaysia relatif maju, para dokter dan profesornya terlatih dengan baik dan kompeten. Clarence menilai kondisi Malaysia lebih siap daripada vanyak negara di wilayah Asia Tenggara untuk menangani Covid-19 dan penutupan perbatasannya dengan orang asing.

Malaysia disebut telah memperkenalkan beberapa kontrol perbatasan yang paling ketat. Thailand dan Singapura juga melakukan hal serupa. Singapura memperkenalkan aturan karantina 14 hari untuk kedatangan internasional dan sementara melarang kedatangan dari negara-negara tertentu. Sedangkan, Philipina memberlakukan lockdown di seluruh kota termasuk Manila.

Clarence mengatakan, butuh waktu sekitar dua minggu untuk mengetahui apakah langkah-langkah baru dan ketat yang diambil Malaysia dapat memperlambat penyebaran virus. Namun, berbeda dengan Indonesia yang memiliki lebih dari 50 kali populasi Singapura dan yang telah melaporkan 49 orang meninggal, Clarence menilai kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini menimbulkan kekhawatiran terbesar.

Indonesia, Malaysia, dan Philipina menghadapi tantangan yang sangat spesifik karena populasi yang sangat besar dan tersebar luas, serta fakta bahwa negara-negara itu memiliki populasi pekerja imigran yang sangat besar.

“Untuk memiliki respons yang efektif dan terkoordinasi, negara membutuhkan investasi yang jauh lebih besar dalam memperkuat sistem kesehatan di seluruh wilayah,” kata Clarence.

Bagikan !
Beri Donasi

Sorotan

Dokter Tifauzia Tyassuma minta Jokowi segera lockdown

Tulisannya telah lebih dari 8 ribu kali dibagikan.

Bagikan !

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Tulisan dokter Tifauzia Tyassuma melalui akun facebooknya ini tiba-tiba menarik perhatian netizen. Tulisan yang agak mengkritik sikap Presiden Jokowi dalam menghadapi penyebaran Covid-19 ini telah lebih dari 8 ribu kali dibagikan.

Begini tulisannya:

YTH Presiden Jokowi

Kenapa saya sangat kecewa, jengkel, dan marah dengan cara Pemerintah RI mensikapi Bencana Dunia Covid-19 ini?

Karena sebagai Ahli Clinical Epidemiology dan secara khusus pernah meneliti Virus, saya sangat memahami proses perjalanan epidemiologis COVID-19 ini.

Perjalanan di bulan Maret 2020 ini masih baru dimulai, sementara perjalanan mutasi dan evolusi COVID-19 ini di dunia masih sangat panjang.

Mengapa di negara pertama terjangkit RRT, COVID-19 sudah mereda dalam 3 bulan?

1. Karena mereka kaya raya. Mereka kehilangan 20.000 Triliun untuk meredakan jangkitan COVID 19 dan berhasil.

2. Pemerintah mereka sigap cepat tangkas dalam SATU KOMANDO.

3. Perjuangan dan pengorbanan Dokter dan Praktisi Medis sangat hebat. Rela berjibaku melawan penyakit dan kematian tak kenal lelah tak kenal henti.

4. Partisipasi rakyat sangat luarbiasa. Berjuang habis-habisan dan rela diLOCKOWN dua bulan penuh tanpa mengeluh tanpa merengek tanpa protes.

Sementara ini, perjalanan COVID-19 di Indonesia BARU MULAI.
2 kasus 27 kasus 34 kasus 69 kasus 96 kasus.

Dan Pemerintah kebingungan dan sama sekali tak siap. Menggunakan buzzer dan Menkes yang dengan pongah dan sembrono menunjukkan COVID 19 bukan masalah besar.

Presiden sama sekali tidak didampingi oleh orang-orang yang kompeten.

Para Menteri kebingungan dan tidak kompak. Malah menjadikan sebagai lelucon dan gurauan. Padahal Pak Budi Karya Sumadi Menteri Perhubungan sudah menjadi korban COVID 19. pasca menjemput awak Kapal Pesiar yang 9 darinya terjangkit Covid 19.

Sekarang, kesombongan dan kepongahan Menteri Kesehatan kena batunya. Pak Menteri Perhubungan jadi korbannya.

Bapak Presiden YTH,

Setiap hari COVID 19 berevolusi. Semakin ganas dan semakin efektif dalam penyebarannya. Semakin mampu beradaptasi dengan lingkungan. Perhatikan bahwa hanya dalam hitungan 30 bari hampir seluruh permukaan bumi sudah terjangkiti olehnya.

Bapak Presiden.
Banyak Kepala.Negara, istri Kepala Negara, Menteri, Pejabat yang telah sakit dan terinfeksi COVID 19 dan mereka terbuka menyampaikan secara apa adanya.

Saat ini di Indonesia sudah ada Perawat yang wafat karena Covid 19 dan beberapa Dokter yang merawat pasien sudah terinfeksi pula.

Rakyat bingung. Terpecah belah dalam kebingungan. Rakyat yang manja dan malas ini yang terbiasa menadahkan tangan dan mengeluh ini tak kuat kena Pageblug.

Mereka harus dipimpin, Pak.

Saya tahu Bapak dilematis. Apa sebabnya? Karena Indonesia kaya hanya dilaporan. Apabila di Lockdown maka negara akan chaos dan ambruk dalam hitungan hari.

Tetapi apakah 271 juta rakyat inu harus dikorbankan ?

#Lockdown membuat kita mundur 10 langkah. Tetapi kita akan menyelamatkan banyak nyawa. Rakyat hanya perlu ditata dan diajarkan untuk prihatin dan lapar sejenak, tetapi mereka akan terhindar dari banyak kasus kematian.

Jangan lupakan juga kami Para Dokter dan Praktisi kesehatan di lapangan. Sudah pasti kami akan jihad fi sabilillah di garis terdepan bertarung nyawa kami siap syahid demi rakyat banyak.

Jumlah kami hanya 80.000 tentu tidak cukup kuat melawan pandemi, tapi kami siap.

Saya apreciate dengan teman-teman PAPDI yang mendukung #Lockdown. Thanks Dr Sally Aman Nasution dan mas Dokter @Eka Ginanjar. Kita siap berjihad tetapi alangkah lebih baik bila kasus diminimalisir dengan #lockdown.

Tolonglah Pak, pakai hati nurani Anda. #Lockdown 1 bulan saja. Dan insyaAllah kita akan kuat walau miskin, tetapi kita selamat.

Nanti bersama kita akan maju 20 langkah.

Yang penting Bapak pimpin serentak.

Virus COVID 19 hari ini sudah sanggup menaklukkan iklim tropis dan hanya tinggal tunggu waktu saja jadi malapetaka negeri yang tuna kesehatan ini.

Perintahkan #LOCKDOWN ya Pak.

Kita pikirkan sama sama solusi bagaimana rakyat tidak kelaparan. Mereka ini cuma maunya tidak kelaparan.

Yuk Pak. #Lockdown ya.

Tifauzia Tyassuma
Dokter, Peneliti, Penulis

#LockdownIndonesia

Bagikan !
Beri Donasi
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com