MANADO, ZONAUTARA.com – Para pegiat bisnis emas yang selama ini bergelut dengan metode konvensional barangkali perlu bersyukur karena perdagangan emas di era modern mulai memasuki fase digital. Emas yang sebelumnya hanya dikenal di Indonesia dengan transaksi jual-beli secara langsung, kini membuat revolusi dengan merambah dunia e-commerce.

Demikian yang mencuat saat soft launching PT Sarana Digitalgold Indonesia yang digelar di Ibis Hotel Manado, Sabtu (10/04/2021). Chief Marketing Officer PT Sarana Digitalgold Indonesia Benny Rompas mengatakan, setelah beberapa waktu terakhir memperkenalkan konsep e-commerce ini, perusahaannya kini dilamar ribuan pelaku bisnis emas di berbagai daerah di Indonesia untuk bergabung dalam bisnis emas digital.

“Ada perbedaan fundamental dengan konsep bisnis uang digital yang selama ini telah dikenal secara luas. Kalau dalam emas digital, fisik emasnya benar-benar ada dan bisa diambil kapan saja, namun transaksi yang melibatkan ekosistem perdagangan dilakukan secara digital,” ujar Benny.

Baca Pula:  Hudoq Pekayang: ketika roh-roh leluhur menyapa

Menurutnya, ekosistem perdagangan emas yang mencakup tambang (rakyat/kota), pabrik/pemurnian, toko/gallery, konsumen/investasi, hingga jual-gadai di toko/pegadaian yang sebelumnya berjalan secara konvensional banyak kelemahannya. Misalnya saja soal perubahan harga yang bisa menyusut atau melambung kapan saja yang dipengaruhi tren harga emas dunia.

“Namun dalam perdagangan yang kami perkenalkan berbasis aplikasi digital, penjual emas bisa mempertahankan harga yang diinginkan tanpa harus dipengaruhi tren harga dunia. Pada hakikatnya, emas milik penjual atau yang punya barang sehingga pembeli harus menyesuaikan harga dalam proses tawar-menawar,” jelasnya.

Dalam bisnis e-commerce emas ini menyediakan keuntungan tak terbatas yang dikonversikan secara otomatis ke dalam satuan emas, termasuk pembagian dividen yang diperoleh langsung dari perusahaan. Untuk bergabung dalam bisnis ini, ibarat di dunia nyata yang harus berinventasi untuk menyediakan toko atau juga tambang untuk galian emas, di sini para pebisnis hanya diwajibkan membeli aplikasi dengan nilai 5 gram emas.

Baca Pula:  Mereka bersekolah di Long Isun, kampung di tepi sungai

Dokter Wilson Rimba, seorang peserta soft launching yang berasal dari Jakarta, mengatakan bahwa selama ini ia mencari ruang bisnis yang dapat memberikan passive income, sekalipun kebutuhan berbisnis bukan sebagai prioritasnya.

“Saya sebenarnya cukup makan-tidur saja untuk menikmati masa tua dengan mengandalkan uang simpanan yang cukup. Namun ketika mendengar penjelasan tentang e-commerce yang bergerak di bisnis emas, tanpa ragu-ragu lagi saya memilih ikut terjun. Apalagi investasi awalnya cuma 5 gram,” kata dr Wilson.