BOLMONG, ZONAUTARA.COM – Terputusnya jembatan Kosio, Kecamatan Dumoga Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sabtu 25 Juli 2020, membuat aktivitas warga lumpuh.

Pasalnya, jalan kebun yang menjadi jalur alternatif sangat jauh. Para pelintas harus menempuh jarak sekitar 20-an kilometer. Belum lagi, kondisi jalan yang sempit dan hanya muat untuk satu mobil saja, serta berbatu, kubangan berlumpur yang dalam dan licin. Sangat berisiko, apalagi bagi pengguna sepeda motor.

Melihat kondisi itu, sekelompok warga Desa Kosio Induk dan Kosio Barat berinisiatif membuat jalur perlintasan dengan memotong sungai menggunakan rakit. Tepatnya di samping jembatan yang putus.

Minimal, orang dan sepeda motor tak perlu lagi melewati jalan kebun yang jauh. Tentunya tidak gratis. Setiap orang harus merogoh kocek sebesar Rp 5 ribu sekali lewat. Sementara untuk sepeda motor Rp 20 ribu.

“Sebetulnya niat kami ingin membantu juga. Karena, selain jauh, kondisi jalan alternatif sudah sangat membahayakan. Sehingga kami berinisiatif membuat rakit,” kata Roni Ering, selaku penanggung jawab kegiatan tersebut.

Lebih lanjut, Roni yang juga ketua remaja gereja wilayah desa Kosio Barat itu menuturkan, aktivitas perekonomian warga sekitar wilayah Dumoga Bersatu hampir lumpuh lantaran akses yang putus. Bahkan, untuk harga BBM saja spontan melonjak. Sebut saja harga premium (bensis) eceran yang biasanya dijual Rp 10 ribu per liter, seketika menjadi 30 hingga 40 ribu per liter. Untuk gas elpiji juga sama. Bahkan ada yang menjual hingga Rp 80 ribu per tabung ukuran 3 kg.

Belum lagi, warga Kosio Barat dan sekitarnya yang ingin ke pasar Ibolian. Harus menempuh perjalanan lebih dari satu jam. Padahal, biasanya tak sampai lima menit.

“Dengan adanya rakit ini, khususnya warga sekitar sangat terbantukan. Kebanyakan yang meyeberang itu dari Kecamatan Dumoga Barat dengan tujuan ke kotambagu. Kami mulai beraktifitas dari subuh. Karena banyak orang yang akan ke pasar. Dan berakhir hingga tengah malam,” turutnya.

Sangadi (Kepala Desa) Kosio Induk, Remi Dolot turut membenarkan. Menurut Sangadi, selain membantu warga melintas, aktifitas itu juga secara tidak langsung turut membantu pendapatan warga sekitar yang terdampak banjir.

Mereka belum bisa beraktifitas lebih karena beberapa dari mereka rumahnya terkena banjir. Sehingga dengan adanya aktifitas itu, uang yang dihasilkan dari jasa rakit bisa ikut meringankan beban.

“Saya sudah menimbau untuk tetap berhati-hati. Serta yang jaga keamanan dan ketertiban,” pungkas Sangadi.

Hari ketiga pasca banjir yang disebabkan meluapnya Sungai Moyogang di Desa Uuwan, Kecamatan Dumoga Barat, yang merupakan hulu dari sungai Kosio, serta luapan Bendungan Kosinggolan, terpantau debit air mulai surut. Tapi, pemerintah masih terus mengimbau kepada warga sekitar bantaran sungai untuk tetap waspada. Mengingat, hujan masih sesekali turun dengan intensitas sedang.

Bagikan !