ZONAUTARA.com – Menjadi trending topic di media sosial menjadi target banyak pihak. Bukan hanya netizen, bahkan perusahaan, brand, tokoh dan berbagai pihak mengincar posisi trending topic.

Menjadi trending topic berarti mendapat perhatian secara luas terhadap topik yang dibicarakan. Ini bisa menjadi semacam promosi gratis bagi perusahaan atau brand.

Twitter, salah satu media sosial yang paling banyak digunakan, secara berkala menyajikan topik-topik yang sedang menjadi trend. Lewat algoritmanya Twitter mengamati tagar yang sedang banyak dibagikan penggunaanya.

Namun dalam banyak kasus, daftar trending topic Twitter sering bermasalah dan dipertanyakan orang. Tak jarang, tagar yang menjadi trending topic justru sesuatu yang berdampak negatif.

Untuk mengatasi hal itu, Twitter saat ini sedang mengujicoba tools yang tweet yang disematkan (pinned tweet) dan deksripsi singkat ke beberapa topik yang sedang tren di platformnya.

Tujuan pinned tweet ini agar pengguna dapat memahami mengapa sebuah topik menjadi populer dan masuk ke daftar trending topic.

Perusahaan mengatakan akan segera mulai menambahkan perwakilan tweet yang disematkan ke beberapa topik di aplikasi iOS dan Android, serta akan segera hadir di versi web, melalui postingan blog resminya. Twitter mengatakan, deskripsi akan diluncurkan dalam beberapa minggu mendatang.

Menurut Twitter, fitur baru ini sebagian dirancang untuk membantu lebih dari 500.000 pengguna yang mencuitkan “Mengapa topik ini menjadi tren?” selama 2019.

Meskipun bagian topik yang sedang tren dirancang untuk memberi pengguna gambaran umum tentang apa yang sedang dibahas orang dan bot di dalam platform, faktanya sering kali ditemukan cuitan dari orang-orang yang bingung mengapa suatu topik menjadi tren di posisi pertama.

Twitter mengatakan, tweet yang disematkan akan ditentukan oleh kombinasi algoritma dan kurasi manusia, serta deskripsi yang sedang tren akan sepenuhnya dikurasi oleh manusia. Algoritma akan digunakan untuk mencoba dan menghentikan tweet berisi spam atau kata-kata kasar agar tidak disematkan ke topik yang sedang tren.

Dilansir dari The Verge, Kamis (3/9/2020), bagian trending di platform ini juga sering dikritik karena membantu menyebarkan informasi yang salah. NBC News mencatat bahwa di masa lalu, poin pembicaraan pro-Arab Saudi telah menjadi tren berkat bantuan dari akun bot.

Tagar yang terkait dengan teori konspirasi QAnon juga telah muncul di bagian tersebut. Membuat topik menjadi tren di Twitter dapat membantu penyebaran pesan secara online dan menjadikan bagian tersebut menjadi medan pertempuran bagi pelaku kejahatan.

Twitter bukan satu-satunya layanan yang bermasalah dengan bagian yang sedang tren. Pada 2018, Facebook menghapus bagian topik yang sedang tren setelah menghadapi kritik selama bertahun-tahun karena perannya dalam menyebarkan informasi yang salah dan memanipulasi cerita.

Twitter mengatakan, fitur baru tersebut akan tersedia di Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Kolombia, Mesir, Perancis, India, Irlandia, Jepang, Meksiko, Selandia Baru, Arab Saudi, Spanyol, Inggris, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat.

Bagikan !