Sebelum dan sesudah kepergiannya, dokter Ignatius Stanislaus Tjahjadi terkenal sosok disiplin dan teratur

Seri pahlawan kesehatan Indonesia

3 mins read
zonautara.com
Ignatius Stanislaus Tjahjadi.(Image: laporcovid.org)

ZONAUTARA.com – Dokter Ignatius Stanislaus Tjahjadi merupakan dokter ahli penyakit dalam lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Semasa hidupnya, ia terkenal dokter yang memiliki prinsip hidup yang disiplin dan teratur.

Dokter Stanley, begitu ia akrab disapa, setia mendampingi pasien-pasien dan mengobati mereka di tempat praktiknya. Hal inilah yang membuat dokter Stanley sangat rentan terpapar Covid-19 dan sempat di rawat di ruang ICU RS Adi Husada Undaan Wetan Surabaya selama 4 hari karena komplikasi Covid-19.

Pada hari Senin, 31 Mei 2020, dokter Stanley tutup usia. Ia dipanggil ke rumah Bapa pada usia 64 tahun. Kepergian beliau terjadi begitu cepat seakan hanyalah mimpi di benak sanak saudara yang ditinggalkan.

Berdasarkan penuturan ketiga putri dokter Stanley, yaitu Felicia Bianca Tjahjadi, Maria Natasha Tjahjadi, dan Angela Kimberly Tjahjadi melalui laporcovid19, kehadiran sosok dokter Stanley akan selalu berada dalam hati dan kenangan indah kerabat, jawatan dan sanak saudara yang dikasihinya.

Sebagai dokter, beliau disegani di bidang keahliannya. Ini karena dokter Stanley senantiasa berbekal dengan prinsip kerja yang konsisten dan karenanya beliau sangat dikasihi oleh pasien-pasiennya. Tidaklah jarang dokter Stanley memarahi pasien yang sering datang ke tempat praktek karena itu berarti bahwa pasien tersebut tidak menjaga kesehatannya.

Dengan perhatian yang besar kepada tiap pasien, tak heran dokter Stanley selalu dipercayakan untuk mengurus urusan kesehatan para pasiennya. Ia dikenal sebagai dokter yang murah senyum, berilmu tinggi, dan periang.

Beliau selalu merencanakan dan memilih keputusan dengan rasional, inilah yang beliau wariskan kepada anak-anaknya sejak kecil. Dengan pribadi yang gigih dan beriman kuat, beliau mampu membangun keluarga yang sangat dekat dengan landasan cinta kasih dan keimanan. Beliau tidak segan bekerja keras untuk masa depan keluarganya, tetapi selalu berusaha meluangkan waktu untuk bersantai di luar jam praktek.

Berbagai kenangan indah terbentuk di kala dokter Stanley mengajak keluarga berpelancong ke berbagai pelosok dunia, hadiah untuk anak-anaknya walaupun beliau tidak dapat menikmati segala hal itu sewaktu kecil. Rasa rindu kepada beliau tentulah timbul ketika beliau meninggalkan kita untuk pergi ke tempat yang lebih indah daripada dunia ini.

Kadang-kadang rasa rindu itu datang mendadak dan mendatangkan rasa duka yang mendalam. Tetapi dengan iman yang diwarisi dari beliau, kekosongan dan kerinduan ini akan suatu hari dijadikan sukacita karena beliau telah dipulangkan ke rumah Allah Bapa di Surga.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com