ZONAUTARA.com — Tak banyak yang tahu bahwa ide membuat makanan dari karbon dioksida telah berlangsung sejak lama. Hal ini mulanya dikembangkan untuk para astronot yang tinggal di tempat dengan kadar udara yang tipis. Seiring berkembangnya waktu, makanan dari karbon dioksida makin banyak dikembangkan dan bahkan siap dihidangkan di meja anda.

Sejarah makanan dari karbon dioksida

Laporan yang ditulis oleh R.B. Jagow dan R.S. Thomas di tahun 1966 menjadi saksi bisu bermulanya NASA dalam menggunakan CO2 untuk produksi makanan. Tiap bab dari laporannya berisi tentang proposal untuk menanam makanan dalam misi yang panjang.

Di bab 8, JF Foster dan JH Litchfield dari Battelle Memorial Institute di Columbus, Ohio, mengusulkan adanya sistem dengan memanfaatkan Hydrogenomonas, suatu baktri pengikat hydrogen, untuk mendaur ulang CO2.

Sistem tersebut telah dikembangkan dalam beberapa tahun oleh NASA dan menghasilkan sel yang dapat dimakan dan efisien dalam jangka waktu yang sangat lama.

Di tahun 2019 lalu, dengan mengangkat tema itu lagi, NASA menantang para ilmuwan untuk mengubah karbon dioksida menjadi senyawa yang bermanfaat seperti bahan bakar berbasis gula, makanan, obat-obatan, dan lain-lain.

Solar Foods

Sebuah perusaan dari Finlandia baru-baru ini telah mengembangkan ide tersebut untuk dikomersialisasi. Produknya berupa Solein, bubuk protein yang kaya akan nutrisi. Diprediksi, Solein mampu menyediakan protein untuk 400 juta makanan di tahun 2025. Sejauh ini, Solar Foods telah mengembangkan 20 produk makanan berbeda.

Mekanisme penciptaan makanan dari karbon dioksida

Solein diciptakan tanpa melibatkan proses pertanian dan perkebunan. Di mana, proses pertanian dan perkebunan memberi dampak secara tidak langsung bagi lingkungan. Solein diklaim 100 kali lebih ramah lingkungan daripada sistem konvensional.

Solein dibuat dengan rancangan energi terbarukan untuk memecah air menjadi hydrogen dan oksigen. Selanjutnya, hydrogen digabungkan dengan karbon dioksida dan menambahkan beberapa nutrisi lainnya yang dibutuhkan.

Kemudian proses pemberian makan ke mikroba yang akhirnya menghasilkan bahan yang dapat dimakan dan dipasarkan. Solein sendiri telah mengandung 20-25% karbohidrat, 50% protein, dan 5-10% lemak.

Selian Solein, Air Protein dengan sistem serupa juga dikembangkan. Air protein sebetulnya sama dengan Solein, berupa tepung yang diklaim kaya nutrisi dengan kandungan asam amino yang sama dengan protein hewani dan dikemas dengan vitamin B.

Air Protein ini juga dapat menghilangkan kebutuhan manusia akan kelapa sawit yang menyebabkan proses deforestasi, karena proses mereka menghasilkan minyak.

Pemanfaatan karbon dioksida untuk makanan kini telah banyak dikembangkan. Tak hanya dikembangkan bagi NASA saja. Di masa depan, bisa saja mereka berada di depan meja makan anda tiap paginya.