KESEMPATAN tidak datang dua kali. Saya mengiyakan soal ini. Maka, saat datang pertanyaan apakah saya bersedia meliput di perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua, saya langsung jawab, “siap!”.

Semangat saya membuncah saat pemberitahuan berikutnya datang. Saya ditugaskan di Mimika. Selain karena ini untuk pertama kalinya saya meliput event olahraga sekelas PON, saya juga belum pernah ke Mimika.

Dua tahun yang lalu saya sudah pernah mendatangi Papua, ke Jayapura dan ke Wamena. Papua, sebagaimana para pejalan idamkan, adalah negeri eksotis yang harus dikunjungi. Alam dan kekayaan budaya serta tradisinya adalah suguhan yang memesona. Terlebih Kabupaten Mimika tempat tambang terbesar di dunia beroperasi: Freeport.

Saya berangkat tanggal 29 Oktober dari Manado, penerbangan transit di Sorong dan berganti maskapai di Jayapura sebelum tiba di Bandara Mozes Kilangin, Timika. Ini penerbangan saya yang pertama sejak pandemi Covid-19. Lebih dari setahun saya terus menolak permintaan penugasan yang harus diakses dengan pesawat. Alasannya tidak lain adalah soal virus Corona.

Selama pandemi berlangsung saya hanya mau menerima penugasan yang bisa diakses dari darat. Tiga penugasan yang berat saya ambil, liputan soal kelelawar hingga ke Gorontalo, liputan bencana gempa Mamuju dan dokumenter tentang aksi konservasi di Minahasa Utara. Ribuan kilometer saya tempuh lewat darat.

Kini kasus Covid-19 sudah menurun drastis, seiring dengan penerapan PPKM yang diberlakukan oleh Pemerintah. Pelonggaran aktivitas di berbagai sektor pun sudah diijinkan oleh pemangku kepentingan, termasuk digelarnya PON XX yang sempat tertunda itu.

Karena semakin turunnya kasus harian Covid-19 dan berbagai wilayah sudah keluar dari zona merah dan zona orange penyebaran Covid-19, saya memberanikan diri untuk bepergian dengan pesawat. Meski pelonggaran sudah diberlakukan secara bertahap tetapi syarat untuk bisa terbang justru semakin bertambah.

Kini untuk bisa terbang melintas antar provinsi, calon penumpang selain harus berbadan sehat, juga sudah harus disuntik vaksin Covid-19 minimal tahap satu. Selain itu terdapat syarat lainnya yakni mengantongi hasil negatif swab PCR maksimal 2×24 jam. Sewaktu dari Manado, syarat ini tidak menjadi masalah. Saya diambil sampel lendir di Dinas Kesehatan Provinsi Sulut. Hasil pemeriksaannya langsung masuk di aplikasi Peduli Lindungi, saya layak terbang karena negatif virus Corona.

Tugas saya di Mimika semestinya hingga tanggal 14 Oktober, saat PON XX ditutup dan semua atlet selesai bertanding. Saya tiba di Mimika menjelang sore, dan mendapat akomodasi di Hotel Kanguru, jalan Cendrawasih. Keesokan harinya saya mulai bekerja dengan mendatangi venue-venue perlombaan.

PB PON dalam perhelatan kali ini membagi lokasi perlombaan dalam empat klaster: klaster Kota Jayapura, klaster Kabupaten Jayapura, klaster Kabupaten Merauke dan klaster Kabupaten Mimika. Adapun cabang olahraga yang dipertandingan di klaster Mimika adalah basket, atletik, biliar, futsal, bola tangan, terjun payung, panjat tebing, yudo dan tarung drajat.

Venue yang dibangun untuk menggelar perlombaan dan pertandingan cabor-cabor itu sungguh megah dan modern. Beberapa jurnalis senior yang sudah malang melintang meliput event olahraga hingga ke Oliampiade mengakui kemewahan venue di Mimika. Arbain Rambey misalnya, jurnalis dan fotografer senior ini bilang, stadion atletik Mimika bahkan lebih bagus dibanding yang ada di Jakarta. Saya juga kagum dengan GOR Mimika Sports Centre tempat digelarnya pertandingan basket, serta GOR Biliar yang sangat modern.

Stadion Atletik Mimika. (Foto: Ronny A. Buol)

Karena tidak dibebani target tinggi, saya bekerja dengan gembira sembari belajar memotret aksi-aksi para atlet saat mengejar tujuan mereka: menang dan bawa pulang medali. Saya menikmati setiap moment yang saya buru melalui jendela bidik kamera maupun berbagai pengalaman di luar memotret. Selama bekerja itu saya tidak pernah melepas masker dan secara berkala menyemprot tangan dengan handsanitizer. Adapun anjuran jaga jarak susah diterapkan.

Saya sebenarnya berencana mendatangi lokasi tambang terbuka Grasberg milik Freeport di hari-hari terakhir, seiring dengan semakin sedikitnya pertandingan. Namun rencana itu harus urung dan liputan saya di PON harus selesai lebih awal. Undangan dari AJI dan Internews datang. Saya harus berada di Bogor tanggal 10 malam hari. Saya memang sedang terlibat dalam tim kecil menyusun kurikulum jurnalisme data dan investigasi. Agenda di Bogor adalah tindak lanjut dari dua kegiatan sebelumnya. Kali ini kami akan menyusun kurikulum 80 jam.

Karena undangan itu mandatory, saya harus mempercepat kepulangan saya, tanggal 8 Oktober. Tiket ke Manado keluar. Saya harus ke Manado dulu, karena homebase saya di Manado. Ini terkait dengan laporan perjalanan. Sebagaimana yang sudah disyaratkan, saya pun menyiapkan diri untuk diambil sampel lendir lagi untuk swab PCR. PB PON sebenarnya sudah menyiapkan prosedur tes PCR bagi semua orang yang terlibat di PON, termasuk jurnalis.

Sebuah link Google form disebar bagi siapa saja yang akan mendaftar untuk tes PCR. Saya mendaftar di link itu tanggal 5 sore. Sukses terkirim. Namun hingga malam hari tidak ada pemberitahuan lebih lanjut sebagaimana yang tertera dalam prosedur. Malam harinya saya mendaftar lagi. Tak ada respon. Besok paginya saya coba daftar lagi. Sama tidak ada respon.

Karena tidak ada respon, saya memutuskan mendatangi RSUD Mimika, tempat laboratorium pemeriksaan swab PCR. Saya ditemui oleh seorang bapak yang ditunjuk oleh PB PON klaster Mimika sebagai PIC urusan PCR di RSUD ini. Oleh bapak itu saya diminta untuk menghubungi bagian kesehatan Sekretariat PB PON Mimika. Nomor telepon dia berikan dan saya langsung menghubungi. Oleh petugas perempuan yang menerima telepon, saya diminta mengirim KTP dan ID Card PON. Permintaannya segera saya lakukan.

Namun setelah itu nomor Whatsapp itu juga tidak memberitahu langkah apa yang harus saya lakukan usai mendaftar. Saya kembali menelepon, diterima oleh petugas lain dan diminta hal yang sama. Sesudahnya juga tidak ada respon. Saya memilih kembali ke hotel setelah dua jam menunggu di RSUD. Saya berniat mendatangi saja kantor Sekretariat PB PON klaster Mimika. Karena dekat dengan GOR Mimika, sekalian saja saya bawa peralatan kamera.

Namun baru saja saya tiba di hotel, dokter Keke (official kontingen Sulut), menghubungi saya dan mengirimkan nomor seorang dokter di RSUD Mimika. Sebelumnya saya sempat menceritakan situasi yang saya alami di group jurnalis Sulut yang meliput di PON. Saya kemudian menelepon dokter itu, yang meminta saya segera balik ke RSUD. Jarak dari hotel ke RSUD sekitar 10 KM. Di Mimika transportasi paling cepat adalah ojek. Cukup berdiri di tepi jalan, maka ojek akan menghampiri. Saya pun kesana dengan ojek.

Tiba di lobby RSUD, saya menghubungi dokter perempuan itu dan langsung dibawanya ke laboratorium untuk diambil sampel lendir. KTP saya difotocopy agar hasilnya bisa diinput ke aplikasi Peduli Lindungi. Hidung dan leher saya kembali dicolok, diswab. Saya lega karena sesuai yang disampaikan petugas di lab itu, besok pagi hasilnya sudah bisa keluar, meski saya belum tahu apakah hasilnya negatif dan saya layak terbang.

Usai sarapan di tanggal 7, saya membuka aplikasi Peduli Lindungi, tidak ada hasil PCR. Saya menghubungi dokter di RSUD. Balasan Whatsapp-nya bikin saya khawatir: “maaf pak, mesin PCR error membaca hasil kemarin. Jadi akan diulang pagi ini, hasilnya baru bisa sebentar sore”. Saya memaklumi dan melanjutkan liputan.

Di Mimika, laboratorium yang memeriksa hasil swab PCR terbatas, hanya ada di RSUD Mimika dan rumah sakit di Kuala Kencana milik Freeport yang cukup jauh. Laboratorium yang ditunjuk oleh PB PON adalah lab di RSUD. Sementara menurut dokter yang membantu pemeriksaan swab tersebut, kapasitas mesin PCR yang mereka miliki hanya berkapasitas 40 sampel pemeriksaan sekali running. Dan mereka selain ditunjuk sebagai lab pemeriksa sampel lendir kontingen PON juga menjadi lab pemeriksa sampel masyarakat umum yang akan terbang. Jelas beban mesinnya sangat tinggi. “Memang sudah sering error pak, karena bekerja maksimal,” jelas dokter itu.

Sorenya saat masih liputan saya kembali menghubungi dokter menanyakan hasil PCR saya. Pesan saya tercentang dua biru, tetapi tidak dibalas. Saya menunggu dan memaklumi jika dokter tidak segera merespon. Mungkin dia sangat sibuk. Saat makan malam di BTS Mall dekat hotel, pesan dari dokter masuk: “pak maaf, hasilnya masih error”. Mesin PCR baru bisa running besok pagi, dan hasilnya baru bisa diketahui sore, sementara saya sudah check in via web untuk penerbangan jam 8 pagi. Tiket pun hangus.

Karena saya tidak mengantongi hasil negatif swab PCR yang membuat saya tidak bisa terbang, saya memilih untuk menambah dua hari lagi sembari meliput partai final basket 5 in 5, dimana Tim Putra Sulawesi Utara mengukir sejarah untuk pertama kalinya mencapai final di PON.

Partai final basket 5 in 5 yang mempertemukan Tim Putra Sulut dengan Tim Putra DKI Jakarta. (Foto: Ronny A. Buol)

Tulisan ini saya rampungkan dalam penerbangan Mimika menuju Jakarta pada Minggu 10 Oktober. Saya telah mengantongi hasil tes PCR baru, yang terinput di Peduli Lindungi pada kemarin siang. Hasil PCR itu juga akan menjadi syarat saya bisa ikut workshop hingga tanggal 14 nanti. Sebentar tiba di Jakarta, saya harus langsung menuju Bogor. Sesuai jadwal, malam ini kami sudah mulai terlibat dalam workshop menyusun kurikulum 80 jam jurnalisme data.

Terbang di saat pandemi butuh ekstra waktu, ekstra biaya dan ekstra kesabaran. Bagi anda pejalan, jika memang harus bepergian dengan transportasi udara, sebaiknya menyiapkan plan dan biaya cadangan.

Yang saya alami hanya soal mesin PCR yang error. Bagaimana jika masalahnya adalah hasil swab lendir saya positif SARS-CoV2? Tentu saya harus menambah waktu 14 hari dikarantina.

Jadi, jika tidak benar-benar penting, sebaiknya menahan diri dulu mendatangi suatu tempat dengan moda transportasi udara.