ZONAUTARA.com – Memprediksi lokasi benda atau orang yang hilang di laut memang sangat sulit dilakukan. Namun, sekelompok peneliti telah mengembangkan algoritma baru untuk memperbesar kemungkinan penemuan objek yang hilang di laut.

Sulitnya menemukan objek di laut ini dibuktikan dengan ditemukannya potongan pertama Malaysian Air Flight 370 pada Juli 2015. Potongan pertama tersebut ditemukan di Pulau Reunion lepas pantai Timur Afrika di Samudera Hindia, ribuan mil dari lokasi perkiraan terbaik di mana pesawat itu jatuh.

Para peneliti tak asing dengan ketidakakuratan tersebut, mengingat kompleksitas dari lautan. Mulai dari campuran angin, kondisi gelombang laut, dan cuaca yang sulit diprediksi.

Para peneliti dari MIT, Institut Teknologi Federal Swiss (ETH), Lembaga Oseanografi Woods Hole (WHOI), dan Virginia Tech baru-baru ini mengumumkan kesuksesan dari sistem “TRAPS” ​​di uji coba pertamanya.

Sistem ini diharapkan akan mendeteksi lokasi terapungnya objek dan orang yang hilang terapung lebih cepat dan akurat. Penelitian tim Transient Attracting Profiles (TRAPS) diterbitkan dalam jurnal Nature Communications dengan judul Search and rescue at sea aided by hidden flow structures.

TRAPS merupakan sistem dengan algoritme yang didasarkan pada sistem matematika Eulerian yang dikembangkan oleh Mattia Serra dan George Haller dari ETH Zurich. Sistem ini dirancang untuk menemukan struktur fluidic menarik yang tersembunyi dalam arus.

Algoritma dari TRAPS mengolah data yang mewakili snapshot kecepatan gelombang paling andal yang tersedia di posisi terakhir yang diketahui dari item yang hilang. TRAPS juga dapat dengan cepat menghitung lokasi jebakan terdekat di mana pencarian kemungkinan akan lebih efektif dan efisien karena cepat.

Para peneliti menguji TRAPS dari kebun anggur Martha di Samudra Atlantik pada 2017 dan 2018. Para ahli pelayaran WHOI membantu ketika mereka mencoba melacak lintasan berbagai benda mengambang dan manekin yang dipasang di berbagai lokasi.

Tantangan dari TRAPS ini adalah objek uji cenderung bergerak secara berbeda relatif terhadap lautan karena bentuk yang berbeda, maka mereka pun merasakan angin dan arus secara berbeda.

Dalam percobaan mereka, para peneliti melacak objek mengambang bebas selama berjam-jam melalui GPS sebagai cara untuk memverifikasi prediksi sistem TRAPS. Dengan pelacak GPS, peneliti dapat melihat ke mana arah objek secara real-time.