ZONAUTARA.com – Lagu pop telah ada dan dinikmati oleh banyak orang sejak zaman dahulu. Para musisi juga telah berkembang dari waktu ke waktu. Namun, apakah lagu-lagi populer hari ini lebih bahagia atau malah lebih sedih daripada 50 tahun yang lalu?

Cara langsung untuk mengukur emosi dari sebuah teks adalah dengan menghitung berapa banyak kata-kata yang mengandung emosi di dalamnya, seperti kata “sakit”, “benci”, sampai “sedih”. Dihitung juga berapa kali kata-kata yang menggambarkan kebahagiaan diucapkan.

Teknik ini adalah teknik yang biasa disebut ‘analisis sentimen’. Analisis sentimen sering diterapkan pada cuitan media sosial, pesan politik kontemporer, artikel surat kabar yang berpuluh-puluh tahun lamanya, atau karya sastra berabad-abad. Teknik ini juga tentu dapat diterapkan pada lirik lagu.

Penelitian dengan judul Cultural evolution of emotional expression in 50 years of song lyrics ini menggunakan dua set data yang berbeda. Salah satunya berisi lagu-lagu yang termasuk dalam tangga lagu Billboard Hot 100 akhir tahun.

Dataset kedua berasal dari lirik yang diberikan secara sukarela ke situs web Musixmatch. Dengan kumpulan data ini, peneliti dapat menganalisis lirik lebih dari 150.000 lagu berbahasa Inggris.

Hasilnya, penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan emosi negatif telah meningkat lebih dari sepertiga. Peneliti mengasumsikan rata-rata terdapat 300 kata per lagu, setiap tahun ada 30.000 kata dalam lirik top-100 hits. Pada tahun 1965, sekitar 450 kata ini dikaitkan dengan emosi negatif, sedangkan pada tahun 2015 jumlahnya di atas 700.

Sementara itu, kata-kata yang terkait dengan emosi positif menurun dalam periode waktu yang sama. Ada lebih dari 1.750 kata-kata emosi positif dalam lagu-lagu tahun 1965, dan hanya sekitar 1.150 di tahun 2015.

Efeknya dapat terlihat dengan jelas. Misalnya penggunaan kata “cinta”, praktis berkurang setengahnya dalam 50 tahun, dari sekitar 400 menjadi 200 kali. Kata “benci”, sebaliknya, yang sampai tahun 1990-an bahkan tidak disebutkan dalam 100 lagu teratas, sekarang digunakan antara 20 dan 30 kali setiap tahun.

Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian lain dengan judul Musical trends and predictability of success in contemporary songs in and out of the top charts.

Para peneliti menganalisis kumpulan data 500.000 lagu yang dirilis di Inggris antara 1985 dan 2015 dan menemukan penurunan serupa dalam definisi “kebahagiaan” dan “kecerahan”, dan adanya peningkatan “kesedihan” dalam lagu.

Selain itu, ditemukan pula bahwa tempo dan nada suara dari 100 lagu teratas Billboard menjadi lebih lambat, dan nada suara kecil lebih sering ditemukan. Nada suara kecil dianggap lebih suram daripada nada suara yang besar.

Dikutip dari Aeon, penulis memaparkan bahwa munculnya lirik negatif dalam lagu-lagu populer berbahasa Inggris adalah fenomena yang menarik, dan hal ini dapat disebabkan oleh preferensi yang meluas terhadap konten negative, ditambah beberapa penyebab lain yang belum ditemukan.