ZONAUTARA.com – Fast fashion memiliki dampak yang buruk bagi lingkungan. Sebelum anda membeli fast fashion, baca penjelasan berikut ini agar lebih memahami bagaimana dampak mereka bagi lingkungan.

Banyak yang berminat dalam fast fashion. Sayangnya, industry fashion bertanggung jawab atas 10 persen emisi karbon manusia di dunia. Molly Hanson dalam artikelnya menjelaskan bagaimana fast fashion berkontribusi dalam emisi karbon dunia.

Sejarah fast fashion

Kembali pada 1980-an, rata-rata orang Amerika hanya membeli sekitar 12 pakaian baru setiap tahun. Namun pada tahun 1993 Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) mempermudah impor pakaian dengan menghapus sistem kuota yang membatasi jumlah barang yang dapat masuk ke AS dan memunculkan fast fashion.

Tujuan dari industri ini adalah untuk membuat pakaian trendi dengan proses cepat, murah, dan sekali pakai. Mereka menghasilkan uang dengan mempersempit waktu di antara tren fashion.

Perusahaan fast fashion sering kali memenuhi toko mereka dengan koleksi pakaian baru dan murah yang cepat rusak, sehingga pembeli datang untuk koleksi berikutnya dalam waktu yang cepat. Pada 2016, The Atlantic melaporkan bahwa rata-rata orang Amerika membeli 64 pakaian baru per tahun.

Tentu saja, fast fashion telah mendemokratisasi fashion dengan membuat pakaian lebih terjangkau dan memunculkan variasi pakaian yang lebih banyak. Namun, risiko emisi karbon dan kerusakan lingkungan pun terlibat di dalamnya.

Membuat fast fashion adalah bencana lingkungan

Pada tahun 2015, produksi tekstil berkontribusi terhadap lebih banyak emisi karbon dioksida daripada gabungan semua penerbangan internasional dan pelayaran laut. Membuat satu celana jins menghasilkan gas rumah kaca sebanyak mengendarai mobil lebih dari 80 mil, cukup terkejut?.

Hal ini berkaitan dengan bahan yang digunakan dalam proses produksi. Dibutuhkan 2.700 liter air untuk membuat satu kemeja katun, cukup bagi rata-rata tiap orang untuk hidup selama dua setengah tahun.

Lebih buruk lagi adalah kain sintetis seperti poliester, spandeks, dan nilon, yang menggunakan hampir 342 juta barel minyak. Menurut World Resources Institute, memproduksi poliester memancarkan karbon dua hingga tiga kali lebih banyak daripada kapas.

Selain itu, mencuci pakaian tersebut dapat menghasilkan sebanyak 500.000 ton mikroplastik ke laut setiap tahun, setara dengan 50 miliar botol plastik. Secara keseluruhan, mikroplastik diperkirakan menyusun hingga 31 persen polusi plastik di lautan.

Selanjutnya, pembuatan dan pewarnaan tekstil melibatkan penggunaan bahan kimia beracun yang seringkali dibuang ke danau, sungai, dan parit yang meracuni masyarakat setempat.

Apa yang bisa kita lakukan

Molly Hanson merekomendasikan hal yang bisa kita lakukan adalah mengurangi belanja pakaian, dan mengenakan pakaian yang sudah kita miliki lebih lama. Hebatnya, dengan menggunakan satu pakaian selama 9 bulan lebih lama, seseorang sebenarnya dapat mengurangi jejak karbonnya hingga 30 persen.

Hal lain yang dapat Anda lakukan adalah berbelanja barang bekas. Jika setiap orang membeli satu barang bekas alih-alih baru tahun ini, jumlah emisi CO2 yang dihemat akan setara dengan menghilangkan setengah juta mobil dari jalan selama setahun.