ZONAUTARA.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan ada setengah atau 50 persen dari 746 juta jiwa warga Eropa akan terinfeksi virus Covid-19 varian Omicron dalam dua bulan kedepan.

Perkiraan WHO tersebut berdasarkan kecepatan penularan yang terjadi saat ini. WHO saat ini memantau 53 negara di Eropa dan Asia Tengah. Sebanyak 50 negara memiliki kasus Omicron yang membuat Eropa saat ini menjadi episentrum kasus Covid-19 global. Bahkan, di 26 negara, sebanyak 1 persen warganya tertular Covid-19 setiap pekan.

”Apabila dihitung menggunakan kecepatan penularan saat ini, lebih dari 50 persen warga Eropa akan terinfeksi Omicron dalam dua bulan,” kata Direktur WHO Eropa Hans Kluge, Selasa awal pekan ini.

WHO mencatat ada 7 juta kasus positif baru Covid-19 yang ditemukan di seantero Eropa hanya dalam pekan pertama Januari 2022. Lonjakan ini membuat temuan kasus baru berlipat ganda.

”Semua negara hendaknya mewajibkan pemakaian masker, terutama di dalam ruangan, serta mengejar target vaksinasi seluruh penduduk,” kata Kluge.

Kluge juga mengungkapkan bahwa vaksin masih menjadi pertahanan utama melawan keparahan penularan Covid-19. Kluge mengungkapkan, di Denmark, tempat WHO Eropa bermarkas, angka perawatan di rumah sakit enam kali lebih tinggi di kalangan mereka yang tidak divaksin.

China lakukan penutupan wilayah hadapi Omicron

Menghadapi lonjakan kasus positif yang disebabkan Omicron, China mengambil kebijakan menutup setiap wilayah yang ditemukannya kasus positif Covid-19. Meski di China saat ini jumlah penduduk yang sudah divaksin mencapai 80 persen, tetapi pemerintah China tidak mau mengambil risiko.

Dilansir dari kantor berita nasional China, Xinhua, kota Xi’an yang berpenduduk 13 juta jiwa sudah memasuki pekan ketiga penutupan wilayah. Kota-kota lain turut menyusul dikunci begitu tes cepat reguler yang diadakan pemerintah menemukan ada kasus positif.

86 ribu kasus baru dalam sehari di Australia

Salah satu negara yang mengalami lonjakan kasus positif Covid-19 yang sangat tinggi adalah Australia. Sejak temuan pertama kasus positif Covid-19 pada 2020, jumlah orang yang tertular di Australia mencapai 1,1 juta orang, dimana 500 ribu diantaranya tertular dalam dua pekan terakhir. Pada Selasa pekan ini saja di Australia ada 86.000 kasus positif baru Covid-19 yang dilaporkan.

Beberapa negara bagian seperti Victoria dan New South Wales kewalahan karena banyaknya tenaga kesehatan yang diisolasi karena terpapar Covid-19. Akibatnya, layanan kesehatan berkurang drastis. Bahkan, di Victoria layanan mobil ambulans sempat terhenti.

”Kami dalam krisis karena ada 4.000 tenaga kesehatan dan 400 pengemudi ambulans sedang menjalani isolasi mandiri,” kata Menteri Besar Negara Bagian Victoria Daniel Andrews.

Amerika Serikat juga sedang mengalami hal yang sama. Di negara tersebut penularan terus terjadi, sementara pemerintah dan asyarakat tarik ulur terkait kebijakan wajib vaksinasi dan memakai masker. Rumah sakit kesulitan menangani banjir pasien Covid-19.

Data Kementerian Ketenagakerjaan AS menyebut bahwa periode 2020-2021 ada 934.000 perawat yang mengundurkan diri. Alasannya bermacam-macam, mulai dari stres akibat tekanan kerja selama pandemi hingga menolak mengikuti kewajiban untuk divaksin.

Pemerintah AS mencatat, saat ini ada 130.000 pasien positif Covid-19 yang menjalani perawatan di rumah sakit. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan pada Januari 2021, yaitu 146.000 orang. Akan tetapi, beban di sektor kesehatan jauh lebih besar.

”Krisis tenaga kesehatan ini membuat kami tidak bisa memberi pelayanan yang optimal kepada pasien,” kata Direktur Unit Perawatan Intensif RS Universitas Virginia Taison Bell kepada CNN.

Sumber: Kompas.id