ZONAUTARA.com – Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut), merupakan tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai latar belakang etnis yang berbeda.
Banyak yang datang untuk merantau, menetap, bekerja, hingga menimba ilmu.
Di tengah kemajuan transportasi moderen, masih ada satu moda transportasi tradisional yang tetap bertahan hingga saat ini, yaitu delman atau lebih dikenal dengan istilah ‘bendi‘.
Kendaraan roda dua yang ditarik kuda ini masih dapat ditemukan di beberapa sudut kota.
Mori Manoppo (62) dan Saipul Noho (55) adalah dua di antara segelintir kusir bendi yang masih setia menekuni profesi ini.
Meski zaman telah berubah, mereka tetap menjalankan tugas mengantar penumpang keliling kota, layaknya sopir angkutan pada umumnya bahkan dulunya mereka juga memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) khusus dan membayar pajak kendaraan.
“Dulu ada ketua pengurus yang mengurus semua dokumen seperti SIM dan surat kendaraan. Kami bayar iuran tahunan, terakhir saya bayar itu tahun 2010, sebesar Rp75 ribu per tahun. Tapi sekarang pengurusnya sudah tidak ada,” jelas Saipul saat ditemui Zonautara.com di lokasi mangkal mereka di perempatan Calaca mereka menyebutnya, Kamis (22/5/2025).
Saipul mengaku kecewa karena sempat mengalami persoalan administrasi akibat pengurus yang tidak transparan.
“Kecewa juga ada ketua pengurus yang tak bisa dipercaya, ketika sudah dibayar mereka bilang belum akhirnya saling menyalahkan,” ujarnya.
Menurut Saipul, jumlah kusir bendi di Manado kini semakin menyusut drastis bakhan hampir hilang.
“Sekarang tinggal tiga orang yang masih jalan. Dulu sempat lima, tapi dua orang sudah pensiun,” katanya.
Dalam sehari, penghasilan dari mengemudi bendi berkisar Rp100 ribu. Namun, saat hari-hari besar keagamaan, mereka bisa mendapatkan penumpang lebih banyak.
“Biasanya ibu-ibu yang bawa anaknya jalan-jalan atau langganan yang ke pasar. Tapi kalau bulan puasa atau menjelang Natal, penumpang membludak,” ungkapnya.
Sementara itu, Mori Manoppo mengaku berasal dari Gorontalo, dan telah merantau ke Manado sejak 47 tahun silam. Ia mengaku tak pernah berpikir meninggalkan profesinya sebagai kusir bendi.
“Kalau dulu tarifnya cuma lima perak, sekarang bisa Rp10 ribu sampai Rp20 ribu, tergantung jarak. Tapi saya tetap pilih bendi, karena ini sudah jadi bagian hidup saya. Saya akan terus jalani sampai tidak sanggup lagi,” ucapnya sambil tersenyum.
Selama puluhan tahun menjadi kusir, Mori telah beberapa kali mengganti kuda. Kuda yang kini digunakannya berasal dari Gorontalo dan telah menemaninya sejak 2015.
“Merawat kuda itu susah-susah gampang. Saya mulai kerja dari pukul 06.30 WITA sampai sekitar jam dua siang. Setelah itu, kuda saya kasih makan di rumah. Saya tinggal di Kelurahan Wonasa, tidak jauh dari sini,” tutup Mori.
***


