80 tahun Piagam PBB: Refleksi, komitmen, dan semangat baru

Selama 80 tahun sejak para perumus Piagam PBB meletakkan pena mereka, komunitas internasional telah mencapai banyak kemajuan. Namun tantangan tetap ada.

Editor: Redaktur
UN Photo/Loey Felipe General Assembly commemorates 80th anniversary of the signing of UN Charter.

ZONAUTARA.com – Kamis pagi ini bukanlah hari biasa di Manhattan. Sejak pagi hari, para diplomat PBB (termasuk tim dari UN News) sudah berkumpul untuk turun ke jalan dan bersama-sama melaksanakan lari pagi. Rute yang mereka tempuh yakni dari Times Square hingga East River, yang jika dilihat dari atas membentuk pola bertuliskan “UN80”.

Di bawah langit pagi yang lebih sejuk di tengah panasnya musim panas di New York, aktivitas lari pagi tersebut berakhir di Markas Besar PBB ketika para diplomat berkumpul di hadapan Piagam asli PBB, yakni dokumen yang menandai kelahiran Perserikatan Bangsa-Bangsa sekaligus merombak tatanan dunia modern, yang saat ini sedang dipamerkan di Markas Besar PBB.

Di dalam Ruang Sidang Umum, para delegasi berkumpul untuk memperingati 80 tahun penandatanganan Piagam tersebut.

Mereka mengenang delapan dekade perjalanan PBB: mulai dari membantu membangun kembali negara-negara pascaperang dunia, mendukung kemerdekaan negara-negara bekas jajahan, mendorong perdamaian, menyalurkan bantuan kemanusiaan, memperjuangkan hak asasi manusia dan pembangunan, hingga menghadapi ancaman global seperti perubahan iklim.

Menyelamatkan generasi penerus dari bencana perang

Presiden Majelis Umum PBB, Philémon Yang, menyebut momen ini sebagai sesuatu yang “simbolis namun penuh keprihatinan”, mengingat konflik yang terus berlangsung di Gaza, Ukraina, dan Sudan, serta semakin melemahnya kerja sama multilateral saat ini.




Ia menyerukan agar negara-negara lebih mengutamakan diplomasi ketimbang kekerasan, demi mewujudkan visi dari Piagam PBB yang menjunjung tinggi perdamaian dan martabat manusia. “Kita harus memanfaatkan momentum ini untuk memilih dialog dan diplomasi, bukan perang yang menghancurkan,” tegasnya.

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, memperkuat pesan tersebut. Ia mengingatkan bahwa prinsip-prinsip dalam Piagam PBB kini semakin terancam di tengah berbagai konflik yang sedang terjadi. Ia menegaskan bahwa prinsip-prinsip dalam Piagam PBB harus terus kita pertahankan sebagai landasan dari hubungan internasional.

“Piagam PBB bukanlah pilihan yang bisa dipilih sesuka hati. Piagam ini adalah dasar dari hubungan internasional,” ujar Guterres. Ia juga menekankan perlunya peneguhan kembali akan komitmen bersama terhadap janji yang tercantum di dalam Piagam PBB: “untuk perdamaian, keadilan, kemajuan, dan demi kita semua — rakyat dunia.”

Carolyn Rodrigues-Birkett, Presiden Dewan Keamanan PBB untuk bulan Juni, menegaskan pentingnya memperbarui aksi bersama guna menghadapi berbagai ancaman global baru. “Peringatan 80 tahun penandatanganan Piagam PBB ini seharusnya bukan hanya momen refleksi, namun juga menjadi ajakan bersama untuk mengambil tindakan nyata,” tegas Carolyn.

pbb
UN Photo/Mark Garten The preambular words of the UN Charter displayed at the United Nations Headquarters, in New York.

Bersatu menjaga perdamaian dan keamanan internasional

Delapan puluh tahun lalu, pada 26 Juni 1945, para delegasi dari 50 negara berkumpul di San Francisco untuk menandatangani dokumen yang kemudian mengubah jalannya sejarah.

Lahir dari reruntuhan Perang Dunia Kedua dan pengalaman pahit Depresi Besar serta Holocaust, Piagam PBB menjadi bentuk komitmen baru umat manusia. Gagalnya Liga Bangsa-Bangsa menjadi pelajaran penting bagi para perumusnya.

Kalimat pembuka Piagam PBB: “Kami Bangsa-Bangsa yang Bersatu” — mencerminkan tekad bersama untuk mencegah konflik di masa depan, menjunjung tinggi hak asasi manusia, serta mendorong perdamaian dan kemajuan sosial.

Dokumen asli tersebut, yang disimpan oleh Arsip Nasional Amerika Serikat, kini untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, pulang kembali ke jantung lembaga yang dilahirkannya.

Hingga September mendatang, Piagam asli PBB ini dapat dilihat langsung oleh publik di Markas Besar PBB. Piagam ini hadir sebagai sebuah simbol penting, bukan hanya sebagai janji dari masa lalu, melainkan sebagai komitmen abadi akan kerja sama internasional, perdamaian, dan tujuan bersama umat manusia.

Mendorong kemajuan sosial dan standar hidup yang lebih baik

Presiden Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC) serta Presiden Mahkamah Internasional (ICJ) turut menyampaikan pentingnya mempertahankan relevansi Piagam PBB di tengah tantangan zaman saat ini.

Bob Rae, Presiden ECOSOC, mengajak orang-orang untuk melihat sejarah umat manusia secara menyeluruh, dan menyadari bahwa usia PBB yang mencapai delapan dekade masih terbilang muda dalam konteks peradaban global.

“Kita beruntung bisa menilai secara jernih apa yang telah dicapai, sekaligus menyadari keberhasilan dan kegagalan kita,” ujarnya, sambil mengangkat salinan Piagam PBB yang dulu digunakan oleh ayahnya.

“PBB bukanlah sebuah pemerintahan, dan Piagam ini tentunya tidak sempurna,” lanjutnya, “namun ia lahir dari sebuah harapan dan aspirasi besar.”

Presiden ICJ, Hakim Yuji Iwasawa, juga menyoroti kemajuan yang telah dicapai sejak tahun 1945 sekaligus juga tantangan yang masih dihadapi masyarakat global saat ini.

“Selama 80 tahun sejak para perumus Piagam PBB meletakkan pena mereka, komunitas internasional telah mencapai banyak kemajuan. Namun tantangan tetap ada,” katanya. “Visi mereka untuk menegakkan supremasi hukum demi menjaga perdamaian dan keamanan dunia, masih sangat relevan dan bahkan semakin penting pada hari ini,” tegas Iwasawa.

Menegaskan kembali komitmen terhadap hak asasi manusia

Jordan Sanchez, seorang penyair muda, naik ke atas panggung untuk membacakan puisinya yang berjudul “Biarkan Cahaya Jatuh”.

Lewat puisi ini, Sanchez menyampaikan harapan dan impiannya akan dunia yang lebih baik.

“Biarkan cahaya jatuh,” ia membuka, “pada wajah-wajah yang terbenam dalam bayang-bayang penghinaan… agar anak-anak bisa berlari menuju cahaya wajahmu, menuju kehangatan hadirmu, menuju ketenangan dari damaimu.”

“Tak ada rasa takut. Hanya kelimpahan, akan rasa aman, rasa tenteram, dan keyakinan bahwa akan selalu ada cukup cahaya untukku,” lanjutnya, menggambarkan sebuah dunia impian layaknya Taman Eden yang dipulihkan; bukan seperti surga, melainkan sebagai dunia yang berkeadilan, jujur, dan berhati kemanusiaan.

“Semoga kita semua cukup berani untuk menggapainya, cukup rendah hati untuk berlutut dan membasuh diri di dalamnya, cukup berbelas kasih untuk mengumpulkan dan membagikannya, serta cukup polos untuk benar-benar percaya padanya,” ujar Sanchez.

Kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan

Peringatan 80 tahun Piagam PBB juga menjadi kesempatan untuk mengingat bahwa janji kesetaraan gender dalam dokumen ini merupakan hasil perjuangan keras sejak awal.

Pada tahun 1945, hanya ada empat perempuan dari 850 delegasi yang hadir di San Francisco untuk menandatangani Piagam PBB, dan hanya 30 negara yang memberi perempuan hak untuk memilih.

Sebuah podcast UN News pada tahun 2018 pernah mengangkat kisah para perintis yang terlupakan ini dan sekaligus juga mempertanyakan mengapa peran perempuan dalam membentuk visi awal PBB kerap luput dari narasi sejarah.

TAGGED:
Bekerja sebagai jurnalis lebih dari 20 tahun terakhir. Sebelum mendirikan Zonautara.com bekerja selama 8 tahun di Kompas.com. Selain menjadi jurnalis juga menjadi trainer untuk digital security, literasi digital, cek fakta dan trainer jurnalistik.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com