ZONAUTARA.com – Suara khas perempuan mungil itu membangunkanku dari tidur. Tepat pada Minggu pagi, 29 Juni 2025 pukul 07.00 WITA, istriku sudah bergegas menyiapkan santapan pagi untuk keluarga kecil kami. Hari itu terasa istimewa, karena kami bersiap untuk melakukan perjalanan ke Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).
Langit terlihat cerah, seakan ikut merestui rencana kami hari itu. Yang membuat perjalanan ini lebih spesial, aku tidak sendiri. Kali ini, kami lengkap: aku, istriku, dan dua putri cantik kami–Senja dan Mariam.
Waktu berjalan begitu cepat, hingga jarum jam menunjukkan pukul sepuluh. Semua barang-barang sudah dipersiapkan dengan rapi oleh istriku. Kini, kami benar-benar siap untuk berangkat ke Bolsel.
Membelah dataran Dumoga
Setelah Senja dan Mariam berpamitan dengan nenek dan kakek mereka, kami langsung menyalakan motor matic kesayangan dan memulai perjalanan dari Desa Passi, Kecamatan Passi Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow, menuju Bolsel.
Sepanjang perjalanan, pikiranku melayang ke masa lalu. Bolsel adalah tempat awal mula perjuangan hidupku.
Daerah yang dulunya asing, kini menjadi tempat paling aku rindukan. Di sanalah aku pertama kali mengais rezeki, dari masa muda hingga kini sudah berkeluarga. Bagi Mariam, putri bungsuku, ini adalah kunjungan pertamanya ke sana.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba Senja bersuara, “Ayah, Senja suka naik gunung. Kakak penasaran,” ucapnya polos.
“Oh iyo, Insya Allah,” jawabku sambil tersenyum.
Mungkin pertanyaan itu muncul karena sepanjang perjalanan kami melintasi perbukitan hijau yang memukau.
Tak lama, kami memutuskan berhenti di sebuah perusahaan retail di Desa Ponompiaan, Kecamatan Dumoga, untuk menikmati bekal yang sudah disiapkan istri.

Belajar dari Anak Kecil
Hal yang tak terduga terjadi ketika kami hendak melanjutkan perjalanan. Senja tiba-tiba memungut sampah plastik yang berserakan di area parkir perusahaan retail itu, lalu membuangnya ke tempat sampah. Aksinya diikuti oleh Mariam.
Sambil membuang sampah, Senja bertanya, “Ayah, kenapa mereka buang sampah sembarangan? Kan kalau buang sampah bisa jadi banjir, hewan-hewan di hutan juga bisa mati.”
Mendengar ucapan itu, hatiku terenyuh. Anak kecil ini justru memberi pengingat penting tentang menjaga lingkungan.
Aku langsung teringat bahwa keberlanjutan lingkungan adalah tanggung jawab kita semua, demi generasi mendatang.
Tak ada orang tua yang ingin anaknya hanya menjadi seperti dirinya. Sebaliknya, orang tua selalu berharap anaknya tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih baik. Harapan itu jugalah yang aku sematkan pada kedua permataku.

Aku bersyukur, anak pertamaku sudah punya kepedulian terhadap lingkungan. Terlebih, kini isu perubahan iklim menjadi ancaman global yang dampaknya nyata, terutama bagi petani.
Tanpa terasa, waktu Dzuhur tiba dan kami pun sampai di Bolsel.
Suara deburan ombak dan sorak bahagia Senja dan Mariam menyambut kami. Senyum mereka seketika menghapus rasa lelah selama perjalanan panjang.
“Wow, Ayah, mandi pantai ne. Senang banget! Ayah, di Bolsel ada ikan hiu?” tanya Senja penuh semangat, yang langsung diikuti tawa Mariam.
Kami pun disambut oleh keluarga di Bolsel, sosok-sosok yang sangat berjasa dalam hidupku. Meski tak ada ikatan darah, aku sudah menganggap mereka sebagai papa dan mama di Bolsel.
Begitu sampai di Desa Sondana, kami langsung beristirahat. Mama menyuguhkan teh hangat dan donat.
Senja langsung berbaur dengan anak-anak sebayanya, sementara Mariam masih tampak canggung dan berusaha menyesuaikan diri. Sesekali, mereka berdua menatap ke arah pantai yang terbentang indah di depan rumah.
Bincang soal pertanian dan perikanan
Aku pun berbincang dengan teman-teman lamaku di rumah. Pertanyaan pertama mereka adalah, “Sudah lama sekali tidak ke Bolsel. Hasil jagungmu berapa?”
“Jagungnya belum ditimbang, karena curah hujan yang cukup tinggi. Jadi, baru sempat dipipil sebelum berangkat ke Bolsel,” jawabku.
Kami berempat–aku, Aldi, Apil, dan Il, kemudian berdiskusi panjang soal pertanian hingga perikanan.
Ternyata, Aldi dan Apil juga mulai tertarik berkebun dan kembali mengandalkan hasil laut untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Dalam diskusi itu, kami menyadari bahwa bukan hanya petani yang terdampak perubahan iklim. Para nelayan juga merasakan penurunan hasil tangkapan akibat cuaca yang tak menentu dan angin laut yang kencang. Di bulan-bulan seperti ini, perairan Bolsel memang sedang memasuki musim ombak.
Dari diskusi itu, kami sadar betapa pentingnya kolaborasi semua pihak dalam menghadapi ancaman perubahan iklim. Diperlukan pemahaman yang mendalam, sekaligus aksi nyata dalam hal adaptasi dan mitigasi.
Sektor pertanian dan perikanan sangat vital bagi perekonomian masyarakat Bolsel. Karena itu, strategi nyata dalam menghadapi perubahan iklim harus segera diterapkan. Sebagai daerah pesisir, Bolsel rentan terhadap kenaikan permukaan laut dan erosi pantai.
Edukasi dan peran aktif dari seluruh stakeholder sangat dibutuhkan. Harus ada dorongan perubahan perilaku masyarakat.
Dalam sektor pertanian, penerapan praktik berkelanjutan perlu digalakkan. Para petani juga perlu dibekali pengetahuan tentang pola tanam dan cara menghadapi cuaca ekstrem, agar mereka tidak mengalami kerugian atau gagal panen.



