ZONAUTARA.com – Harga barang sehari-hari di Sulawesi Utara (Sulut) sedikit naik pada Juni 2025, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut. Inflasi bulanan mencapai 0,64%, artinya harga rata-rata barang naik sekitar 0,64% dibandingkan Mei 2025. Ini lebih baik dari bulan sebelumnya yang justru mengalami penurunan harga atau deflasi.
Apa artinya ini bagi masyarakat? Bayangkan belanja bulanan Anda: harga beras, cabai rawit, dan bawang merah naik, membuat pengeluaran makanan bertambah.
BPS mencatat, kenaikan ini disebabkan oleh stok yang menipis karena hujan deras di Juni, yang mengganggu panen dan pengiriman dari luar daerah seperti Makassar atau Bima.
“Stok cabai rawit berkurang, ditambah cuaca buruk, jadi harganya melonjak,” jelas laporan BPS tersebut.
Tapi tidak semua harga naik. Harga daging babi justru turun karena pasokan melimpah dari peternak lokal. Ini membantu menahan inflasi agar tidak terlalu tinggi.

Secara tahunan, inflasi mencapai 1,71% dibandingkan Juni 2024, dan sejak awal tahun hingga Juni, angkanya 1,85%.
Lihat tabel sederhana di bawah ini untuk komoditas utama yang memengaruhi inflasi bulanan:
| Komoditas Pendorong | Andil (%) | Komoditas Penahan | Andil (%) |
|---|---|---|---|
| Beras | 0,31 | Daging Babi | -0,14 |
| Cabai Rawit | 0,26 | Ikan Malalugis | -0,05 |
| Bawang Merah | 0,19 | Cabai Merah | -0,03 |
| Angkutan Udara | 0,12 | Bawang Putih | -0,03 |
| Lemon | 0,03 | Ikan Kembung | -0,02 |
Inflasi paling tinggi dirasakan di Kota Manado (0,77%), di mana beras jadi penyumbang utama. Sementara di Minahasa Utara, angkanya 0,71%. Secara tahunan, Minahasa Utara tertinggi dengan 2,99%.
Bagi warga Sulut, ini berarti perlu lebih pintar mengatur anggaran, terutama untuk makanan. Pemerintah daerah bisa membantu dengan menstabilkan pasokan pangan.
BPS menyatakan, “Tingkat inflasi Juni lebih tinggi dari sebelumnya, tapi masih terkendali”.Â
Untuk memahami analisis data inflasi di Sulut pada Juni 2025 dapat membaca artikel kami ini:


