Waspada modus pengiriman paket, jangan terperangkap penipuan melalui phishing

Hingga kuartal ketiga 2024 saja sudah ada 8.324 serangan phishing.

Editor: Redaktur
Ilustrasi digenerate dengan AI.



ZONAUTARA.com — Artis papan atas Asmara Abigail baru-baru ini menjadi korban praktik phishing yang menyamar sebagai layanan pengiriman paket, menyebabkan kerugian hingga Rp 70 juta. Insiden ini bermula dari sebuah pesan singkat mencurigakan yang mengarahkan korban untuk mengklik tautan palsu.

Menyoroti meningkatnya ancaman kejahatan siber di tengah tingginya transaksi digital di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan perusahaan logistik seperti J&T Express turut menyerukan kewaspadaan dan membagikan tips untuk melindungi masyarakat dari modus penipuan serupa.

Kasus yang dialami Abigail, yang terjadi saat ia sedang sibuk dengan promosi film dan syuting, menjadi contoh nyata bagaimana kelengahan akibat kelelahan dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan. Modus operandi ini melibatkan pengiriman tautan palsu melalui iMessage atau SMS yang mengklaim paket gagal dikirim, lantas meminta data pribadi atau pembayaran tambahan.

Data dari Indonesia Domain Abuse Data Exchange (IDADX) menunjukkan lonjakan kasus phishing, dengan 8.324 serangan tercatat pada kuartal ketiga 2024 saja, menggarisbawahi urgensi literasi digital.

Abigail menceritakan bahwa kejadian nahas itu bermula ketika ia memutuskan menggunakan jasa ekspedisi untuk mengirim perlengkapan syuting. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk via iMessage dari pihak yang mengaku kurir, meminta dirinya mengisi formulir melalui tautan yang diberikan.




“Biasanya kalau ada yang ngirim link, entah itu di SMS, WhatsApp atau ada nomor enggak dikenal atau ditelepon kita suka dapat email enggak jelas gitu, aku enggak pernah klik. Tapi mungkin karena aku benar-benar capek, jadilah aku ketipu, situasinya tuh benar-benar buat aku horor banget,” ceritanya dalam podcast RJL-5 Fajar Aditya, dikutip pada Minggu (7/9/2025).

Kondisi fisik dan mental yang lelah membuatnya lengah, apalagi tampilan situs palsu tersebut sangat mirip dengan website resmi perusahaan ekspedisi, sehingga ia tanpa sadar mengikuti instruksi pelaku, termasuk melakukan pembayaran tambahan dan memasukkan data kartu kredit. Akibatnya, beberapa transaksi berhasil dengan nominal dalam mata uang riyal (SAR), yang setara dengan sekitar Rp 70 juta.

Kejanggalan baru disadari Abigail setelah mengonfirmasi langsung ke pihak jasa pengiriman, yang menyatakan paketnya tidak bermasalah dan tetap berjalan sesuai prosedur.

Kasus Abigail hanyalah satu dari ribuan kasus phishing yang mengintai sektor jasa pengiriman paket. Ringkasan laporan phishing terbaru dari Indonesia Domain Abuse Data Exchange (IDADX) mencatat 106.806 kasus phishing selama lima tahun terakhir (2018-2023). Pada tahun 2024, jumlah serangan phishing terus meningkat, dari 1.365 pada kuartal pertama, 1.598 pada kuartal kedua, dan melonjak tajam menjadi 8.324 pada kuartal ketiga. Angka-angka ini menegaskan betapa krusialnya kesadaran dan kewaspadaan masyarakat.

Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, menegaskan, “Risiko semakin tinggi karena pelaku kejahatan digital semakin canggih, dan banyak masyarakat yang masih belum memiliki literasi digital serta keuangan yang memadai. Oleh karena itu, perlindungan konsumen tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga keuangan, tetapi juga memerlukan regulasi yang adaptif serta kolaborasi lintas sektor untuk menanggulangi berbagai bentuk kejahatan secara menyeluruh.”

OJK pun mengimbau masyarakat untuk tidak asal mengklik tautan yang dikirim dalam bentuk apa pun. Perusahaan logistik J&T Express juga mengakui sering menerima laporan penipuan yang mengatasnamakan perusahaan mereka.

Herline Septia, Brand Manager J&T Express, menjelaskan dalam Media Gathering di Jakarta pada Rabu (27/8/2025) bahwa modusnya bervariasi, mulai dari tautan ilegal, SMS yang meminta pengiriman uang, hingga telepon yang meminta pembayaran ulang paket.

“Lalu ada juga yang modusnya ditelefon dan meminta paket harus dibayar lagi, kami merasa ini sebuah keresahan dari berbagai pelanggan juga karena memang memanfaatkan jasa pengiriman. Jadi ragamnya lumayan banyak tapi paling banyak biasanya SMS dan meminta sejumlah dana,” ujarnya.

Ahli IT dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Taufiqur Rohman, menjelaskan maraknya kejahatan ini didorong oleh tingginya transaksi digital di Indonesia. Banyak pelaku menggunakan aplikasi yang mengandung Spyware, perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk mengumpulkan data penting dari perangkat korban.

Tips penting

Untuk menghindari penipuan kurir paket, Taufiq membagikan beberapa tips penting:

  1. Jangan Klik Tautan Sembarangan: Selalu hindari mengklik tautan dalam pesan teks yang mencurigakan. Gunakan aplikasi resmi kurir atau langsung kunjungi situs web resmi perusahaan pengiriman untuk memeriksa status paket. Penipu semakin mahir dalam menyalin tampilan situs web terpercaya, sehingga kehati-hatian ekstra diperlukan.
  2. Periksa Nomor Pelacakan Resmi: Verifikasi nomor pelacakan paket melalui aplikasi atau situs web resmi perusahaan ekspedisi, bukan melalui tautan yang diterima dari pesan.
  3. Periksa URL dan Sertifikat SSL: Selalu periksa URL situs web yang Anda kunjungi. Taufiq mengingatkan bahwa keberadaan sertifikat SSL (HTTPS) tidak serta-merta menjamin keaslian situs, karena sertifikat ini bisa diperoleh secara gratis dengan sedikit verifikasi. Jika ragu, gunakan mesin pencari untuk menemukan versi situs yang sah.

Sebagai upaya menekan kasus penipuan, J&T Express secara rutin mengeluarkan imbauan kepada pelanggannya melalui media sosial Instagram resmi mereka. Bahkan, J&T telah meluncurkan kampanye edukasi “3C”: Cek, Curiga, dan Cancel.

Herline Septia menjelaskan, “Cek” berarti pelanggan harus memeriksa keaslian tautan yang diterima. “Curiga” mendorong pelanggan untuk waspada terhadap hal yang tidak biasa atau mencurigakan. Terakhir, “Cancel” berarti pelanggan harus segera membatalkan atau mengabaikan tautan jika ada keraguan atau indikasi penipuan.

“Jadi kalau misalnya sudah mencurigakan, udah aneh-aneh, udah gak ini, cancel aja. Enggak usah apa-apaain atau langsung laporkan aja ke J&T,” tegasnya.

Melalui kampanye 3C ini, J&T berharap tidak ada lagi kejadian seperti yang dialami Asmara Abigail. “Kami berupaya untuk memperkuat tingkat kesadaran masyarakat agar berhati-hati atas beragam penipuan di dunia pengiriman barang, melalui kampanye edukatif ini,” pungkas Herline.

Bekerja sebagai jurnalis lebih dari 20 tahun terakhir. Sebelum mendirikan Zonautara.com bekerja selama 8 tahun di Kompas.com. Selain menjadi jurnalis juga menjadi trainer untuk digital security, literasi digital, cek fakta dan trainer jurnalistik.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com