Oleh: Rusydi Umar, Universitas Ahmad Dahlan
Dalam banyak keluarga urban Indonesia, anak-anak bahkan sejak berusia 5 tahun sudah terbiasa menonton YouTube dan bermain gim daring seperti Roblox. Gadget tidak lagi sekadar alat bantu belajar, melainkan menjadi medium konsumsi bagi anak-anak.
Selain sistem pengawasan dan sensor ihwal akses konten dan gim, pertanyaan mendasar lain yang muncul adalah bagaimana cara mengendalikan pengeluaran dalam rumah tangga digital—anak atau orang tua?
Sebagai contoh, warganet sempat dihebohkan pengakuan komedian Sutisna atau Sule yang “kebobolan” tagihan kartu kredit hingga Rp50 juta. Tagihan ini muncul karena anaknya gemar bermain Roblox.
Kasus ini mengajarkan bahwa ada risiko yang menghantui ekonomi keluarga dari perilaku anak saat menggunakan gadget.
Anak digital dan risiko finansial baru
Anak-anak generasi Alpha—yang lahir setelah 2010—adalah kelompok anak yang tumbuh dengan sentuhan layar. Mereka menghadapi era ketika platform dan gim menghadirkan sistem berlangganan dan transaksi mikro untuk bisa menikmati pengalaman penuh layanan digital mereka.
Akibatnya munculah risiko finansial tersembunyi.
Jika akun e-wallet orang tua tersambung, maka pembelian impulsif bisa terjadi dalam hitungan detik. Bahkan banyak di antaranya tidak sadar kalau transaksi yang dilakukan menggunakan uang asli.
Studi dari Common Sense Media (2023) di Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa anak-anak berusia 8-12 tahun menghabiskan rata-rata hampir 5 jam sehari dengan layar. Karena rasa keingintahuan yang tinggi, anak-anak secara otomatis memahami sistem kerja gawai dan aplikasi.
Di sinilah letak tantangan baru dalam literasi keuangan keluarga. Sebelumnya, fokus edukasi keuangan adalah pada pengelolaan gaji dan utang. Kini, orang tua harus memahami keamanan akun digital, pengaturan pengawasan, serta menjelaskan konsep uang digital kepada anak-anak.
Di era digital, anak-anak terpapar konsumsi virtual sebelum mereka bisa memahami konsep nilai uang. Mereka tahu cara membeli, tetapi belum memahami apa yang dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu.
Maka dari itu, tidak heran anak-anak yang meniru perilaku konsumtif itu dapat bertumbuh dengan pola pikir serupa.
Lawan risiko digital dengan pemanfaatan digital
Solusi perlu dimulai dari kesadaran orang tua bahwa edukasi finansial harus hadir sejak dini dan dalam bentuk yang sesuai perkembangan anak. Misalnya, mengenalkan uang sebagai alat tukar bukan hanya secara fisik, tapi juga uang digital.
Banyak keluarga merasa cukup dengan menginstal aplikasi parental control atau membatasi screen time. Orang tua perlu mengedepankan pendidikan nilai seperti mengapa kita tidak boleh membeli sembarangan, apa dampaknya terhadap keuangan keluarga, dan bagaimana memilih kebutuhan yang benar.
Orang tua bukan hanya pengatur dompet, tapi juga panutan bagi anak-anaknya. Jika orang tua terbiasa menahan diri saat belanja, menabung sebelum membeli, dan berdiskusi saat mengambil keputusan keuangan, maka anak-anak akan menangkap nilai-nilai itu tanpa disuruh.
Namun, jika orang tua bersifat takut ketinggalan tren atau FOMO, maka akan ditiru juga oleh anak-anaknya.
Banyak platform keuangan sekarang menyediakan fitur edukatif, seperti ringkasan pengeluaran mingguan, batas pembelian harian, hingga aplikasi menabung khusus anak. Keluwesan orang tua mencari pengetahuan dan metode edukasi literasi keuangan digital menjadi salah satu faktor kunci.
Orang tua dapat memanfaatkan fitur-fitur ini bukan hanya untuk kontrol, tetapi juga untuk melibatkan anak dalam perencanaan keuangan rumah tangga.
Peran keluarga dan pendidikan dalam masa depan finansial anak
Bagi sebagian keluarga—yang sudah merugi karena transaksi digital anak-anak—nasi mungkin sudah menjadi bubur. Namun, orang tua dapat belajar untuk mencegah kerugian serupa di kemudian hari.
Orang tua dapat melibatkan anak dalam evaluasi pengeluaran. Misalnya, orang tua dapat mengajak mereka membuat alternatif hiburan tanpa harus beli.
Keluarga bisa membuat “permainan keuangan” bersama, seperti tantangan menabung harian, atau kompetisi siapa yang paling hemat kuota dan tidak tergoda iklan gim.
Tentu orang tua tidak bisa bekerja sendiri. Sekolah dan komunitas perlu terlibat. Kurikulum literasi digital dan finansial sebaiknya mulai masuk sejak tingkat dasar, bukan hanya sebagai pelajaran tambahan, tetapi bagian dari pola pembelajaran sehari-hari.
Pejabat pemerintah, seperti kasus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, mungkin langsung terpikirkan soal melarang anak bermain gim seperti Roblox.
Alih-alih menutup akses gim atau platform hiburan anak, ada baiknya orangtua turut bermain gim bersama anak. Orang tua bisa mengajak anaknya mabar (main bareng) gim yang mengandung aspek edukatif seperti Minecraft yang tidak kalah populer dari Roblox.
Di sisi lain, komunitas parenting juga bisa menjadi wadah bertukar pikiran sesama orang tua mengenai tip pengawasan konsumsi digital anak-anak. Orang tua juga perlu mempertimbangkan memberi materi pengenalan mengenai aset digital seperti kripto atau blockchain tingkat dasar untuk lebih menggugah semangat berinvestasi ketimbang berkonsumsi.
Kita tak bisa menghentikan perkembangan teknologi, tetapi literasi dapat kita tingkatkan. Keluarga adalah fondasi utama dalam menghadapi arus konsumsi digital yang tak terbendung.
Anak-anak bukan sekadar penerima, mereka adalah aktor yang perlu dipersiapkan untuk jadi warga digital yang cerdas secara finansial.
Rusydi Umar, Dosen, Universitas Ahmad Dahlan
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.


