KCIF2025: Para aktivis lintas negara berkumpul, bahas masa depan gerakan feminisme di tengah krisis global

KCIF2025 menegaskan urgensi membangun solidaritas lintas isu, sektor, dan generasi.

Editor: Redaktur
Image: seventeen.com

ZONAUTARA.com — A Consortium for Plural and Inclusive Indonesian Feminisms kembali menyelenggarakan Annual Kartini Conference on Indonesian Feminisms (KCIF) untuk ketiga kalinya. Konferensi yang dikenal sebagai KCIF2025 ini berlangsung secara daring melalui platform Zoom dari tanggal 14 hingga 21 September 2025.

Mengangkat tema krusial “Di Antara Badai Krisis Internal dan Eksternal: Masa Depan Feminisme dan Aktivisme Feminis,” acara ini bertujuan untuk mereposisi dan merefleksikan gerakan feminisme Indonesia di tengah tantangan sosial-politik global dan nasional yang ditandai dengan menguatnya otoritarianisme, oligarkisme, dan militerisme.

KCIF2025 diorganisasi oleh tiga organisasi feminis utama, yakni LETSS Talk, Kalyanamitra, dan Mitra Wacana, sebagai ruang reflektif, pembelajaran kritis, dan kolaboratif bagi feminis lintas generasi, organisasi, geografi, dan komunitas.

Konferensi ini berhasil menarik sekitar 1000 peserta dari Aceh hingga Papua, bahkan beberapa dari luar negeri seperti Amerika Serikat, Australia, Belanda, Irlandia, Inggris, Jerman, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Türkiye, serta melibatkan lebih dari 350 pembicara dan presenter. Acara ini diselenggarakan secara pro bono, tanpa memungut biaya dari peserta maupun pembicara, menegaskan komitmen untuk akses pengetahuan feminis yang inklusif.

Farid Muttaqin dari LETSS Talk, selaku Conference Chair, menyatakan bahwa KCIF2025 merupakan salah satu platform penting untuk terus memperjuangkan dan menegaskan kembali feminisme Indonesia sebagai realitas yang majemuk. Ia menyoroti kekayaan aktor dan agenda gerakan yang ada.




“KCIF2025 merupakan salah satu media untuk terus mengampanyekan dan mengklaim ulang feminisme Indonesia sebagai realitas yang plural, dengan aktor dan agenda gerakan yang kaya,” ujarnya.

Pengakuan atas keragaman ini, lanjut Farid, juga merupakan pengakuan atas dinamika feminisme yang terus beradaptasi dan memberikan respons terhadap berbagai persoalan sosial.

Sebelum acara utama, KCIF2025 diawali dengan serangkaian kegiatan pra-konferensi berupa forum publik yang bekerja sama dengan Universitas Indonesia, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, dan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Forum-forum ini fokus pada produksi pengetahuan feminis keindonesiaan dan reposisi feminisme di tengah krisis demokrasi.

Selama delapan hari, KCIF2025 akan memfasilitasi sejumlah sesi penting, termasuk 56 sesi panel paralel, 5 side event, 2 plenary session, 1 keynote speech, 1 diskusi buku, dan 1 roundtable discussion, di samping sesi pembukaan, penutupan, serta Cultural & Networking Nite.

Keynote speech bertema “Konfrontasi Otoritarianisme Baru: Memosisikan Ulang Feminisme di Indonesia dan Wilayah Lainnya” akan menghadirkan Prof. Dr. Saskia Wieringa dari University of Amsterdam sebagai pembicara utama, dengan Aan Anshori dari Gusdurian Jawa Timur sebagai moderator.

Beberapa tokoh feminisme Indonesia turut menjadi pembicara undangan dalam berbagai sesi spesial. Mereka termasuk sejarawan feminis Ita Fatia Nadia, Ketua Komnas Perempuan Maria Ulfah Anshor, aktivis perempuan Aceh Suraiya Kamaruzzaman, dan pendiri Aliasnis Laki-Laki Baru Nur Hasyim, yang akan berbicara dalam sesi plenary bertajuk Special Plenary Session 1 “Oligarki dan Militerisme Mengepung Negara: Bagaimana Feminisme Indonesia Bereaksi?”

Tokoh feminis lain yang terlibat dalam sesi panel maupun side event meliputi KH. Husein Muhammad, Julia Suryakusuma, Myra Diarsi, Agustina P. Murniati, Yuniyanti Chuzaifah, Magdalena Sitorus, Wahyu Susilo, Nina Nurmila, Adriana Venny, dan Mia Siscawati.

Sesi plenary internasional berjudul “Global Feminism, Global Oligarchy: Feminists Across Borders and the Fight against the Global Oligarchy” akan menghadirkan pembicara dari Irak, Nigeria, Filipina, dan Kolombia, dengan fasilitas penerjemah Inggris-Indonesia secara simultan.

Beragam isu feminisme dan sosial akan dibahas dalam sesi-sesi panel, mencakup krisis ekologi, energi terbarukan, maskulinitas dan politik, kekerasan gender dan seksual online, kanker payudara, feminisme lintas generasi, pekerja rumah tangga migran, buruh perempuan, kerja perawatan, kesehatan mental, disabilitas, pengungsi, masyarakat adat, lanjut usia, gerakan anti-tembakau, sastra dan film, perlindungan anak, hingga perkembangan feminisme digital. Untuk memastikan aksesibilitas, beberapa sesi KCIF2025 juga akan dilengkapi dengan Juru Bahasa Isyarat bagi kawan-kawan Tuli.

KCIF2025 juga akan memberikan dua bentuk penghargaan: Best Presenter untuk tiga presenter dengan tema presentasi orisinal dan kontribusi besar pada feminisme, serta Best Participant untuk tiga peserta yang aktif berpartisipasi dan menyampaikan tanggapan, komentar, serta pertanyaan kritis dan reflektif.

Sebagai gerakan kolektif, KCIF2025 berkomitmen untuk saling menguatkan. Ika Agustina, Direktur Eksekutif Kalyanamitra dan anggota Komite Program KCIF2025, menyampaikan keprihatinannya atas menyempitnya ruang sipil dan demokrasi di Indonesia. Ia menyebutkan, terpeliharanya oligarki dan patriarki, ditambah militerisme, semakin mengokupasi ruang-ruang sipil, menjauhkan harapan penegakan HAM, khususnya hak perempuan dan kelompok marginal.

“KCIF menjadi salah satu cara berbagi daya, kontribusi pemikiran, saling menguatkan dan menjadi kawan gerak secara kolektif menjadi cara untuk bisa bertahan dan melawan di kehidupan yang masih sarat dengan diskriminasi, kekerasan, dan ketimpangan. Dan merupakan suatu kehormatan bagi Kalyanamitra untuk hadir dan mengisi ruang gerak kolektif ini,” ungkap Ika Agustina.

Wahyu Tanoto, Direktur Mitra Wacana, menekankan pentingnya bagi gerakan feminisme Indonesia untuk bersuara lebih keras dan bersedia mendengarkan. “Kita semua bersedia untuk merajut kembali feminisme yang berdasarkan pada data pengalaman nyata, penerimaan keragaman bentuk penyintas dan perjuangan, menumbuhkan kolaborasi lintas sektor dan komunitas, serta mendorong perbaikan sistem hukum dan sosial yang adil-setara. Karena, feminisme yang ‘bernyawa’ adalah feminisme yang berpijak pada kenyataan dan menyentuh kehidupan sehari-hari,” pungkas Wahyu Tanoto.

Diah Irawaty, Pendiri dan Koordinator LETSS Talk sekaligus Koordinator Program KCIF2025, menggarisbawahi bahwa produksi pengetahuan feminis harus inklusif dan terbuka bagi siapa pun, tanpa sekat akademisi-non akademisi atau aktivis-non-aktivis. Ia juga menekankan pentingnya memahami semua aspek kehidupan sebagai isu feminisme.

“Persoalan apapun dalam hidup kita dapat dianalisis melalui perspektif feminisme yang interseksional. Upaya transformasi feminisme bisa dilakukan dan berjalan beriringan antara aktivisme dan produksi pengetahuan. Advokasi membutuhkan pengetahuan, dan pengetahuan akan menghasilkan cara mengadvokasi yang efektif, kreatif, dan inovatif. Keduanya berinterseksi dan bersimbiosis mutualisme,” ungkap Diah Irawaty.

Di tengah meningkatnya kasus kekerasan berbasis gender—Komnas Perempuan (2024) mencatat 445.502 kasus kekerasan terhadap perempuan, dengan 330.097 di antaranya kekerasan berbasis gender—serta menyempitnya ruang demokrasi dan menguatnya gerakan anti-gender.

KCIF2025 menegaskan urgensi membangun solidaritas lintas isu, sektor, dan generasi. Konferensi ini juga menekankan pentingnya menguatkan komitmen feminis pada perubahan sosial dan resistansi terhadap ketidakadilan.

KCIF2025 adalah ruang inklusif, interseksional, dan plural yang konsisten membuka akses pengetahuan feminis secara gratis, online, dan berbahasa Indonesia, memastikan pengetahuan ini dapat diakses dan diproduksi oleh semua orang, serta berkontribusi pada advokasi dan aktivisme.

Bekerja sebagai jurnalis lebih dari 20 tahun terakhir. Sebelum mendirikan Zonautara.com bekerja selama 8 tahun di Kompas.com. Selain menjadi jurnalis juga menjadi trainer untuk digital security, literasi digital, cek fakta dan trainer jurnalistik.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com