ZONAUTARA.com – Sekilas, data kesejahteraan petani di Sulawesi Utara (Sulut) untuk September 2025 menunjukkan sedikit penurunan. Namun, di balik penurunan bulanan yang sangat kecil itu, tersimpan gambaran besar yang jauh lebih positif: kesejahteraan petani secara tahunan justru melonjak signifikan.
Artikel ini akan mengupas 5 hal penting dari analisa Zonautara.com terhadap data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut yang diterbitkan melalui dokumen Berita Resmi Statistik BPS Sulut No. 56/10/1/Th. XIX yang dipublikasikan pada 1 Oktober 2025.
1. Penurunan bulanan yang semu, kenaikan tahunan yang fantastis
Fakta utama yang dirilis BPS adalah Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Utara turun tipis sebesar 0,10% pada September 2025, dari 131,41 pada bulan Agustus menjadi 131,29. Penurunan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani (turun 0,45%) anjlok lebih dalam daripada indeks harga yang mereka bayarkan untuk kebutuhan produksi dan rumah tangga (turun 0,36%).
Namun, fakta yang kontras dan jauh lebih signifikan adalah kenaikan secara Year on Year (YoY) atau tahun ke tahun. Dibandingkan dengan September tahun sebelumnya, NTP Sulawesi Utara sebenarnya mengalami kenaikan fantastis sebesar 17,06%. Ini menunjukkan bahwa melihat data bulanan saja bisa sangat menyesatkan. Gambaran jangka panjang justru memperlihatkan bahwa daya beli petani saat ini jauh lebih kuat dibandingkan tahun lalu.

2. Nasib petani tak sama rata
Istilah “petani” seringkali dianggap sebagai satu kelompok tunggal, padahal nasib mereka bisa sangat berbeda tergantung pada komoditas yang diusahakan. Data September 2025 dengan jelas menunjukkan adanya perbedaan di antara subsektor pertanian:
- Pemenang Bulan Ini: Petani Tanaman Pangan menikmati kenaikan NTP tertinggi sebesar 2,49% (didorong oleh kelompok palawija seperti jagung dan kacang tanah), diikuti oleh sektor Perikanan yang NTP-nya naik 0,88%.
- Kalah Bulan Ini: Petani Hortikultura mengalami penurunan NTP paling dalam sebesar 2,63% (terutama akibat anjloknya harga di kelompok sayur-sayuran seperti tomat dan kubis), disusul oleh Peternakan yang turun 2,13%, dan Perkebunan Rakyat yang turun tipis 0,19%.
Temuan ini menggarisbawahi bahwa kondisi pasar dan kebijakan dapat berdampak sangat berbeda bagi petani sayur, peternak babi, atau petani kelapa, meskipun mereka berada di provinsi yang sama.
3. Dilema komoditas: Harga turun saat dijual, turun juga saat dibeli
Salah satu fenomena paling menarik dari data kali ini adalah peran ganda beberapa komoditas. Penurunan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) (uang yang mereka peroleh) dipicu oleh jatuhnya harga komoditas utama seperti kelapa, tomat, kakao, babi, dan gabah. Artinya, petani menerima uang lebih sedikit saat menjual produk-produk ini.
Namun, secara kontra-intuitif, penurunan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) (uang yang mereka belanjakan) juga didorong oleh turunnya harga beberapa produk pangan seperti bawang merah, cabai rawit, daging babi, cabai merah, dan tomat.
Fakta ini menunjukkan kompleksitas ekonomi di pedesaan, di mana petani sering kali menjadi produsen sekaligus konsumen dari produk yang sama atau sejenisnya. Penurunan harga bisa menjadi pedang bermata dua bagi mereka.
4. Sulut melawan arus?
Apakah penurunan tipis NTP di Sulut merupakan kasus yang terisolasi? Data regional menunjukkan sebaliknya. Dari enam provinsi di Pulau Sulawesi, hanya Provinsi Gorontalo yang mengalami kenaikan NTP (sebesar 1,80%) pada September 2025.
Lima provinsi lainnya, termasuk Sulut (-0,10%), serempak mengalami penurunan. Penurunan terbesar bahkan terjadi di Sulawesi Tengah yang anjlok sebesar 2,07%. Ini menandakan bahwa tantangan yang dihadapi petani Sulut pada bulan September bukanlah masalah lokal, melainkan bagian dari tren regional yang lebih luas di Pulau Sulawesi.

5. Ironi di meja makan: Pengeluaran untuk makanan justru paling anjlok
Mungkin temuan yang paling mengejutkan datang dari Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani. Secara umum, pengeluaran rumah tangga petani turun sebesar 0,59%. Namun, jika dibedah lebih dalam, ada satu kelompok pengeluaran yang penurunannya paling signifikan.
Kelompok “Makanan, Minuman dan Tembakau” mengalami penurunan indeks terbesar, yaitu anjlok 1,01%. Ini adalah sebuah ironi: petani, yang merupakan produsen pangan utama, justru mengurangi pengeluaran mereka untuk makanan lebih drastis dibandingkan kategori lainnya. Fenomena ini bisa mengindikasikan berbagai hal, mulai dari perubahan pola konsumsi hingga adanya tekanan pada anggaran belanja rumah tangga mereka.
Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib) dan dinyatakan dalam persentase. NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat daya beli petani. Semakin tinggi NTP dapat diartikan kemampuan daya beli atau daya tukar (term of trade) petani relatif lebih baik dan tingkat kehidupan petani juga lebih baik.
Di balik angka, ada cerita
Data kesejahteraan petani Sulut untuk September 2025 membuktikan bahwa angka statistik jauh lebih kompleks dan berlapis daripada yang terlihat di permukaan. Penurunan bulanan yang kecil menutupi lonjakan tahunan yang besar, dan nasib petani sangat bervariasi tergantung pada apa yang mereka tanam atau ternakkan.
Dengan dinamika yang begitu beragam antar petani, langkah apa yang paling efektif untuk memastikan kesejahteraan yang merata di seluruh sektor pertanian di masa depan?



