ZONAUTARA.com – Gitar listrik menggema membelah udara Pasir Putih Boulevard Manado pada Jumat (21/11/2025). Sorak teriak dari penonton menyatu dengan dentuman bas yang terasa sampai ke tulang.
Dari balik lampu dan asap panggung, sosok yang kutunggu muncul juga, lelaki berambut keriting keribo, berkaus oblong, celana jins skuba, dan gaya santai khasnya yang seolah berkata musik lebih jujur dari penampilan apa pun.
Jason Ranti, Jejeboy yang sudah lama hanya bisa kutemui melalui layar dan rekaman, kini benar-benar berdiri di depanku, diiringi para personel Dongker.
Di balik riuhnya penonton, fokusku hanya satu: Aku! Dengan mata yang tak berpindah dan hati yang sesak oleh sesuatu yang tak bisa dinamai. Seolah berbisik dalam hati.
“Terimakasih Tuhan, satu wish list dalam hidup terpenuhi.”
Bagiku kalimat itu sederhana. Tapi di dalamnya ada rasa syukur yang selama ini tersimpan, menunggu momen seperti malam itu untuk keluar.
Tak lama setelah lagu pertama selesai, Jeje mengangkat mikrofon dan mengucapkan, “Ini pertama kali saya ke Manado dan beberapa bulan terakhir kami ada di Sulawesi.”
Sorakan penonton pecah lagi. Tapi, bagiku kalimat itu terdengar lebih personal. Seolah bukan disampaikan kepada ribuan orang, melainkan ditujukan untukku seorang. Seolah ia sedang mengatakan, “Aku akhirnya datang.”
Jeje bukan sekadar musisi atau pelukis. Ia penulis lagu. Ia penulis, penulis kehidupan, penulis gelap-terang yang kita alami tapi tak pernah kita ucapkan. Di sanalah perjumpaan pertamaku dengannya dimulai, jauh sebelum aku tahu cara ia bernyanyi di atas panggung.

Bagiku, Jeje adalah art
Seni yang tidak pernah mencoba jadi rapi, tapi justru memikat karena ketidakteraturannya dengan gradasi-gradasi warna yang tetap estetika ketika dipadukan meski abstrak.
Kolaborasinya dengan Dongker malam itu luar biasa. Ada ledakan energi yang mendorong penonton melompat, menyanyi, tertawa. Namun dari semua lagu yang dibawakan yang kebanyakan kolaborasi dengan Dongker hanya satu lagu Jeje sendiri yang ia lantunkan,
“Hey hidup hanya numpang ketawa, aku tertawa maka ku apa”
Siapa yang tak tahu lirik itu? Ringan, tapi menghantam tepat di tempat yang tak pernah kuberitahu siapa pun.
Lirik itu seperti menepuk pundakku, bahwa hidup tak harus selalu berhasil, tak harus selalu kuat, tak harus selalu tahu arah. Kadang cukup tertawa dulu, agar kita ingat bahwa kita masih ada. Bahwa di lorong-lorong kehidupan manusia hanya sebutir pasir yang hidup di bumi.
Di atas motor, saat jalanan mulai lengang, satu lagi lagu yang menghantui kepalaku muncul, lagu yang tak sempat jeje nyanyikan.
“Barangkali hidup adalah doa yang panjang”
Dan aku percaya itu!.
Karena malam itu, entah doa siapa yang akhirnya mengantarkanku bertemu Jeje. Doaku sendiri? doa ibuku? doa ratusan orang yang ingin melihat Jeje datang ke Manado? doa sponsor konser agar dagangannya laris? doa pramugari/pramugara yang ingin singgah sebentar di Manado? Atau doa para kru, panitia, orang-orang yang membuat panggung itu berdiri?
Semua doa itu mungkin berhimpitan, menembus langit bersama-sama, hingga akhirnya membawa kami berkumpul di titik yang sama pada malam yang sama.
“Tapi oh sayang doanya mesti seragam” (lanjutan liriknya)
Mungkin memang begitu.
Doa yang membawa seseorang ke tempat yang ia cintai adalah doa yang akhirnya bertemu di tengah jalan jadi sesuatu yang seragam, walau diucapkan dari hati yang berbeda.
Dalam perjalanan pulang, lirik-lirik lain menyusul, datang tanpa permisi.
“Karena tak dapat ku ungkapkan kata yang paling cinta…”
“Kupasrahkan saja di dalam diam…”
“Aku tak ingin menangis menerka gerimis…”
“Di sepanjang lorong itu aku tak ada nyali…”
“Pak Sapardiiiiiii…”
Lirik demi lirik kuartikan sendiri, kusambungkan dengan bab-bab hidupku yang belum selesai. Entah bagaimana, lagu-lagu itu seperti tahu apa yang tak sanggup kuucapkan.
Malam itu di antara gitar yang masih terngiang aku merasa tidak sedang pulang dari konser.
Aku sedang pulang ke bagian diriku yang lama hilang.
Dan mungkin, pada akhirnya, hidup memang doa panjang yang tak pernah kita tahu ujungnya. Setidaknya aku menemukan satu jawaban bahwa doa juga bisa berwujud konser, gitar listrik, kaus oblong, rambut keribo, dan seseorang yang selama ini hanya kukenal lewat lagu danlukisannya: Jejeboy!.


