ZONAUTARA.com – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang dipicu cuaca ekstrem akibat siklon tropis Senyar pada akhir November 2025 terus menimbulkan korban jiwa di tiga provinsi Sumatera yakni Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Berdasarkan data terbaru Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana (Pusdatin) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin (1/12/2025) pukul 17.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 604 orang, dengan rincian 283 jiwa di Sumut, 165 jiwa di Sumbar, dan 156 jiwa di Aceh. Selain itu, sebanyak 464 orang masih dinyatakan hilang, sementara 2.525 orang mengalami luka-luka.
Bencana ini dimulai sejak 21 November 2025, ketika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi bibit siklon tropis 95B di perairan timur Aceh, Selat Malaka, yang berkembang menjadi siklon tropis Senyar.
Hujan lebat hingga ekstrem, disertai angin kencang, memicu banjir bandang di 46 kabupaten/kota, merusak lebih dari 27.000 rumah, 204 unit fasilitas pendidikan, dan 270 jembatan. Dampaknya meluas hingga mengganggu jaringan telekomunikasi, logistik, dan sektor pertanian, dengan 27.000 hektare lahan sawah terendam dan 385 hektare mengalami kerusakan parah.
Di Sumatera Utara, wilayah paling parah terdampak termasuk Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Humbang Hasundutan, dimana evakuasi korban ditemukan terkubur longsor di lereng gunung.
“Korban jiwa untuk Sumut 283 jiwa yang meninggal dunia, kemudian 169 yang masih hilang,” ujar Kepala BNPB Letjen TNI (Ret) Suharyanto dalam jumpa pers daring pada Senin (1/12/2025).
Di Aceh, banjir melanda 16 kabupaten/kota seperti Pidie Jaya, Gayo Lues, dan Lhokseumawe. Gubernur Aceh Muzakir Manaf menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi mulai 28 November hingga 11 Desember 2025. Sementara di Sumbar, Kabupaten Agam dan Kota Padang paling terpukul, dengan jebolnya bendungan Gunung Nago yang memperburuk banjir bandang.
Penyebab utama bencana ini, menurut Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto, adalah interaksi bibit siklon tropis 95B dengan pola pertemuan arus angin di Sumatera, ditambah Indeks Dipole Mode Osilasi (DMO) bernilai negatif yang meningkatkan curah hujan ekstrem di atas 300 mm per hari.
“Wilayah yang terdampak termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumbar, dengan potensi hujan lebat hingga sangat lebat disertai kilat dan angin kencang hingga 28 November 2025,” jelas Guswanto dalam pernyataan resmi BMKG pada Kamis (27/11/2025).

Faktor lain yang disoroti Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria adalah degradasi lingkungan akibat deforestasi dan pembangunan tak terkendali, yang mengurangi daya serap air tanah.
Pemerintah pusat telah mengerahkan upaya skala nasional untuk penanganan darurat. Presiden Prabowo Subianto, dalam pernyataan pada Senin (1/12/2025), menegaskan komitmen penuh: “Kami akan melakukan segala upaya untuk mengatasi kesulitan yang dialami pascabencana banjir di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.”
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno memimpin Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana di Bandara Silangit, Tapanuli Utara, pada Minggu (30/11/2025), dengan arahan untuk mempercepat evakuasi, logistik, dan pemulihan infrastruktur.
“Mengerahkan evakuasi, logistik, perlindungan pengungsi, tenaga kesehatan, serta memulihkan infrastruktur, transportasi, dan komunikasi,” ujar Pratikno.
Kepala Basarnas Marsekal Madya Mohammad Syafii melaporkan bahwa tim SAR telah mengevakuasi 33.620 orang terdampak, meski menghadapi tantangan kelelahan personel dan akses terisolasi.
BNPB menempatkan Starlink untuk komunikasi darurat, sementara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyalurkan dana darurat untuk 1.009 satuan pendidikan rusak.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menambahkan bahwa penanganan sudah berskala nasional, dengan TNI-Polri dan relawan turun langsung. Provinsi Sumut menetapkan status tanggap darurat hingga 10 Desember 2025 di sembilan kabupaten/kota.
Meski hujan mereda di sebagian wilayah per Senin (1/12/2025), BMKG memperingatkan potensi cuaca ekstrem lanjutan di Sumut hingga Rabu (3/12/2025), dengan hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang mulai pukul 22.30 WIB pada 1 Desember hingga 01.30 WIB keesokan harinya.
Operasi modifikasi cuaca oleh BNPB dan monitoring harian oleh BMKG terus dilakukan untuk mencegah bencana susulan. Hingga kini, 1,5 juta jiwa terdampak secara keseluruhan, dengan upaya pemulihan infrastruktur dan distribusi bantuan logistik menjadi prioritas utama.
Pemerintah daerah dan pusat berkomitmen mempercepat rekonstruksi, sambil menekankan mitigasi jangka panjang seperti pemetaan rawan banjir dan restorasi lingkungan.


