ZONAUTARA.com – Di balik layar layanan belanja online yang familiar, kecerdasan buatan (AI) kini bekerja secara otomatis sebagai asisten belanja, menangani segalanya dari pencarian produk hingga pembelian tanpa campur tangan manusia.
Fitur ini, yang dikenal sebagai “AI agents” atau agen otonom, memungkinkan sistem AI berinteraksi langsung dengan platform ritel, membandingkan harga, memantau stok, dan bahkan menyelesaikan transaksi berdasarkan preferensi pengguna.
Dirangkum dari berbagai sumber seperti The New York Times, Reuters, Financial Times, dan The Guardian, tren ini telah diadopsi oleh raksasa teknologi dan ritel, dengan potensi mendorong pertumbuhan penjualan hingga 4% secara tahunan. Namun, di tengah kemudahan yang ditawarkan, muncul risiko privasi dan ketergantungan yang perlu diwaspadai.
Beberapa perusahaan AI terkemuka telah mengembangkan fitur agen otonom yang beroperasi secara behind-the-scenes, memproses tugas belanja tanpa visibilitas langsung bagi pengguna. OpenAI, pencipta ChatGPT, meluncurkan fitur checkout instan pada September 2025, memungkinkan pembelian langsung dari toko seperti Etsy tanpa meninggalkan obrolan AI. Fitur ini, yang disebut “Operator” di Inggris, dapat menavigasi browser web untuk memesan barang, termasuk groceries, seperti dilaporkan The Guardian.
Google mengikuti dengan asisten AI yang mampu menelepon toko lokal untuk memeriksa stok barang, sementara Perplexity AI memperkenalkan “Comet” browser pada November 2025, yang mengotomatisasi perbandingan harga dan pembelian lintas platform.
Namun, inovasi ini memicu kontroversi: Amazon menggugat Perplexity atas dugaan akses tersembunyi ke akun pelanggan, menyoroti ketegangan kompetitif di sektor ini. Anthropic, melalui chatbot Claude, juga menambahkan kemampuan “computer use” untuk tugas otonom seperti pengelolaan keranjang belanja, sementara startup seperti Lily AI fokus pada pencocokan pencarian kolokial untuk ritel fashion.
Financial Times mencatat bahwa OpenAI, Perplexity, dan Google memimpin “rise of AI shopping agents,” yang dirancang untuk mentransformasi e-commerce dengan otonomi penuh. Verifikasi dari Reuters mengonfirmasi bahwa fitur-fitur ini telah terintegrasi dengan platform seperti Shopify, memungkinkan akses data real-time dari jutaan pedagang.
Ritel yang sudah mengimplementasikan
Ritel besar di AS telah mengadopsi AI ini untuk meningkatkan efisiensi, dengan implementasi yang berfokus pada chatbot dan agen otomatis. Walmart meluncurkan “super agents” AI pada Juli 2025, yang mengelola penemuan produk, pengembalian barang, dan pengiriman cepat, bertujuan menjadikan penjualan online 50% dari total omset dalam lima tahun.
Target, Ralph Lauren, dan Amazon mengungkap chatbot stylist percakapan pada 2025, sementara Amazon’s Rufus dan “Buy For Me” memungkinkan rekomendasi otomatis dan pembelian lintas merek.
Instacart memperluas layanan white-label-nya dengan chatbot AI untuk rekomendasi produk, diuji coba di Sprouts Farmers Market dan Publix Super Markets sejak November 2025. Reuters melaporkan bahwa ritel seperti R+Co membeli iklan berbasis AI di Alexa untuk menangkap pertanyaan pelanggan secara otomatis. Implementasi ini dikonfirmasi oleh The New York Times, yang mencatat situs web khusus AI-scraper yang dibuat ritel untuk dibaca hanya oleh agen AI, bukan manusia.
| Perusahaan Ritel | Fitur AI yang Diimplementasikan | Tanggal Peluncuran | Sumber Verifikasi |
|---|---|---|---|
| Walmart | Super agents untuk pengelolaan keranjang dan pengiriman | Juli 2025 | Reuters |
| Target & Ralph Lauren | Chatbot stylist percakapan otomatis | 2025 | NYT |
| Amazon | Rufus & Buy For Me untuk pembelian lintas merek | November 2025 | Reuters |
| Instacart (untuk Sprouts & Publix) | Chatbot rekomendasi white-label | November 2025 | Bloomberg |
AI belanja otomatis diprediksi mendorong pertumbuhan signifikan. Laporan Salesforce yang dilaporkan Reuters menunjukkan peningkatan penjualan online AS sebesar 4% selama liburan 2024, didorong oleh chatbot AI yang memfasilitasi pembelian dan pengembalian.
Financial Times memperkirakan agen AI akan “mengubah e-commerce” dengan meningkatkan konversi hingga 50% melalui personalisasi. Studi VML 2025 menemukan 73% konsumen menggunakan AI dalam perjalanan belanja, yang dapat mendorong loyalitas jangka panjang dan ekspansi pasar bagi ritel.
Namun, The New York Times memperingatkan bahwa dampaknya bervariasi. Sementara sektor konsumen mendapat dorongan, ketidakpastian ekonomi seperti tarif perdagangan dapat menghambat.

Risiko mengintai
Bagi pengguna, AI ini menawarkan kemudahan luar biasa: proses belanja menjadi “personalized, efficient, and cost-effective,” kata Lori Schafer dari Digital Wave Technology di The New York Times.
Pengguna dapat menghemat waktu dengan agen yang memantau harga turun dan membeli otomatis, sementara rekomendasi berbasis data mengurangi kebingungan pilihan. Studi FT menambahkan bahwa AI memungkinkan “hyper-personalised segmentation,” membuat belanja terasa intuitif.
Namun, risiko tak terelakkan. Privasi menjadi isu utama, dengan Amazon menuduh Perplexity mengakses data akun secara tersembunyi.
Tingkat pengembalian barang mencapai 28% pada 2024, lebih tinggi dari 20% tahun sebelumnya, yang dapat menggerus margin ritel dan frustrasi konsumen, menurut Salesforce.
Studi global di FT juga memperingatkan penyalahgunaan kebijakan dan penipuan, di mana agen AI “mengaburkan akuntabilitas.” Selain itu, ketergantungan pada AI berisiko kesalahan, seperti pesanan groceries yang tak sesuai harapan, seperti diilustrasikan The Guardian.
Bagaimana kedepan?
Menuju 2030, AI agen belanja diprediksi menjadi norma, dengan Financial Times meramalkan “fundamental change” dalam perjalanan konsumen dari penemuan hingga pembelian.
The New York Times memproyeksikan disrupsi ekonomi global, di mana AI memperkuat kemampuan kognitif manusia dan mendorong inovasi di sektor konsumen. Namun, Reuters memperingatkan bahwa lalu lintas dari AI masih kecil (kurang dari 1% saat ini), tapi akan tumbuh seiring Gen Z yang lebih berpengaruh secara finansial.
Tantangan utama adalah regulasi privasi dan etika, dengan Walmart dan Amazon berinvestasi miliaran untuk memitigasi risiko sambil mengejar target 50% penjualan AI-driven.
Secara keseluruhan, prediksi optimis akan ada pertumbuhan 10-20% tahunan di e-commerce, tapi hanya jika ritel menyeimbangkan inovasi dengan kepercayaan konsumen.


