ZONAUTARA.com – Sebuah teriakan dari Awan Mokoagow menandakan ritual pengobatan motayok segera dimulai. Saat gendang dan gong ditabuh, Awan yang merupakan seorang bolian (perempuan pemimpin ritual) berusia 59 tahun itu, mulai menari menjemput petuah dari leluhur.
Geraknya seirama musik tradisional yang dimainkan. Saat tempo berubah pelan, Awan pun demikian. Begitu pula sebaliknya, saat tempo berubah cepat dengan ketukan padat, Awan terlihat begitu energik.
Di kedua tangannya, tergenggam kain segi empat yang dipasangi lonceng kecil di salah satu sudutnya sehingga menimbulkan suara gemerincing dalam setiap hentakan.
Saat melakukan ritual, bolian dipercaya berada dalam kondisi trance, dan menjadi mediator penghubung antara yang wujud dan yang gaib. Awan sendiri telah memimpin ritual motayok sejak tahun 1987.
Alunan musik tradisional berpadu dengan lantunan tenden–nyanyian syair-syair tua yang dilantunkan bolian. Irama tersebut menciptakan suasana magis, seolah membuka ruang perjumpaan antara manusia dan leluhur.
Ritual pengobatan motayok berlangsung di rumah adat motayok, Desa Bilalang Baru, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, Selasa (2/12/2025) malam.
Ritual itu terasa spesial sebab Norma Pobela asal Desa Tudu Aog Baru yang menjadi pasien juga merupakan seorang bolian. Menurut diagnosa medis, ia mengidap beberapa penyakit, termasuk gondok yang menyebabkannya sulit untuk makan.
Setelah sempat dirawat dengan pengobatan modern, Norma memutuskan untuk menempuh pengobatan alternatif motayok. Ia pun mengaku, ada perubahan positif yang dirasakannya.
“Sejak diperiksa bolian kurang lebih dua minggu lalu, ada perubahan. Tidak susah lagi untuk makan,” ucapnya setelah sesi motayok malam itu selesai.

Eksistensi motayok
Awan Mokoagow tak pernah memilih menjadi bolian, akan tetapi takdir itulah yang menemukannya. Berawal dari sakit berkepanjangan, Awan lalu diobati dengan ritual motayok. Lantas setelah sembuh, ia “terpilih” untuk menjadi bolian.
Motayok di Bilalang Baru pun masih rutin dilakukan hingga kini. Rumah adat motayok yang merupakan bantuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sepuluh tahun silam tak pernah benar-benar sepi. Dalam sebulan, rumah adat motayok biasanya kedatangan empat sampai lima orang untuk berobat. Pasiennya bisa siapa saja dan dari mana saja.
Pasien yang datang tidak hanya berasal dari daerah Bilalang dan sekitarnya. Ada pula yang rela menempuh jarak puluhan bahkan ratusan kilometer untuk tiba di rumah adat motayok.
“Seingat saya, yang paling jauh dari wilayah Maelang (Kabupaten Bolmong), Ratatotok (Kabupaten Minahasa Tenggara), Onggunoi (Kabupaten Bolsel). Selebihnya dari wilayah Bilalang dan sekitarnya, seperti Passi dan Bintau,” ucap Awan, sembari menjelaskan sebelum rumah adat motayok dibangun, ia melakukan ritual pengobatan di rumahnya yang berdampingan dengan rumah adat motayok.
Hal yang sama juga diutarakan Norma Pobela yang hingga kini masih aktif memimpin ritual motayok di wilayah Tudu Aog. Ia telah menjadi bolian sejak tahun 1993.
“Ada dari Dumara, Passi, Lobong, dan Bilalang. Ada pula yang jauh-jauh dari Bolaang Mongondow Timur (Boltim),” tambahnya.

Dahulu motayok dapat dijumpai di berbagai tempat di wilayah Bolmong, namun kini hanya bisa ditemui di wilayah Kecamatan Bilalang. Berdasarkan penuturan berbagai pihak, di wilayah tersebut, selain Awan dan Norma, masih terdapat beberapa bolian yang aktif melakukan ritual pengobatan.
Uwin Mokodongan selaku pegiat sejarah Bolmong menuturkan, sesuai catatan sejarah dari Wilken dan Schwarz, motayok pernah ditemui di beberapa desa di Bolmong, seperti Bantik, Solimandungan, Lolak, Kopandakan, serta Passi dan sekitarnya.
“Dulu di awal 1980-an, masih ada bolian di Desa Passi. Namun saat itu mereka tidak lagi melakukan ritual di desa melainkan di kawasan perkebunan Mobondu yang sudah masuk wilayah Desa Bintau,” ungkap Uwin yang juga merupakan Sekretaris Desa Passi II.
Namun berbagai perubahan sosial yang terjadi di masyarakat mengakibatkan eksistensi motayok saban hari kian pudar.
“Saat ini yang lestari tinggal di wilayah Bilalang,” ucapnya.
Peran dan pandangan generasi muda
Dalam wawancara yang dilakukan Zonautara.com dengan generasi milenial dan generasi Z di wilayah Kotamobagu dan sekitarnya, ditemukan beragam pandangan terhadap motayok. Ada yang mengenal motayok namun tak tahu prosesinya secara mendalam, dan ada pula yang bahkan belum pernah mendengar tentang motayok.
Nayla (18), warga Mogolaing, mengaku belum pernah mendengar tentang motayok. Ia bahkan tak tahu sama sekali tentang ritual pengobatan tersebut. Senada, Ebi Mokoginta (29) warga Upai, juga mengaku tak tahu menahu tentang motayok.
Hal berbeda diutarakan Gyo (23), warga Bilalang II dan Asrul (28), warga Moyongkota. Keduanya mengaku pernah mendengar motayok meski tak begitu mengenal ritual tersebut.
“Saya hanya pernah mendengarnya dari cerita nenek yang pernah ikut pengobatan motayok,” ucap Gyo, Selasa (9/12/2025).
“Saya hanya pernah mendengar motayok dari cerita orang tua. Secara filosofis, saya tak begitu tahu,” terang Asrul.
Jamaludin (28), warga Pontodon juga tak jauh berbeda. Ia mengenal motayok hanya dari cerita keluarga. “Saya tau motayok itu adalah ritual pengobatan, tapi cara pengobatannya saya kurang tahu,” ucapnya.
Meski tidak merepresentasikan seluruh pandangan generasi muda di Kotamobagu dan sekitarnya, namun wawancara di atas menggambarkan adanya kecenderungan ketimpangan pengetahuan di kalangan generasi muda tentang motayok.
Dikutip dari laman Kementerian Sekretariat Negara RI, generasi muda termasuk generasi Z memiliki peran krusial dalam pelestarian budaya lokal. Salah satu potensi yang dapat dimaksimalkan adalah pemanfaatan teknologi untuk mempromosikan budaya lokal.
Sebagai generasi digital, generasi Z dapat menggunakan media sosial untuk memperkenalkan budaya lokal ke khalayak yang lebih luas. Membuat konten edukatif di TikTok atau YouTube, berbagi cerita budaya di Instagram, serta mengembangkan aplikasi atau website bertema budaya Indonesia dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya.
Sejarawan Dr. Anhar Gonggong menekankan bahwa kreativitas dalam mengemas budaya lokal sangat penting agar tetap menarik dan relevan di era digital.
Dengan begitu, generasi Z dipandang memiliki peran strategis dalam pelestarian budaya lokal di tengah arus budaya asing. Dengan kreativitas, inovasi, dan pemanfaatan teknologi, generasi Z dinilai mampu menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan relevan.

Tantangan
Kesenjangan pengetahuan ini turut berkelindan dengan tantangan yang dihadapi praktik pengobatan tradisional seperti motayok.
Peneliti Pusat Riset Agama dan Kepercayaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Joko Tri Haryanto menyebut, setidaknya ada dua tantangan yang dihadapi pengobatan tradisional seperti motayok. Tantangan pertama berkaitan dengan perkembangan dunia kesehatan yang semakin pesat. Situasi tersebut memungkinkan masyarakat memperoleh pengobatan dengan mudah dan cepat.
“Orang sekarang cenderung ingin mendapatkan kesehatan secara instan. Saat sakit, paling mudah, ya ke dokter (atau) ke rumah sakit,” ucapnya saat ditemui Zonautara.com, Selasa (2/12/2025).
Tantangan kedua, menurutnya, berkaitan dengan sudut pandang keagamaan dalam melihat ritual pengobatan tradisional seperti motayok.
“Meskipun dalam agama, saya kira terbentang tafsir yang sangat luas, tetapi tentu ada kelompok-kelompok di dalam agama yang melihat praktik-praktik ini sebagai penyimpangan,” tambahnya.
Pelarangan praktik motayok sendiri bukan tak pernah terjadi. Awan berkisah, berpuluh tahun lalu, Sangadi (Kepala Desa) sempat melarang para bolian melakukan motayok di area permukiman. Mereka hanya bisa melakukan ritual pengobatan di wilayah perkebunan.
Larangan tersebut dibatalkan selang beberapa waktu kemudian ketika jumlah orang sakit di wilayah permukiman bertambah banyak. Untuk menangani hal tersebut, para bolian diperbolehkan kembali menggelar motayok di wilayah permukiman.
“Para bolian dikumpulkan untuk melakukan pengobatan di desa,” kenangnya.

Strategi dan harapan pelestarian
Joko yang saat ini sedang melakukan penelitian tentang ritual pengobatan di wilayah Wallacea Sulut bertajuk Riset Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) mengungkapkan, pengobatan tradisional masih dapat dijumpai di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya di Dayak.
“Mereka di sana juga ada praktik pengobatan tradisional termasuk melalui ritual semacam tradisi yang ada di Bolaang Mongondow. Sebenarnya ini menarik, karena pelaku (pemimpin ritual) di Dayak itu balian, sedangkan di sini (Bolmong) disebut bolian,” terangnya.
Joko pun mengungkapkan beberapa strategi yang dapat digunakan dalam upaya dalam melestarikan ritual pengobatan motayok. Menurutnya pelestarian tradisi harus berangkat dari komitmen masyarakat. Selanjutnya, peran akademisi dan pemerintah pun tak kalah pentingnya dalam mengintervensi pelestarian kebudayaan.
“Peran aktif para akademisi untuk memperkenalkan tradisi kepada masyarakat dan memberikan tafsir-tafsir yang memungkinkan berbagai kalangan bisa menerima. Kemudian, peran pemerintah untuk ikut melestarikan karena ini menjadi bagian penting dari kebudayaan nasional,” ungkapnya.
Jamaludin yang sebelumnya mengaku hanya mengenal motayok dari cerita keluarga, juga menyampaikan harapannya.
Meski ia berpandangan motayok tak lagi relevan dalam situasi ketika pengobatan modern telah berkembang pesat namun ia berharap motayok tetap dilestarikan sebagai sebuah kekayaan budaya yang ada di Bolmong.
“Harus dikembangkan lagi karena itu merupakan salah satu tradisi pengobatan (di Bolmong) tempo dulu,” ujarnya.
Hal serupa juga disampaikan Uwin Mokodongan. Ia berpandangan, motayok merupakan bagian dari kekayaan kebudayaan yang ada di Bolmong. Sehingga pelestarian motayok memiliki nilai keharusan.
“Karena bagaimanapun, tradisi motayok ini merupakan bagian dari kekayaan pemikiran, kekayaan pengetahuan dan kekayaan konsep milik orang Mongondow,” pungkasnya.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial, motayok kini berdiri di persimpangan: antara ingatan leluhur dan masa depan kebudayaan Mongondow.


