Konflik Agraria Dumoga: Putusan sama, tanah sama, nasib berbeda

Sebagian warga menang hingga Mahkamah Agung, sebagian lain kalah karena alasan administratif, meski tanah yang disengketakan berada di bentang wilayah yang sama.

Editor: Redaktur
Pintu air di area persawahan dataran Dumoga, Bolaang Mongondow. (Foto: Zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

ZONAUTARA.com– Hamparan sawah di Dataran Dumoga kerap dipuji sebagai simbol keberhasilan pembangunan pertanian di Sulawesi Utara. Ribuan hektare padi terbentang rapi, produksi berasnya menopang kebutuhan daerah, bahkan menjadi kebanggaan nasional. Dari kejauhan, Dumoga terlihat seperti kisah sukses yang nyaris tanpa cela.

Namun ada satu pertanyaan mendasar yang jarang diajukan secara serius: tanah itu milik siapa sebelum negara datang membawa program transmigrasi? Pertanyaan ini tidak sederhana, dan jawabannya menyimpan sejarah panjang yang selama puluhan tahun tertimbun di balik narasi kemakmuran.

Jauh sebelum Dumoga ditetapkan sebagai lokasi transmigrasi, masyarakat adat Mongondow telah membuka dan mengolah lahan melalui sistem adat yang ketat. Tanah-tanah itu diwariskan lintas generasi, dicatat, dipajaki, dan diakui dalam struktur sosial setempat. Bagi mereka, tanah bukan sekadar aset ekonomi, melainkan bagian dari identitas dan keberlanjutan hidup.

Masalah muncul ketika negara menetapkan wilayah itu sebagai “lahan kosong”. Tanpa persetujuan pemilik adat dan tanpa ganti rugi yang adil, ribuan hektare tanah dialihkan untuk kepentingan program nasional. Dari sinilah sengketa agraria Dumoga bermula, sengketa yang kelak menyeret ribuan ahli waris ke pengadilan selama belasan bahkan puluhan tahun.

Sebagian warga menang hingga Mahkamah Agung, sebagian lain kalah karena alasan administratif, meski tanah yang disengketakan berada di bentang wilayah yang sama. Ironi ini menelanjangi wajah keadilan agraria: tidak selalu soal benar atau salah, tetapi soal siapa yang sanggup bertahan paling lama di labirin hukum.




Baca laporan mendalam kami berjudul “MEMBACA JEJAK TANAH LELUHUR YANG DIREBUT ATAS NAMA NEGARA” tayang di Teras.id/Zonautara-com sebagai konten VIP.

dumoga
Screen capture halaman depan Teras.id

Untuk membaca kisah lengkap di balik kemakmuran Dumoga, Anda harus mendaftar dan berlangganan. Ini bukan sekadar cerita sawah dan padi, melainkan tentang tanah, ingatan, dan keadilan yang diperebutkan.

Bekerja sebagai jurnalis lebih dari 20 tahun terakhir. Sebelum mendirikan Zonautara.com bekerja selama 8 tahun di Kompas.com. Selain menjadi jurnalis juga menjadi trainer untuk digital security, literasi digital, cek fakta dan trainer jurnalistik.
1 Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com