Bukan pilihan kedua: Ketika anak panti berani memilih pendidikan di SMK

Sekolah kejuruan fokus menyiapkan siswa agar bisa langsung bekerja.
pendidikan
Ilustrasi anak SMK (digenerate dengan AI)
pendidikan

zonaX

Bukan pilihan kedua: Ketika anak panti berani memilih pendidikan di SMK

Sekolah kejuruan fokus menyiapkan siswa agar bisa langsung bekerja.

ZONAUTARA.com – Di sebuah sudut Panti Asuhan Pononiungan Mongkonai, Kota Kotamobagu, Dina Modeong tumbuh dengan kesadaran yang berbeda dari kebanyakan remaja seusianya. Sejak berusia lima tahun, ia telah tinggal di panti. Kini, setelah kurang lebih 13 tahun menetap di sana, Dina memahami satu hal, masa depannya harus diperjuangkan lebih awal.

Ketika banyak teman sebayanya memilih Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan orientasi melanjutkan ke perguruan tinggi, Dina justru mengambil jalur berbeda. Ia memilih Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), tepatnya di SMK Cokroaminoto Kotamobagu, jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). 

Bagi Dina, keputusan itu bukan tanpa pertimbangan.

“Sekolah kejuruan itu fokus menyiapkan siswa supaya siap langsung bekerja. Jadi bukan hanya teori, tapi juga banyak praktik,” ujarnya ketika dihubungi Zonautara.com Jumat (6/2/2025).

Ditengah anggapan bahwa SMA adalah jalur “aman” untuk masa depan akademik, SMK sering dipandang sebagai pilihan alternatif. Namun bagi Dina, SMK adalah pilihan realistis.




Dengan latar belakangnya ia menyadari bahwa setelah lulus nanti kemungkinan besar ia harus segera bekerja. SMK, menurutnya, memberikan bekal keterampilan yang lebih konkret.

“Tujuan siswa setelah lulus bisa langsung bekerja, berwirausaha, atau lanjut ke jenjang lebih tinggi sesuai jurusannya,” jelas siswi kelas XI TKJ B itu.

Ia memilih TKJ bukan sekadar ikut-ikutan. Dunia komputer dan jaringan menarik perhatiannya sejak lama. Di era serba digital, Dina melihat peluang besar di bidang tersebut.

“Saya ingin melatih lebih dalam cara menggunakan komputer dan mencari tahu jaringan-jaringan apa saja yang ada di sekitar saya. Peluang kerja di bidang TKJ cukup luas karena sekarang zaman sudah canggih,” katanya.

Pilihan itu juga dilandasi kesadaran bahwa keterampilan teknologi menjadi kebutuhan di hampir semua sektor pekerjaan.

Selain itu, baginya pilihan pendidikannya tak lepas dari dukungan pengasuh panti. Untuk kebutuhan sehari-hari seperti uang jajan, ia dibantu oleh pengurus panti asuhan. Sementara biaya SPP digratiskan.

Meski begitu, ia tidak menggantungkan sepenuhnya masa depannya pada bantuan orang lain. Ia memiliki harapan yang jelas.

“Harapan saya supaya bisa langsung bekerja. Tapi kalau ada rezeki, saya mau kuliah. Sekolah kejuruan sangat membantu untuk mendapatkan pekerjaan,” ungkapnya.

Disamping itu salah satu guru SMK Cokroaminoto, Donna Berlin, melihat pilihan seperti yang diambil Dina sebagai cerminan kebutuhan daerah. Kotamobagu dikenal sebagai kota jasa yang bertumpu pada sektor pelayanan dan keterampilan.

“Dengan skill yang dibentuk di SMK, siswa memiliki daya tarik tersendiri untuk dunia kerja di daerah,” ujarnya, saat dihubungi pada Selasa (10/2/2026).

Jawaban atas kebutuhan tenaga kerja terampil yang siap pakai. Lulusan tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga kemampuan teknis yang bisa langsung diterapkan.

Namun, Donna juga menyoroti dinamika minat siswa berdasarkan jurusan dan gender. Pada jurusan industri, minat siswi perempuan masih tergolong rendah. Sebaliknya, pada jurusan berbasis teknologi kreatif seperti Desain Komunikasi Visual, mayoritas justru diisi oleh perempuan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pilihan pendidikan tidak hanya dipengaruhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga persepsi sosial tentang bidang pekerjaan.

Di masyarakat, SMA masih sering dianggap sebagai jalur utama menuju kesuksesan, terutama karena membuka peluang lebih besar untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun realitas sosial dan ekonomi tidak selalu memungkinkan semua siswa mengambil jalur tersebut.

SMK menawarkan kepastian keterampilan. Siswa belajar memperbaiki mesin, merancang desain visual, membangun jaringan komputer, hingga menguasai teknik bangunan. Pendidikan tidak berhenti pada teori, tetapi langsung bersentuhan dengan praktik kerja.

pendidikan
Ilustrasi anak SMK (digenerate dengan AI)

Siap bekerja

Senada dengan itu, sebagian siswa dan orang tua, pilihan bersekolah di SMK itu adalah tentang harapan, kemandirian, dan kesiapan menghadapi kerasnya realitas hidup.

Giono Mokoagow, salah satu alumni lulusan SMK Negeri 1 Kotamobagu, masih mengingat betul alasan dirinya memilih jalur kejuruan. Di tengah arus digital yang terus bergerak cepat, ia ingin menjadi bagian dari perubahan itu, bukan hanya penonton.

“Saya memilih SMK karena ingin belajar lebih fokus pada keterampilan dan siap kerja setelah lulus. Saya mengambil jurusan Rekayasa Perangkat Lunak karena tertarik dengan dunia teknologi. Saya ingin bisa membuat aplikasi atau website yang bermanfaat di era digital sekarang” ujarnya, Selasa (10/2/2026).

Bagi Giono, ruang-ruang praktik di sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga laboratorium mimpi. Dari baris kode sederhana hingga proyek pembuatan website, ia menemukan keyakinan bahwa masa depan bisa dibangun dari keterampilan yang diasah sejak bangku sekolah.

Pilihan yang sama juga diyakini Sarjana Mokoagow, orang tua Giono yang melihat SMK sebagai jawaban atas tantangan ekonomi yang dihadapi banyak keluarga saat ini. Baginya, pendidikan bukan sekadar tentang gelar, tetapi tentang bekal hidup.

Menurutnya di tengah kondisi ekonomi orang tua sekarang, SMK bisa menjadi pilihan yang realistis untuk anak-anak

“SMK itu lebih banyak praktik lapangan, bukan hanya teori. Anak-anak dilatih mandiri dan tidak bergantung selamanya kepada orang tua,” ungkapnya.

Sarjana menilai, pendekatan praktik yang diterapkan di SMK memberi ruang bagi siswa untuk memahami dunia kerja sejak dini. 

“Mereka tidak hanya belajar konsep, tetapi juga mengasah keterampilan yang bisa langsung digunakan,” tutupnya.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com