ZONAUTARA.com — Riset terbaru yang dipaparkan pada 20 Februari 2026 di Jakarta oleh Research Manager BBC Media Action, Rosiana Eko, menyoroti meluasnya adopsi kecerdasan artifisial (AI) oleh jurnalis di Indonesia dalam pekerjaan sehari-hari mereka. Temuan studi ini secara jelas menunjukkan bahwa penggunaan AI sudah menjadi bagian integral, namun di sisi lain, tata kelola dan literasi terkait teknologi ini masih belum sepenuhnya matang.
Studi ini mengungkap bagaimana jurnalis Indonesia memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas dan menemukan peluang baru, meskipun tantangan etika yang signifikan juga muncul seiring dengan interaksi yang semakin personal dengan teknologi.
Berbagai platform dan fungsi AI telah diadopsi, namun masih ada kekhawatiran mengenai verifikasi fakta dan potensi disinformasi, mendorong kebutuhan mendesak akan kebijakan dan peningkatan literasi di seluruh sektor media. Interaksi jurnalis Indonesia dengan AI bahkan telah berkembang menjadi sangat personal.
Banyak yang menggunakan sapaan akrab seperti “Bro” dalam prompt mereka, menunjukkan bahwa komunikasi dengan AI tidak lagi kaku, melainkan menyerupai percakapan sehari-hari. Mayoritas output AI yang dihasilkan (sekitar 94 persen) masih berbentuk teks, sementara sisanya berupa grafis, foto, dan konten multimedia.
Penggunaan dalam skala yang lebih kecil juga tercatat, di mana satu persen responden memanfaatkan AI untuk koding, satu persen lainnya untuk menyusun proposal bisnis klien, dan kurang dari satu persen untuk pembuatan musik atau jingle iklan.
ChatGPT menjadi platform AI yang paling banyak digunakan dengan dominasi 86 persen, diikuti oleh Gemini (63 persen), Deepseek (12 persen), Copilot (9 persen), dan Notebook LM (6 persen). Selain itu, berbagai aplikasi AI spesifik juga dimanfaatkan, seperti Canva dan CapCut untuk desain dan video, Adobe Podcast untuk siniar, SUNO untuk musik, Notion AI untuk ringkasan, serta layanan transkripsi dan penerjemahan seperti DeepL dan Transkrip.id.
Secara fungsional, AI paling sering dimanfaatkan untuk ‘idea generation’. Jurnalis menggunakannya untuk menemukan topik liputan, menentukan sudut pandang berita, atau mengembangkan berbagai alternatif ‘angle’. Sementara itu, editor seringkali mengandalkan AI untuk menyusun ulang struktur kalimat, memparafrasekan naskah, mengubah gaya bahasa, misalnya menjadi gaya Gen Z, bahkan untuk membuat judul yang lebih ramah mesin pencari (SEO).
Penggunaan AI bervariasi berdasarkan tingkat keahlian; jurnalis muda pada level dasar umumnya memanfaatkan AI untuk pencarian ide, penerjemahan, dan transkripsi. Di sisi lain, jurnalis level menengah hingga lanjut menggunakan AI untuk penyuntingan yang lebih kompleks dan analisis digital, bahkan untuk menganalisis ‘engagement’ pembaca dan demografi audiens dari tautan berita tertentu.
Salah satu praktik yang menimbulkan diskusi etis adalah penggunaan ekstensi peramban untuk transkripsi otomatis konten YouTube menjadi teks, yang kemudian diolah menjadi berita naratif dengan bantuan AI. Meskipun proses ini cepat dan efisien, pertanyaan mendalam muncul terkait verifikasi fakta dan orisinalitas pelaporan.
Namun, ketika berbicara tentang ‘fact-checking’, sebagian besar jurnalis justru enggan mengandalkan AI. Mereka berpendapat bahwa hasil AI seringkali mengandung “halusinasi” dan tingkat kepercayaannya rendah. Untuk verifikasi fakta, preferensi mereka jatuh pada penggunaan Google Reverse Image atau menghubungi langsung narasumber di lapangan.
Secara umum, 74 persen jurnalis melihat AI sebagai peluang, meskipun 45 persen lainnya menganggapnya sebagai ancaman. Lebih dari 50 persen responden juga menilai AI memberikan dampak positif pada produktivitas dan efektivitas kerja. Contohnya, seorang editor yang sebelumnya hanya mampu menyunting 25 artikel per hari, kini dengan bantuan AI bisa menyunting lebih dari 40 hingga 60 artikel, yang berkontribusi pada peningkatan produktivitas, pengurangan jam lembur, dan perbaikan kualitas hidup.
Kendati demikian, sekitar 30 persen responden mengidentifikasi dampak negatif AI, seperti potensi kemalasan jurnalis, analisis yang kurang mendalam, peningkatan risiko disinformasi, serta ketergantungan berlebihan yang dapat mengikis kepercayaan publik. Sementara itu, 15 persen lainnya memilih sikap netral, mengikuti kebijakan organisasi masing-masing.
Terkait penyedia layanan, 47 persen jurnalis menggunakan AI dari pihak eksternal, namun menariknya, 16 persen media di Indonesia telah mengembangkan sistem AI internal. Organisasi dengan AI internal cenderung menyediakan pelatihan dan aturan yang jelas. Sebaliknya, pengguna platform eksternal seperti ChatGPT seringkali belajar secara otodidak tanpa pelatihan yang memadai atau kebijakan perusahaan yang tegas.
Salah satu wawancara mengungkap pengakuan jurnalis mengenai penggunaan AI dalam tulisannya, namun editor tidak menyertakan ‘disclaimer’ saat berita diunggah. Praktik ini kontras dengan media cetak yang lebih disiplin dalam mencantumkan keterangan penggunaan AI.
Secara keseluruhan, BBC Media Action menyimpulkan bahwa adopsi AI di Indonesia berada dalam fase transisi. Mayoritas jurnalis menerima dan memanfaatkan teknologi ini, namun masih menghadapi tantangan terkait kepercayaan publik dan kepatuhan etis. Kondisi ini mendesak adanya kerja sama lintas sektor untuk merumuskan kebijakan kolektif yang mencakup media nasional maupun daerah.
Transparansi penggunaan AI, penerapan ‘disclaimer’ yang konsisten, serta peningkatan literasi AI di kalangan jurnalis menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Rosiana Eko menegaskan, “AI seharusnya memperkuat, bukan menggantikan kerja jurnalistik.” Ini menjadi tantangan berikutnya bagi ruang redaksi di Indonesia, yaitu bagaimana menjaga integritas sembari terus beradaptasi dengan teknologi.
Liputan6.com dan grup Kapanlagi Youniverse telah mengadopsi AI selama dua tahun, bahkan sejak awal telah menyusun pedoman penggunaan kecerdasan artifisial untuk redaksi. Redaktur Eksekutif Liputan6.com, Raden Trimutia Hatta, menjelaskan, “Selain menjadi panduan newsroom, juga sebagai guide tim IT untuk membuat AI tools yang dibutuhkan redaksi, dan tidak keluar dari sisi jurnalistiknya.”
Tim redaksi mereka memanfaatkan AI untuk ‘idea generation’ demi jurnalisme berkualitas dan peningkatan produktivitas, sehingga produksi berita dan trafik tetap terjaga, sementara jurnalis memiliki lebih banyak waktu untuk ide kreatif, termasuk liputan investigatif.
Sementara itu, Direktur Seputarpapua, Misbah Latuapo, mengungkapkan bahwa medianya menggunakan AI hingga 50 persen, dengan 50 persen lainnya tetap berupa karya orisinal. Editor di Seputarpapua memanfaatkan teknologi AI internal bernama Mas AI untuk menghasilkan ‘breaking news’ dengan cepat dan akurat. Misbah Latuapo menambahkan, “Artinya, secara struktur penulisan jurnalistiknya masuk, dan datanya akurat.”
Adopsi AI di media Inggris, menurut Senior News Editor AI BBC News, Olle Zachrison, menunjukkan banyak kesamaan dengan tren global dalam mendukung kerja jurnalistik. Ia menyatakan, “Implementasinya tidak hanya menyasar efisiensi alur kerja dan peningkatan produktivitas, tetapi juga eksplorasi format dan pendekatan baru.”
BBC sendiri memiliki ‘news AI plan’ dengan empat fokus utama: meningkatkan produktivitas, memformat ulang konten berita, memperkuat praktik jurnalistik, dan mengembangkan inovasi pengalaman pengguna.
Di sisi lain, dosen RMIT University, Arsisto Ambyo, mengangkat pertanyaan mendasar tentang penggunaan AI: “Siapa yang diuntungkan?” Ia menyoroti bahwa di tengah efisiensi berbasis teknologi, banyak jurnalis justru kehilangan pekerjaan. Hal ini memicu refleksi ulang mengenai perbedaan antara sekadar aktivitas penerbitan dan praktik jurnalisme, di mana produktivitas tinggi belum tentu sejalan dengan kualitas.
Dalam konteks global yang diwarnai konflik kemanusiaan, rasisme, dan membanjirnya misinformasi, media dituntut untuk merefleksikan kembali perannya. Tantangan bukan hanya adaptasi teknologi, melainkan juga memerangi disinformasi dan menjaga integritas informasi publik. Optimisme terhadap AI perlu diimbangi dengan kebanggaan akan tradisi investigasi yang tajam dan jurnalisme yang bermakna.
Menjawab kebutuhan akan platform yang menjembatani riset global, keahlian internasional, dan praktik media lokal, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) berkolaborasi dengan BBC Media Action melalui proyek Public Interest Media and Healthy Information Environments (PIMHIE). Proyek ini bertujuan menyebarluaskan riset AI yang relevan bagi ruang redaksi dan memfasilitasi dialog tentang keberlanjutan bisnis media di era AI.
Dengan mempertemukan praktisi media, regulator, asosiasi industri, dan pemangku kepentingan teknologi, forum PIMHIE mendorong diskusi informatif, kolaborasi lintas sektor, dan pembelajaran bersama, sekaligus mempererat jejaring serta solidaritas komunitas media Indonesia dalam menghadapi transformasi digital.


