Mengingat kembali erupsi terbesar gunung berapi di Indonesia dalam 50 tahun terakhir

Lebih dari 200 juta meter kubik magma, kolom abu tembus atratosfer: Seberapa besar sebenarnya letusan Gunung Ruang?

Editor: Redaktur
Dua penduduk di Pulau Tagulandang, Kabupaten Kepulauan Sitaro menyaksikan dari kejauhan kawah Gunung Ruang yang mengeluarkan asap vulkanik beberapa hari setelah gunung itu erupsi besar pada April 2024. (Foto: Zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

ZONAUTARA.com– Dua tahun berlalu, tapi satu fakta penting soal erupsi Gunung Ruang April 2024 masih luput dari perhatian publik: letusan itu bukan sekadar bencana lokal di kepulauan kecil di Sulawesi Utara. Para ahli vulkanologi mengkategorikannya sebagai erupsi terbesar yang pernah terjadi di Indonesia dalam setengah abad terakhir, bahkan melampaui Merapi 2010 dan Kelud 2014.

Kolom abu menembus lapisan stratosfer hingga ketinggian 20 kilometer dari permukaan laut. Setengah juta ton gas sulfur dioksida terlepas ke atmosfer. Dalam hitungan jam saja, status gunung melesat dari level terendah ke Level IV Awas, sesuatu yang nyaris tak pernah terjadi pada gunung api lain di Indonesia. Bahkan hujan batu dan pasir menghujani Pulau Tagulandang yang berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat erupsi.

Karakter magma Gunung Ruang ternyata menyimpan keunikan yang membuat para ilmuwan waspada. Kandungan silikon dioksida yang tinggi membuat magmanya sangat kental, mampu menyekap gas vulkanik dalam jumlah besar sebelum meledak dengan kekuatan luar biasa. Diduga terdapat kantong magma tambahan di kedalaman dangkal yang mempercepat suplai material ke permukaan. Para ahli menyebut karakteristik ini mirip dengan Gunung Kelud di Jawa Timur dan gunung api bawah laut di Tonga, dua nama yang dikenal dunia karena letusannya yang tiba-tiba dan sangat eksplosif.

Letaknya di tengah laut menambah satu variabel bahaya yang jarang dibicarakan. Air laut yang merembes ke saluran magma memicu pembentukan uap dalam volume masif, memperkuat tekanan dan ledakan berkali-kali lipat. Kombinasi inilah yang membuat Gunung Ruang bukan hanya ancaman bagi Pulau Ruang, tetapi bagi seluruh wilayah kepulauan di sekitarnya. Catatan sejarah membuktikan: erupsi pada tahun 1871 dengan skala yang jauh lebih kecil saja sudah memicu tsunami yang menewaskan ratusan jiwa.

Kini, dua tahun setelah dentuman dahsyat itu, Gunung Ruang kembali berstatus normal. Sesekali wisatawan lokal datang melihat lanskap vulkanik yang terbentuk. Sebagian warga lama bahkan berkunjung menengok kebun dan kampung halaman mereka meski mereka tahu, pulau itu tak lagi boleh dihuni. Tapi di balik ketenangan itu, apa yang sebenarnya terjadi di perut gunung ini? Dan pelajaran apa yang seharusnya kita tarik dari erupsi terbesar dalam setengah abad terakhir ini?




Zonautara.com menelusuri rekam jejak ilmiah di balik letusan yang mengubah nasib ratusan keluarga selamanya.

Baca laporan lengkapnya di Teras.id. Klik pada link ini.

gunung ruang
Bekerja sebagai jurnalis lebih dari 20 tahun terakhir. Sebelum mendirikan Zonautara.com bekerja selama 8 tahun di Kompas.com. Selain menjadi jurnalis juga menjadi trainer untuk digital security, literasi digital, cek fakta dan trainer jurnalistik.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com