ZONAUTARA.com – Pada April 2024, Gunung Ruang meletus dengan kekuatan yang melampaui erupsi Merapi 2010 dan Kelud 2014. Lebih dari 200 juta meter kubik magma dimuntahkan ke udara. Kolom abu menembus stratosfer hingga 20 kilometer. Dua desa di kaki gunung hancur. Seluruh penduduk Pulau Ruang, 282 keluarga atau 845 jiwa dipaksa meninggalkan kampung halaman mereka untuk selamanya.
Dua tahun kemudian, pemerintah membangun kawasan hunian tetap di Desa Modisi, Bolaang Mongondow Selatan. Proyek bernilai ratusan miliar rupiah ini diklaim sebagai percontohan nasional relokasi kebencanaan. Rumah tahan gempa berdiri rapi. Gereja, sekolah, puskesmas pembantu, bahkan dermaga nelayan semuanya dibangun. Pada Februari 2026, Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus meresmikannya dengan seremonial besar. Pita digunting. Kunci diserahkan. KTP warga resmi berganti.
Tapi ketika tim Zonautara.com mendatangi dan menginap di Huntap Modisi sebulan setelah peresmian, yang ditemukan di lapangan berbicara lain. Dana bantuan hidup yang dijanjikan Rp 600 ribu per bulan sudah tidak diterima warga selama sekitar sembilan bulan. Lahan perkebunan yang dijanjikan untuk setiap keluarga tidak ada. Dari 90 anak usia sekolah, belum satu pun yang belajar tatap muka, meski gedung sekolah sudah berdiri kokoh di depan mata mereka.
Bagaimana bisa proyek semahal ini meninggalkan warganya tanpa jaring pengaman? Siapa yang bertanggung jawab atas dana tunggu hunian yang mandek. Apakah BNPB, Pemkab Sitaro, atau keduanya? Dan mengapa lahan yang diakuisisi dari kepala desa setempat dengan skema “ganti untung” belum pernah dipublikasikan dokumen taksiran harganya?
Untuk memahami bagaimana 845 orang sampai pada titik ini, ceritanya harus ditarik dari malam mencekam 16 April 2024: evakuasi di bawah hujan abu, pengungsian nyaris dua tahun yang menggerus tabungan dan mental, keputusan relokasi yang datang tiba-tiba, hingga pembangunan mega proyek yang berlari kencang meninggalkan kesiapan layanan dasarnya sendiri.
Zonautara.com merekonstruksi seluruh kronologi, dari detik pertama erupsi hingga realitas pahit sebulan setelah peresmian, melalui wawancara langsung dengan warga, guru, tenaga kesehatan, pejabat daerah, hingga penelusuran dokumen proyek dan anggaran. Hasilnya adalah potret lengkap tentang apa yang terjadi ketika sebuah negara memindahkan seluruh populasi sebuah pulau, dan apa yang tertinggal di balik kemegahan bangunan baru.
Baca laporan lengkapnya di Teras.id → melalui link ini.



